Sekilas Pandang Tentang Syaithan

Makhluk Allah tak terbilang banyaknya, yang bernyawa atau yang tidak, yang jahat maupun yang baik. Mereka semuanya berbeda macam sifatnya. Ada yang menentang Allah dan ada yang teramat patuh pada perintahNYA. Diantara makhluk yang ditakdirkan menjadi musuh bersama kita adalah syetan. Ia diturunkan paksa dari surga ke dunia oleh laknat Allah, akibat penentangannya terhadap perintah Allah untuk bersujud kepada Adam.

Syetan pun dendam kepada Adam beserta anak cucunya. Ia menganggap penyebab utama dirinya terusir dari surga karena tersaingi penciptaan Adam. Oleh karena syetan dilaknat, maka dengan segala amarahnya ia “unjuk rasa” ke hadapan Allah atas pelaknatannya.

Syetan menuntut minta ditangguhkan kematiannya hingga hari kiamat serta minta ijin Allah untuk menggulingkan derajat manusia dari derajat mulia. Atas permintaan syetan itu, Allah memberi ijin penangguhan dan menyilakan syetan menggulingkan derajat mulia manusia.

Dengan segala tipu dayanya serta dipicu nafsu dendam yang meluap, syetan menginginkan manusia tanpa kecuali, harus terjerumus ke dalam jeratan dan jebakan kesesatan. Syetan bekerja lembur siang malam tak pernah berhenti (non-stop), tanpa pensiun, tidak direpoti urusan suami/istri atau kesibukan lain. Usahanya fokus hanya mempergunakan setiap kesempatan untuk menyesatkan manusia dari jalan shirot al mustaqiim.

Ternyata makhluk Allah yang bernama syetan ini sangat cerdik dalam bidangnya. Terbukti dengan segala tipu dayanya, ia berhasil memusnahkan sifat kerukunan saling kasih mencintai antara sesama manusia. Syetan berhasil membuat manusia lebih cenderung kepada harapan dunia berupa harta, kedudukan, tahta, dll, daripada mencintai Pencipta alam semesta ini serta mengingat kehidupan akhirat.

Modus taktik syetan dalam mengguling derajat manusia nyaris persis keadaan para petinju saat bertanding di atas ring atau seperti peperangan tentara Indonesia melawan penjajah belanda. Antara lawan satu dengan pihak lain saling mengintip, berusaha menjatuhkan, melemahkan dan meng-KO. Apabila salah satu diantara keduanya lengah atau tidak merasai bahwa mereka sedang bertanding, maka itu mencerminkan bahwa mereka itu tentara gila atau petinju palsu.

Ilustrasi petinju di atas ring atau gambaran tentara Indonesia melawan penjajah belanda mengingatkan kita, bahwa seperti itulah layaknya pertempuran kita melawan musuh syetan. Tidaklah disebut insan beriman yang sedang perang melawan syetan jika kita tidak mengetahui gerak-gerik dan taktik musuh yang beroperasi di hati ini.

Sedang kenyataan kini berbicara, banyak diantara kita yang hidupnya disibukkan urusan keduniawian, malah kadang bentrok antar sesama manusia. Padahal hakikatnya, kita ini sedang berperang melawan musuh syetan. Naif jika kita ingin memenangkan pertempuran, tapi diantara kita terjadi percekcokan dan permusuhan, sementara syetan fokus agresif memerangi kita manusia.

Sasaran utama syetan dalam menjalankan misinya adalah mereka-mereka yang terpandang cendekia agama, tokoh terkemuka, pembesar bangsa, atau idola sosialita. Strategi syetan ini bisa dipahami sebagai logika “kepala kena, ekor pasti kena juga”. Jika kepala pembesarnya telah dikuasai, maka pengikut rendahan yang kecil-kecil pasti manut menurut.

Faktanya kini, banyak diantara cendekia agama dan tokoh terkemuka kita yang tidak lagi hidup berpedoman pada garis haluan Al Quran. Mereka kerap menurutkan keinginan dan terpaksa menjadi kawan seperjuangan syetan. Apesnya, tindakan dan teladan mereka ini diikuti oleh umatnya yang awam agama.

Pada akhirnya nanti karena manusia lalai akan tugasnya, maka segala kutikan yang ada pada hati itu disetir dan diperbudak syetan. Keadaan manusia yang selalu diliputi keresahan urusan dunia, tiada rasa saling kasih mengasihi antara sesama manusia adalah bukti bahwa memang manusia telah dikuasai dan disandera musuh syetan.

Mestinya, kita manusia berusaha kerja dan hasilnya untuk kebersamaan. Namun karena disetir musuh syetan, hasil kerja kita ternyata untuk menumpuki kekayaan pribadi. Harusnya ingatan dan cinta kita lebih banyak tertuju kepada Allah Yang Murbing Dumadi dan kehidupan akhirat. Tapi yang umum terjadi, akibat ditipu propaganda syetan, manusia diliputi harapan dunia yang sebenarnya fatamorgana dan kepalsuan belaka.

Bila kita manusia kurang sedik peningale dalam memilih jalan yang benar, bisa-bisa tertipu melulu oleh syetan yang ahli membikin bisikan palsu dalam hati ini. Pada contoh riil sehari-hari, kita bisa meneliti masing-masing diri kita ini lewat ayat berikut:

“Syetan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syetan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syetan itulah golongan yang merugi.” (QS. Al Mujadalah : 19).

Bukti yang paling gampang jika kita ingin tahu tentang kerja syetan adalah memeriksa ingatan kita setiap waktunya. Merujuk pada ayat tersebut, bila kita sedang lupa Allah dan hanya ingat perkara lainnya, maka sangat mungkin kita sedang disandera atau bahkan sudah dikuasai musuh syetan.

Dampaknya bisa kita baca di berita media tentang kasus kriminalitas yang kian meningkat pesat, secara kuantitas maupun kualitas. Pada saat berbuat jahat, mereka tidak tahu bahwa bisikan itu dari syetan. Ketika menuruti bisikan syetan, ingatannya saat itu jauh dari Allah, sehingga hanya aura syetan yang ada menguasai hati dan pikirannya.

Kasus pemerkosaan anak kandung, seorang anak membunuh ibu bapak, perzinahan incest, pencurian dengan kekerasan, korupsi, dst adalah bukti bahwa manusia telah dikuasai syetan. Saking tidak berdayanya disandera musuh syetan, manusia sampai berani berbuat jahat di luar batas kepatutan dan perikemanusiaan.

Tempat kerja syetan sangat vital, yakni di hati. Inilah yang menguntungkan syetan bisa bekerja lebih leluasa. Sebab bila manusia sudah dikuasai hatinya, maka segala kutikan keinginan akan disetir oleh syetan. Akibatnya, segala tindakan yang dikerjakan manusia akan condong ke arah dekadensi moral, suburnya penyakit mental dan akutnya kerusakan sosial.

Maka ajakan saya kepada pembaca semua, janganlah selalu diikuti segala kutikan keinginan dari hati ini. Karena pada hati kita, ada musuh besar syetan yang diam-diam sedang bekerja menyesatkan kita dari jalanNYA.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMinutes. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s