Dhiror

Saat ini tadarus tafsir edisi Ramadhan kami sedang mengkaji Surat At-Taubah. Sejak mula ayat pertama, surat ini banyak bercerita tentang penegakan keadilan atas sikap musyrikin dan gambaran perilaku kaum munafiqin.

Ciri sifat munafiqin ini menjadi fokus keprihatinan para santri, karena sifat nifaq kerap hinggap menjangkiti komunitas muslim dan memecah belah persatuan iman. Diantara bukti upaya pengkhianatan munafiqin saat itu adalah membuat masjid tandingan.

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan Masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mu’min), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu’min serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).” (QS. At Taubah : 107).

Di saat Rasulullaah Muhammad masih hidup, masjid dhiror dibikin oleh kaum munafiqin untuk menciptakan bencana kemudharatan, sebagai bentuk oposisi perlawanan, sekaligus pengembangbiakan virus jamaah ashobiyah. Namun alhamdulillaah seketika itu juga, atas bimbingan wahyu Allah dan waskita kepemimpinan Rasulullah, bahaya adu domba bisa dicegah secepatnya.

Empat belas abad sepeninggal Rasulullaah, ribuan masjid kini subur bersemi. Rumah ibadah ini menanti di tepi jalan arteri, di lurung-lurung kampung, di antara rumah-rumah warga desa, di belantara kota, di pinggir basement parkir, di sudut bantaran laut, di tengah gedung megah, didesain cetak biru nan mewah dan tegak berserak meliputi kolong bumi. Ada kala terasa bangga jika harganya dibangun bernilai sekian trilyun.

Untuk pembiayaannya, sebagian harus dimintakan proposal lewat acara amal, sebagiannya ditadahkan bantuan via sumbangan jalanan atau kotak Jum’atan. Sementara pembangunan masjid lainnya cukup menanti uluran dermawan uwak haji atau arisan tiban kaum politisi.

Seperti di negeri kita ini, masjid sudah menjadi bagian dari budaya identitas agama warganya. Di beberapa tempat, kita bisa tahu betapa pengamalan keislaman –seolah terlihat– tumbuh menguat. Begitu semangat hingga letak masjid dibangun berdampingan sangat dekat.

Saya dan para santri yang sedang mengaji tafsir masjid dhiror ini, hanya terbatas bisa membaca literasi terawangan mufassirin saja. Kami para santri, sebagaimana saya yakin pembaca juga, belum tahu di mana sesungguhnya lokasi masjid dhiror ini.

Namun logikanya, jika pada masa Rasulullaah hidup saja bangunan masjid dhiror itu sudah ada, maka saat ini keberadaannya mungkin ada. Karena kita tidak sedang dibimbing langsung oleh Rasulullah, maka untuk mengenali masjid dhiror ini, kita harus sangat teliti dan cerdas mendeteksi.

Pertanyaan yang berkelindan di seputar diskusi kami, diantaranya adalah “Apakah definisi dhiror itu berkaitan dengan ciri masjid yang gemar mengkhutbahkan perpecahan, berjamaah eksklusif ashobiyah, serta hanya berfungsi pewacana ritual agama tanpa bisa menyelesaikan persoalan fakta sosial umatnya?

Mungkinkah ciri masjid dhiror ini suka mencuci lantainya saat kita –yang bukan dicatat kelompoknya– tidak sengaja sholat di tempat mereka ??? ataukah masjid yang jamaahnya hobi memprovokasi telunjuk takfiri ???”

Sebagai pembanding benchmarking, saya mengajukan fakta kisah sejarah bahwa sewaktu Rasulullaah dulu, bangunan masjid Quba dibuat terbuka dan berbentuk sederhana. Masjid yang dibangun Rasulullaah pertama kali saat hijrah ke Madinah ini, atapnya pelepah daun kurma, berlantai pasir tanah, dan dindingnya cuma setengah.

Tapi walaupun konstruksi fisiknya bersahaja, manfaatnya serba guna dan barisan jamaah sholatnya terisi penuh dari dzuhur sampai Subuh. Masjid di jaman Rasulullah bermasyarakat sebagai tempat berlutut menangis sujud, mengikhlaskan kaul pelayanan, bukti totalitas iman ketauhidan, sarana penguatan mental spiritual, berbagi potensi amal sosial, dan penghuninya berlomba meraih derajat 99 % akhirat.

Kini kita dapat melihat sebagian masjid berkubah mewah, bernilai-jual mahal, dan berasitektur masyhur. Tetapi jamaah mentok setengah, berisi hanya sepekan sekali, penuh pas Idul Fitri atau hari Raya Haji.

Selebihnya, masjid sekarang kerap jadi perangkat kaum politis-oportunis untuk berebut pengikut, pamrih “amal sosial” modal electoral, menitipkan kepentingan pencitraan, atau sekadar wahana safari keagamaan untuk mendongkrak peluang keterpilihan. Masjid dialihfungsikan –oleh oknum cendekia agama kita– sebagai tempat uji kompetisi mengais rejeki 1 % duniawi.

Pembaca, tahukan Anda alasan kaum munafiqin membangun masjid dhiror di saat Rasulullah sudah punya masjid Quba? Ya, mereka bersumpah bahwa alasan pembangunan hanya untuk kebaikan. “In arodnaa illal-husnaa,”kata bualan mereka.

Sekalipun jelas bahwa efek dari masjid dhiror ini akan berdampak negatif, yakni perpecahan ikatan keimanan, mereka tetap ngotot berdalih demi kemaslahatan. Dan Allah menjadi saksi bahwa pendiri masjid dhiror ini sesungguhnya pendusta (QS. 9:107).

Bagaimana jika suatu saat kita mendengar selentingan kabar bahwa sebuah masjid dituduh dhiror? Tentu kita tidak boleh lekas percaya begitu saja, apalagi langsung terprovokasi menghakimi dengan tindakan perobohan. Karena selain kita harus menghormati tata hukum positif Indonesia, tidak ada yang betul-betul ahli memverivikasi identitas masjid dhiror ini.

Bahkan bisa jadi, pihak-pihak yang hobi memfatwa takfiri dan menyebar rumor masjid dhiror, justru jamaah masjid dhiror itu sendiri.

Sebatas kebolehan yang bisa kita lakukan adalah hati-hati dan mawas diri. Saya sampaikan pada para santri di akhir diskusi tadarrus surat At Taubah, bahwa kemungkinan definisi dhiror di jaman sekarang tidak hanya berupa fisik masjid saja. Tapi bisa jadi, dhiror telah bermutasi ke sikap pribadi-pribadi. Mereka para cendekia agama, saya dan juga para pembaca awam muslim semua, berpotensi tertular sebaran virus agitasi dhiror ini.

Diantara ciri perilaku pribadi dhiror yang patut kita prihatini, adalah membenarkan kekeliruan, ngotot ogah diingatkan, mengklaim monopoli satu-satunya keimanan, mudah menajis-kafirkan liyan, dan tingkah dakwahnya kerap memecah belah atau materi yang dibawa bertema propaganda SARA.

Peristiwa konflik sosial di Indonesia hingga intrik politik yang menggelora di Timur Tengah sana, menyisakan pelajaran bahwa peran masjid kini banyak berganti tupoksi. Masjid yang semula bermanfaat sebagai pengayom umat dan penyatuan iman, bermutasi menjadi pemecah belah akidah sekaligus pembibitan dendam kebencian antar keyakinan.

Saya dan pembaca semua tetap tidak tahu, yang mana masjid dhiror itu. Kita hanya bisa mengandalkan petunjukNYA dan berdoa semoga perilaku dhiror ini tidak menggerogoti kerukunan umat beragama di Indonesia serta persatuan muslim dunia.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s