Menjadi Wali

Apa yang terlintas tanya di benak pembaca saat mengeja judul ini  –mungkin– sama dengan yang saya pikirkan. Yakni bagaimana mungkin kita orang biasa ini bisa menjadi wali yang —secara awam banyak dipahami— merupakan representasi manusia kesayangan Tuhan, laku diri bertabiat suci, ucapannya bermuatan sabda pandita raja, dan kalimat doanya bertuah ijabah serta karomah?

Jawabannya adalah mungkin saja. Tentu saya tidak bermaksud akan mengubah gaya keseharian anda, misalnya ganti penampilan seperti gambaran wali di poster atau buku cerita itu.

Saya juga tidak hendak mengkonversi  Anda menjadi “orang sakti” yang saat wafat kembali ke bumi lalu kuburannya diziarahi. Tidak.

Ijinkan saya terlebih dulu menyederhanakan dan “mengecilkan” makna wali itu.

Sebatas literasi yang saya pahami, makna wali dapat dibahasakan singkat lewat kata “kekasih pengayom, pelindung, pengawal, pengampu, pengelola, penggembala, pengasuh, pembimbing, pengawas dan penasehat.”

Para wali sering diidentifikasi sebagai pribadi yang memiliki kelebihan pengetahuan serta kekayaan keteladanan yang dimanfaatkan untuk melindungi dan melayani umat.

Untuk memudahkan pemahaman kebahasaan, mari kita cari padanan istilahnya. Dalam disiplin tradisi pengasuhan bayi, istilah wali bisa disejajarkan pelayanannya semirip baby sitter.

Dalam pendidikan ke-TNI-an, tupoksi wali menyerupai peran bimbingan asuh (bimsuh), pembinaan mental (bintal) dan binjas (pembinaan jasmani). Di struktur organisasi yayasan, keberadaan wali ini bisa disamakan dengan posisi pembina dan pengawas sekaligus.

Nah, berangkat dari penyederhanaan istilah wali ini, saya ajak kita semua untuk berikhtiar pintar belajar menjalani tupoksi wali. 

Ya, Bismillaah, saya seru kita semua untuk kembali menapaktilasi jejak para wali dalam upaya pelayanan kebangsaan dan pengabdian beliau-beliau itu.

Kita awali lewat aksi-aksi kecil yang riil dan berdampak banyak bagi perubahan positif kebaikan ke depan. Kita coba dengan cara sederhana tanpa melalaikan rutinitas pekerjaan harian.

Di asrama pesantren SPMAA yang kami kelola, setiap santri dimotivasi jadi “Wali Sandal”. Praktiknya, mereka dilatih untuk menempatkan sandal seperti pengaturan parkiran dengan ujung sandal menghadap ke depan.

Caranya setiap memasuki masjid, asrama, atau lokasi-lokasi bertuliskan “SUCI”, mereka harus melepas sandal dengan memutar badan terlebih dulu. Sehingga dengan begitu, sandal akan otomatis tertata menghadap ke depan dan siap digunakan.

Begitupun setiap kali para santri mendapati sandal berserakan di lokasi pembelajaran, mereka harus segera merapikan sandal itu tanpa menunggu disuruh dulu.

Awalnya praktik ini sulit diikuti. Tapi setelah lama, bertahun-tahun dicoba, kini hasilnya nampak rapi. InsyaAllah tidak ada penampakan sandal berserakan.

Pun, tugas “Wali Sandal” ini sekaligus mengawasi kebiasaan penggasapan (pinjam tanpa ijin) dan atau membina para kriminal “update sandal” (baca, pencurian) yang kerap terjadi di lingkungan santri.

Terutama saat sholat Jumat, “Wali Sandal” ini akan bekerja mengasihi, menata sekaligus menjaga sepatu dan sandal para jamaah dari kaki-kaki jahil yang hobi ngutil. 

Latihan pembiasaan perilaku baik itu prosesnya nampak sederhana. Tapi dampaknya luar biasa, terutama mengubah kebiasaan wanprestasi para santri yang kerap nggasap dan menelantarkan sandal tidak beraturan.

“Wali Sandal” ini setidaknya berhasil membujuk mereka untuk sadar kerapian dan keindahan.

Melalui ikhtiar latihan menjadi “wali imitasi” ini, para santri dapat menunjukkan teladan akhlak mulia keislaman. Mereka belajar jadi “wali” yang menjaga dan melindungi praktik keislaman di tengah fakta fenomena palsunya pengakuan beragama. 

“Wali Sandal” merupakan transformasi santri yang kerap jadi representasi kaum priyayi, hijrah menuju figur pribadi santri yang siap mengasihi dan melayani.

Upaya itu dimulai lewat aksi kecil yang riil namun bermanfaat personal dan berdampak sosial: menata dan menjaga sandal.

Anda pun bisa segera memulainya bersama keluarga atau di lingkungan kerja. Jadilah “wali lingkungan” yang mengasihi, menata dan merawat kebersihan hunian atau ruangan di tempat kita berhabitat. Mulailah dengan sampah.

Terapkan kesadaran 3R dengan “memanfaatkan sampah sesuai kegunaannya”, bukan lagi cara lama “buanglah sampah pada tempatnya”.

Pada level kedisiplinan yang relatif rendah, pilahlah sampah. Mudahkan petugas kebersihan untuk menyelesaikan tanggung jawab mereka dengan “sadar sampah” kita.

Di lingkungan pembelajaran, kita semua bisa jadi “wali studi” bagi peserta didik dan segenap civitas akademik. Jalankan fungsi bimbingan konseling secara serius dan fokus serta dibarengi asas taat waskat.

Setiap guru memiliki jiwa penggembala, sehingga setiap siswa wajib dijaga dari ancaman serigala dunia. Semua warga sekolah diedukasi menjadi “wali” yang berkekasih ilahi dan tidak terburu menurutkan nafsu ego libido.

Wali murid betul-betul dikondisikan jadi “wali studi” yang mengerti dan segera antisipasi gejala pubertas muridnya.

Dengan begitu, kasus amoral dan asosial yang merajelala di ruang belajar anak-anak kita, bisa dikendalikan pertumbuhan jumlahnya –jika tak bisa dinolkan. Paling penting, peran ibu dan bapak yang sepatutnya menjadi “wali keluarga”.

Afdolnya mereka turut menjaga, mengawasi, membina, dan mengasihi anak-anaknya secara manusia. Bukan cuma menitipkan anak ke sekolah saja. Karena tanpa peran serta dukungan keluarga, pembelajaran di sekolah hanya akan berbuah stempel  lulus akhirussanah di lembar ijazah. Tidak lebih.

Di dunia pergaulan virtual, kita bisa jadi “wali maya”. Tugasnya mengedukasi, menjaga, mendampingi, memelihara konten-konten yang diakses anak atau keluarga kita, supaya tetap berada di jalur aman fungsi pembelajaran.

“Wali Maya” ini sekaligus bentuk kasih sayang kita kepada keluarga dan bangsa, agar tidak jadi korban penyalahgunaan teknologi informasi sebagaimana kerap terjadi akhir-akhir ini — misalnya pornografi dan perdagangan perempuan.

“Wali Maya” juga berguna untuk aksi cegah tangkal (cekal) bahaya radikalisasi ideologi, propaganda SARA, berita pemecah belah, dan politik intrik yang banyak dijual lewat interaksi virtual.

Kita bisa bekerja sama dengan piranti “wali maya” lainnya seperti DNS Nawala, ID-SIRTII, cyber crime unit Polri, koter TNI, dan unsur masyarakat yang berminat ikut terlibat.

“Wali maya” ini nanti sekaligus berfungsi jadi “wali nagari” yang melindungi keamanan informasi dari ancaman pencurian, penyadapan dan peretasan pihak yang ingin merusak.

Kita juga bisa menjadi “Wali Media” yang mengasihi insan pers dengan kritik konstruktif atas kerja-kerja mereka. Sesekali bacakan Al Fatihah untuk pewarta dan pemilik media, supaya mereka mau kembali pada idealisme jurnalistiknya, tidak melulu bisnis berita pesanan saja.

Atau setidaknya dengan menjadi “Wali Media”, kita bisa menjaga asupan informasi di keluarga kita, supaya tidak segera percaya dan mengamini begitu saja “seruan” berita yang muncul di media.

Kita niati ikhtiar menjadi “wali” ini, semoga  Indonesia kembali pada takdir baiknya, yakni secuil potongan surga di dunia yang penghuninya saling mengasihi bersaliman penuh interaksi sosial kerahmatan. Aamiin.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s