Al Malaa’

Setelah Rasulullaah Muhammad SAW. menyatakan diri sebagai utusan Allah, bagi mereka yang menganggap dirinya sudah benar, pada suatu ketika melihat beliau, lalu orang-orang ini berkata, “inikah orangnya yang mengaku menjadi utusan Allah itu? Hampir-hampir saja dia menyesatkan kita dari kebenaran yang sekian lama kita ikuti. Kalau kita tidak waspada dan sabar, maka pasti akan tertarik omongannya yang menyesatkan.” Kisah ini bisa dibaca pada QS. Al Furqon ayat 41. Ejekan umat kepada Rasulullah Muhammad ini dialami juga oleh rasul-rasul sebelumnya.

“Pemuka-pemuka dari kaum Syuaib yang menyombongkan diri berkata, “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syuaib dan orang-orang yang beriman bersama kamu dari kota ini atau kamu akan kembali kepada agama kami !” Berkata Syuaib, “Dan apakah kamu mengusir kami, kendatipun kami tidak menyukainya?” (QS. Al A’rof : 88 )

Seperti layaknya nabi-nabi yang lain, sebelum menerima wahyu tugas dari Allah, beliau-beliau senantiasa berhubungan dengan kaum masyarakatnya, dan belum pernah memberikan peringatan. Namun setelah menerima tugas dari Allah SWT, maka otomatis mengerti dengan jelas amalan-amalan umatnya yang sudah terlanjur salah.

Maka mulailah para rasul ini membenahi perilaku umat dengan ajaran agama yang haq. Usaha penyelamatan yang dilakukan rasul ini ditanggapi sinisme tajam oleh umat. Bisa jadi umat merasa gerah karena amalan mereka selama ini –yang dianggap sudah benar– ternyata dikoreksi oleh para rasul dan nabi.

Sinisme dan penentangan umat juga dipicu provokasi tokoh masyarakat atau pemuka agama yang kerap menganggap hadirnya Rasul/Nabi sebagai ancaman eksistensi dan pengaruh ketokohannya. Selain itu, para pemuka agama dan tokoh masyarakat inilah yang banyak menerima sorotan dan kritikan dari Rasul/Nabi.

Maka akibat disulut hasud, tokoh agama ini melahirkan kedengkian dengan mengatakan bahwa Rasul/Nabi membawa ajaran sesat dan mengancam mengusir Rasul/Nabi beserta pengikutnya. Ego ketokohan inilah yang didefinisikan Al Quran sebagai Al Malaa’. Terjemahan bebasnya bisa berarti “penguasa negara”, “pemuka agama”, “tokoh masyarakat”, “pejabat rakyat”, “sesepuh adat”, dst.

Kisah Al Malaa’ kerap menjadi pelengkap dari epos penugasan Rasul/Nabi di bumi. Kehadirannya seolah sengaja diciptakan sebagai modus perimbangan misi kerasulan. Rasul berada di pihak protagonis bersama Allah dan kaum beriman, sementara Al Malaa’ menempati sisi antagonis bareng setan, jin, kaafiriin dan munaafiqiin.

Komunitas Al Malaa’ mewakili budaya sosialita dan para penguasa, sedangkan Rasul biasanya identik berdekatan dengan golongan rendahan, budak belian, rakyat jelata, dan kaum papa. Perbedaan tajam dari dikotomi kasta ini yang sering menjadikan Al Malaa’ memandang remeh dan sangat menentang kehadiran Rasul.

“Dan apabila (mereka) melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan dengan mengatakan “Inikah orang yang diutus Allah sebagai Rasul?” (QS. Al Furqon : 40).

“Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami memandang kamu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al A’rof : 60).

Dakwah Rasul yang mengkampanyekan nilai-nilai kebersamaan, misi filantropi, sosialisme beriman, dan derajat kesetaraan dihadapanNYA, seolah menjadi antitesa dari hegemoni doktrin Al Malaa’. Apa yang menjadi ajakan Rasul kepada umat akhirnya dianggap ancaman –jika tak bisa dibilang pesaing potensial.

Misalnya pada jaman Rasulullah Musa, dakwahnya membebaskan praktik perbudakan, sementara Firaun sebagai figur Al Malaa’ justru ingin mempertahankan bisnis perdagangan manusia. Saat Rasulullah Muhammad, beliau mengajarkan kesetaraan insan di hadapan Tuhan, sementara puak-puak Al Malaa’ kabilah Mekkah ngotot melestarikan kesenjangan “ndoro vs Tuan”, kolot menginginkan penguasaan yang kuat atas yang lemah.

Pada masa Rasulullah Isa, beliau menggugat peran tokoh agama dari rabi-rabi Yahudi yang hanya bisa menjadi kepanjangan tangan politik dinasti Romawi. Mereka Al Malaa’ ini membiarkan umat berkondisi kelaparan, kesakitan, diperbudak penguasa, dan hidup dalam ancaman kesewenang-wenangan. Al Malaa’ memilih bermain aman dengan merapat ke istana penguasa.

Saat itulah Rasulullah Isa meneladani misi filantropi, menggiatkan pengobatan, memberi makan gratisan, mengajarkan ketauhidan, mendakwahkan penyembahan satu Tuhan (bukan tunduk pada penguasa atau tokoh agama), melakukan pelayanan dan pengasihan kepada kaum papa.

Tentu saja gerak dakwah Rasulullah Isa ini mengancam eksistensi Al Malaa’ sehingga dengan usaha persekongkolan dan pengkhianatan, mereka berniat membunuh sang Rasul – walau kemudian atas ijin kuasa kasih Allah, niat jahat Al Malaa’ ini tidak kesampaian.

Keberadaan Al Malaa’ yang selalu bersinggungan dengan misi kerasulan, selain karena dipicu hasud dan ego ketokohan, juga merupakan upaya penunggangan oleh setan. Sebagaimana kita tahu, yang paling dirugikan dari penugasan para Rasul adalah setan, jin dan sekutunya. Selama ada Rasulullah, mereka tidak bisa lagi menggoda, membisiki, menasehati, menguasai dan menyesatkan manusia dari jalan kebenaranNYA.

Maka selain lewat bisikan langsung kepada umat, setan dan golongannya ini menempel di komunitas Al Malaa’. Setan menghasud ketokohan Al Malaa’ yang bisa digusur Rasul, setan menakuti-nakuti tokoh agama akan kehilangan pengikutnya, setan membisiki penguasa bahwa kekuasaannya akan disaingi pengaruh massif Rasul, dst.

Upaya setan ini cukup efektif dan berdampak massif. Al Malaa’ yang terhasud pun mempengaruhi pengikutnya, umatnya, atau bawahannya untuk menentang Rasul. Atas nama kemapanan ajaran, mereka mengajak masyarakat untuk menjadikan Rasul sebagai musuh bersama.

Melalui agitasi dan propaganda massa, umat pun percaya sekaligus memusuhi total segala ajakan baik para utusan. Setan meminjam mulut wadag, intelijensi, pengaruh, dan ketokohan Al Malaa’ untuk menipu manusia, menentang usaha penyelamatan yang dijalankan RasulNYA. Pada tahap ini, setan menang besar dan Al Malaa’ sukses sesat menyesatkan umatnya yang tidak tahu apa-apa.

Jika Al Malaa’ sering digambarkan Al Quran sebagai lawan para utusan Tuhan, lalu kenapa diantara kita banyak yang terobsesi jabatan tinggi, rebutan ketokohan, ngidam kedudukan, ngotot survei keterpilihan, dan berlomba-lomba ingin dipuja sebagai pemuka agama? Betulkah niat kita tulus dan ikhlas ingin memperbaiki akhlak bangsa ini? Ataukah cuma ingin memuaskan syahwat bahagia dan nafsu bangga sementara di dunia?

Tidakkah sebaiknya kita berada di sisi Rasul yang melakukan pelayanan kepada kaum rendahan tanpa menunggu embel-embel jabatan? Ataukah kita tertipu setan, dikipas-kipasi iming-iming kedudukan profan? lalu siap dan nekad memihak Al Malaa’ yang ditakdirkan menjadi antagonis penentang Rasulullaah? Wallaahua’lam !

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMovie. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s