Santri Sakti

Sebelum santri masuk tahapan penggodokan Taruna TPU-PGA (Tenaga Penyayang Umat-Pegawai Gaji Akhirat) di Yayasan SPMAA, para mentor senior akan memberikan ujian kenaikan status kesantrian. Setiap santri calon Taruna TPU-PGA harus mampu membuktikan komitmen pengorbanan untuk kaul pelayanan keumatan serta “jati diri filantropi” yang dimiliki selama ia belajar beragama di ma’had Yayasan SPMAA.

Diantara ujian kenaikannya, santri harus pernah mengikuti beragam puasa sunnah yang diteladani Nabi. Mulai puasa Senin-Kamis, puasa Dawud, puasa Rajab, puasa 3 hari dalam sebulan, puasa nisfu Sya’ban, dan puasa 6 hari Syawal. Selain itu harus sudah melaksanakan ikhtiar puasa  lainnya dan tirakat sehat sebagai bekal survival sosial saat tugas berangkat melayani umat.

Ujian kenaikan terberat adalah ketika santri diharuskan berpuasa selama 7 hari penuh. Di dalam proses berpuasa itu, kegiatan pembelajaran terus dilangsungkan secara padat jadwal, mulai dari jam 3 pagi hingga jam 11 malam.  Jeda sedikit hanya waktu sholat 5 fardlu, plus sholat dluha dan tahajjud. Pembelajaran maraton, ketat dan padat ini akan menguras energi fisik serta psikis santri.

Pada puasa hari ketujuh (hari terakhir), calon santri Taruna TPU diminta menuliskan menu makanan yang sangat mereka suka. Para mentor senior lalu menyediakan makanan pesanan tersebut. Saat jelang berbuka, menu yang masih dikemas tersembunyi itu dibaris di depan santri yang bersiap mengikuti prosesi upacara makan bersama.

Ketika adzan maghrib bergema, santri diperintahkan membuka kemasan makanannya. Sebelum makan terlebih dulu harus menemukan kertas pesan di dalamnya. Kemudian santri kudu baca pesan itu, dan harus segera melaksanakan isi perintahnya. Pesan di kertas ini berbunyi “TOLONG BERIKAN MAKANAN YANG PALING KAMU CINTAI INI, KEPADA ORANG YANG PALING KAMU BENCI”

santrisakti1

Saat itulah santri-santri ini akan perang emosi dalam hatinya sendiri. Setelah diuji bersabar mengendali asupan makan, bertahan dalam aktifitas harian yang menguras mental dan kebugaran badan selama 7 hari penuh, kini menghadapi tes tidak biasa dalam hidupnya. 

Sebuah ujian menjadi “santri sakti” yang kudu berani memberikan makanan yang dicintainya kepada orang yang paling dibencinya di asrama. Peserta tes dipaksa menghadapi situasi perang antara dorongan memenuhi kebutuhan jasmani yang harus segera diasupi dan bergelut melawan bisikan kemarahan. 

Sebagai manusia basyar umumnya, dinamika hidup berdampingan di asrama, tentu macam-macam sifat yang dihadapi santri ini. Diantara komunikasi budaya mereka, pasti pernah bersinggungan rasa yang membuat tidak enak bicara dan hati kecewa.

Nah, potensi dendam hati antar santri ini yang harus dikikis habis. Walau proses pelaksanaannya bakal sangat menyakitkan perasaan, memunculkan ketidaknyamanan dan menghadapi keadaan serba kecanggungan.

Di tahapan ujian kesantrian inilah, para santri biasanya akan menangis karena harus memaksakan ketidaksiapan: perang melawan nafsu kebencian, membuang ego keakuan, melepaskan hirarki/senioritas kesantrian, dan mengalahkan setan kesombongan.

Para santri ini harus menihilkan rasa sebagai manusia biasa dan belajar meneladani figur Rasul/Nabi, di mana satu diantaranya adalah membalas kasih cinta kepada orang yang menyakiti hatinya.

Meski beberapa diantara mereka, awalnya menangis karena “terpaksa”, tangisan selanjutnya adalah karena kelegaan jiwa seiring turunnya rahmat taubat. Walau semula menyapa dengan kaku, rikuh dan malu, pada akhirnya mereka bisa kembali berkomunikasi secara cair, akrab dan terbuka.

Pelajaran yang didapat para santri adalah tentang betapa beratnya tuntutan menjadi figur santri yang sabar melayani sekaligus sosok penggembala umat yang harus kuat tirakat.

Inilah esensi sejatinya tirakat puasa menahan ego kemauan, bukan sekadar menahan haus dan lapar –seperti puasa fisik yang sudah jadi menu tradisi sehari-hari para santri. Itulah makna hakikat hadiah lebaran, dimana semua manusia saling bersalaman melepaskan ego perasaan dan mengalahkan nafsu kebencian yang dibisikkan musuh ghoib setan.

Pada tahap ini, santri baru belajar menapaki jalan menuju kawah penggodokan yang penuh ketidaknyamanan dan jauh dari kenikmatan profan. Kemenangan peperangan bagi para “santri sakti”, bukanlah “mengalahkan” sesama manusia, tapi “menyadarkan” ada musuh dalam hatinya. Musuh sejati adalah setan yang ghoib bersemayam di dalam hati dan pikiran semua manusia.

“Santri Sakti” adalah mereka manusia pembelajar agama yang mampu membukukan kemenangan melaui ujian memberikan sesuatu yang dicintai kepada orang yang paling dibenci. Melalui uji kesantrian ini, kita semua yang mengaku manusia beragama harus berani berbagi sepiring makanan persaudaraan, segelas airmata permaafan, dan selangit bumi kasih ridho ampunan Tuhan.

Pembaca, hakikat Isro’ Mi’roj yang kita peringati kemarin, adalah menaikkan derajat iman ke posisi yang lebih berkelas lagi. Maka, bila kemarin kita masih suka makan enak hanya bersama keluarga, cobalah sekarang membagi makanan yang kita cintai kepada orang yang paling kita benci.

Saya harap kita semua bernyali mengikuti tes “Santri Sakti” ini dan kemudian lulus dengan hasil bagus. Semoga kita telah dicatat mencoba menapaktilasi peringatan Isro’ Mi’roj sungguhan.

Sebagaimana kita baca dalam Sirah Nabawiyah, Rasulullaah Muhammad diperjalankan ke orbit mihrab langit, adalah sebagai “rekreasi ruhani” setelah beliau melewati ujian kepedihan yang sangat memprihatinkan.

Isro’ Mi’roj adalah kado kecil dari Allah SWT kepada Rasulullaah sebagai hadiah atas prestasi cintanya kepada manusia dan berani mengalahkan kepentingan pribadi beliau sendiri. Kita semua patut belajar menapaktilasinya, diantara ikhtiarnya  melalui uji nyali menjadi Santri Sakti.

110:1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.

110:2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,

110:3. maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.

76 : 8. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.

76 : 9. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMoto. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s