Menimbang Takaran Pedagang

Kesalahan, level besar maupun kecil beserta dampaknya, tetaplah tidak bisa dibenarkan. Bila menggunakan standar kewenangan Tuhan, kesalahan itu akan dimintai pertanggungjawaban, terutama nanti saat di akhirat. Terkadang, kita kerap terjebak menuding orang lain bersalah, sampai lupa meneliti dosa pribadi.

Seperti saat ini, ketika ruang informasi kita dibanjiri kanal berita media, maka fokus perhatian kita ikut manut menyalahkan mereka-mereka yang “di atas” sana, para pejabat atau wakil rakyat. Dosa korupsi mereka kita sumpahi dan kita kutuki nyaris setiap hari.

Padahal diantara kita sendiri, di tengah komunitas yang kita akrabi, di lintas kesibukan yang kita jalani sehari-hari, perilaku dosa itu nampak banyak berserak. Contoh faktanya, mari kita perhatikan cara pedagang dalam menimbang takaran jualan yang mereka jajakan.

Meski sudah ada alat pengukur agar berperilaku jujur, namun kita beberapa kali mendapati alat ini “disiasati” untuk menggelembungkan keuntungan instan. Lapak bahan makanan atau produk olahan yang ditawarkan dengan timbangan literan dan kiloan, sedikit banyak, kerap dikurangi tanpa diketahui pembeli.

Di saat yang sama kita mencaci dan menghakimi perilaku korupsi, saat itu pula diantara keluarga, kenalan, atau pedagang langganan kita secara sadar ikut mencuri —dengan hasil jumlah dan pola yang mungkin berbeda. Indikasi perilaku ini diantaranya melibat pada pedagang makanan (sembako/buah-buahan) yang mengakali bandul timbangan, penjual bahan bakar –besar atau eceran– sering dipergoki mengurangi takaran, pelapak minuman menambahi oplosan, dst.

Berabad-abad silam, saat Rasulullaah Muhammad SAW bertugas di jazirah Arab, perilaku mencuri dan korupsi kecil-kecilan ini sudah menggejala diantara pedagang barang. Sebegitu parahnya praktik korupsi dan bisnis pencurian ini di masa Arab jahili, sampai Allah SWT menurunkan ayat khusus tentang keutamaan dan kesempurnaan menakar timbangan.

“Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al Isra’ : 35)

Sebab itulah, ketika Rasulullah Muhammad SAW berdagang —sebelum dilantik menjadi Rasul— beliau dengan sempurna meneladani jual beli yang berprinsip kejujuran, terutama dalam menimbang takaran. Selain memperoleh berkah “pelarisan” dagangan, kejujuran ini pula yang akhirnya menawan cinta Sayyidah Khadijah RA, sehingga Rasulullaah pun diminta menjadi suaminya.

Pembaca, sebagaimana kita tahu, profesi pedagang merupakan satu diantara pekerjaan yang disunnahkan Rasulullaah. Selain karena kita bisa relatif fleksibel mengatur pola kerja dan mengembangkan derivat atau diversifikasi produk layanan, dagang juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Di sinilah profesi dagang membawa berkah.

Namun perlu kita prihatini, sedikit saja kita berperilaku menipu, maka efeknya pun berantai. Seterusnya layanan kita tidak dipercaya, dagangan meskipun menguntungkan tapi tidak dilimpahi keberkahan, atau satu hari praktik kotor kita dipergoki polisi dan harus menjalani hidup di jeruji bui.

Praktik utak-atik takaran timbangan, sejak dulu sudah dikoreksi Rasulullaah Muhammad SAW. Rasul sebelumnya, Nabi Isa alaihisalam dan Nabi Musa alaihissalam, diantara materi dakwahnya juga membongkar pola kecurangan dagang ini. Mungkin karena sifat dasar manusia yang suka tergesa-gesa (QS. 17:11), maka sejak jaman purba, mereka kerap malpraktik dalam mengusahakan perdagangan akibat diburu nafsu keuntungan instan.

Diantara kita yang berdagang memanfaatkan timbangan, baiknya kita cermati peringatan Al Quran ini:

“(yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. 83 : 2-4).

Surat ini berada di juz Amma, dimana kumpulan surat-surat akhir Al Quran diletakkan. Tafsir tematiknya bisa kita baca, yakni Allah SWT dan RasulNYA sudah menubuatkan, bahwa praktik dagang curang dengan mengurangi timbangan ini akan terus berkelanjutan sampai akhir jaman.

Jika kita percaya, bahwa hidup kita sekarang adalah fase akhir masa sebelum kiamat tiba, maka praktik pengurangan timbangan ini masih berlangsung disekitar kita. Bahkan mungkin kita pergoki setiap hari. Mungkin karena sungkan atau ogah mengurusi privasi orang lain, kita urung mengingatkan.

Saya ingin mengajak pembaca semua untuk membangunkan kesadaran bahwa tindak korupsi atau mencuri, tidak boleh kita bedakan hanya karena mengukur jumlah besar kecil nilainya. Mari kita tegasi, bahwa mencuri dan korupsi, adalah dosa besar dan termasuk perbuatan makar. Jika syariat Islam dilaksanakan, maka mereka ini terancam hukuman potong tangan. Untuk itu jika diantara kenalan kita atau pedagang yang kita langgani melakukan praktik korupsi timbangan ini, mari segera tegur dan ingatkan mereka.

Jangan sampai karena hanya beda pola dan jumlah nilai keuntungannya, lantas kita berpihak sebelah dosa. Pencuri di level pejabat atau wakil rakyat kita kutuki dan kita sumpahi, sementara korupsi timbangan di tingkat pedagang bawahan kita maklumi dan kita acuhi.

Sekali lagi harus kita imani, bahwa prakti pencuri dan korupsi, tetaplah sama catatan dosanya di mata Allah SWT. Ketegasan prinsip inilah yang melahirkan cerita di hadis Rasulullah Muhammad SAW, bahwa beliau berjanji akan memotong tangan Sayyidah Fatimah jika terbukti mencuri –tidak peduli besar atau kecil nilai barangnya.

Sekali lagi, ajakan saya terutama untuk pedagang muslim, penjual bensin eceran atau SPBU pinggir jalan, pedagang buah-buahan, penyedia sembako makanan/minuman, mulai sekarang jujurlah dalam menakar timbangan. Kita mungkin mendapatkan sedikit keuntungan tapi dagangan aman dari kekhawatiran. Daripada untung besar namun dibayangi ketakutan diketahui pelanggan atau pihak kepolisian.

Lebih enak dipercaya daripada tidak dipercaya. Kita mungkin bisa mengelabui pembeli dengan korupsi timbagan ini, tapi itu tidak akan berlansung terus, dan pastinya Allah SWT beserta malaikatNYA setiap saat terus mencatat.

Saya percaya kita semua berharap dijemput kematian dan kembali dibangkitkan sebagai orang beriman. Saya juga percaya bahwa dimulai dari gerakan kaum rendahan dan pedagang bawahan, moralitas bangsa ini pelan-pelan bisa kita ikhtiari kembali ke tempat yang mulia lagi.

Mari, sedulur pembeli dan terutama saudara-saudara pedagang, seriuskan praktik kejujuran dengan membetulkan takaran timbangan. Semoga dengan upaya kecil berdampak riil ini, timbangan amal baik kita bisa menghadirkan syafaat Rasulullah Muhammad nanti di hari kiamat. Aamiin.

 

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di Adhimlaku2. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s