Iman dan Pengasihan

Adalah tidak wajar bila seseorang yang melihat orang kecebur sumur, lalu dicaci maki, dihina, dipukuli dan dianiaya dengan cara dilempari batu. Akan tetapi sepatutnya, bagi yang mengetahui dan mampu seraya berusaha demi terlepasnya orang tersebut dari lubang sumur.

Demikian halnya bila manusia mengetahui golongan bangsanya yang berkeadaan sesat jalan dan bergelimang dalam lembah kegelapan, kongkritnya akan berusaha menyelamatkan bangsanya segera tanpa menunda. Bukan malah diolok-olok, dibenci, dijauhi, dimusuhi, dan digosip lewat ngerumpi. Karena bagi yang tersesat itu, mereka tak mampu melawan setan atau berupaya keluar dari lembah kesesatan.

Namun kenapa kebiasaan umat beragama saling cakar-cakaran antar golongan dengan alasan menuduh golongan lain sesat? Padahal kadang-kadang diantara masing-masing golongan itu belum pernah berdoa agar golongan yang mereka pandang sesat itu bisa insyaf dan sadar.

Maka jelas, bahwa perbuatan golongan yang semacam ini adalah ciri dari pengaruh musuh setan. Kejadian semacam ini dikarenakan iman dari masing-masing golongan telah putus. Tapi ironisnya, mereka tidak merasa bahwa imannya tinggal bekas.

Putusnya tali layang-layang terasa dan kelihatan. Lepasnya penyakit dari penderita tidak terlihat mata, tapi terasa badan segar dan sehat. Akan tetapi putus atau lepasnya iman tidak kelihatan dan tidak terasa. Sehingga tampak dari lahirnya bergaya orang beriman. Walau sebenarnya telah kosong dari cahaya iman. Bagi pemilik layang-layang yang putus, gerak dan sikapnya tampak lain, yaitu ribut dan sibuk menyelamatkan layang-layangnya. Bagi penderita sakit, ketika sembuh, maka ia punya gerakan yang normal dan berbeda dari keadaan sakit.

Seharusnya, menurut perumpaan ini, orang yang beriman sikapnya ribut dan panik saat tahu imannya putus. Yaitu ditandai dengan hilangnya rasa kasih, terutama kepada mereka yang terlibat salah atau dosa. Karena keadaan orang yang menyandang iman, akan asing di mata orang umum.

Biasanya, orang umum akan marah dan menggunjing bila melihat orang salah. Tapi bagi orang beriman, karena sadar dirinya banyak berdosa serta konsentrasi mengingat Allah, maka ia akan berjiwa kasih saling menyayangi sesama manusia, termasuk kepada para pelaku dosa.

Keadaan manusia yang mengelilingi jurang neraka, terwujud dalam praktik manusia yang tidak rukun, tidak saling mengasihi antar sesama, bahkan saling menjatuhkan. Jika bersamaan kondisi itu, lalu maut datang menjemput, maka mereka akan langsung tervonis hukuman siksa.

Disebabkan pandangan riil seperti itulah, maka para petugas Allah (Rasul dan orang beriman) datang tergopoh-gopoh menggapai bangsanya agar menjauhi tepi neraka. Semua upaya dilakukan agar bangsanya terhindar dari keadaan bahaya sebelum wafat tiba.

Namun keadaan yang kerap terjadi, bagi bangsa manusia yang dibela para Rasul, tidak mengerti dan justru memandang diri Rasul sebagai pembawa suatu ajaran sesat, sehingga selalu dimusuhi. Hanya karena sifat kasih tulus para Rasul dan orang beriman yang membuat beliau ini tetap semangat menyelamatkan umat, meski harus dicurigai bahkan dibunuh. Apa yang diupayakan Rasul ini termaktub dalam QS. 3 : 103 :

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunianya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka. Lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNYA kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. 3 : 103).

Apa yang menjadi teladan dari tugas Rasul dan sifat orang beriman, mestinya kita ikuti juga. Diantara ciri beliau-beliau ini, adalah sifat kasihnya yang mampu mengalahkan emosi kemarahan, menepikan ego keakuan, dan siap diremehkan demi keberhasilan misi penyelamatan insan.

Sekali lagi, bila kita mengaku pengikut Rasul itu dan masih memiliki iman, maka sudah sepatutnya kita berupaya sekuat tenaga menggali sifat kasih ini. Praktiknya, ketika melihat orang berdosa atau kelompok lain bersalah, sifat yang muncul segera adalah kasih tulus dan mengirimkan doa. Syukur jika bisa mendatangi dan memberikan peringatan dengan komunikasi seduluran yang menyadarkan.

Apa yang terjadi pada bangsa ini, dimana permusuhan dibiasakan dan saling menyalahkan dibudayakan, adalah sangat mungkin akibat iman sudah hilang dari diri kita semua. Kita tidak mampu lagi mengenali, apakah iman ini sudah pergi, putus disambit setan, ataukah terseret hilang dibawa kesibukan urusan pekerjaan profan.

Maka ajakan saya kepada diri saya dan keluarga Indonesia, mari memanggil kembali iman kita yang telah pergi. Sebagaimana layang-layang putus tadi, mari kita sambung kembali komunikasi iman kita melalui bimbingan petunjukNYA.

Selanjutnya, bila iman kita saling menaut bersambut, maka akan muncul karunia pengasihan yang menyatukan. Bagi bangsa ini, iman akan membawa perubahan kebaikan yang menyelamatkan dari perpecahan dan kerusuhan. Bagi pribadi dan keluarga kita, kembalinya tali keimanan akan menyemangati kerukunan dan persatuan kita semua dalam menyongsong janji akhiratNYA.

Kepada anggota keluarga yang salah, kita tidak lekas mencaci dan marah-marah. Tetapi mendoakan, mengasihi, mendekati dan memperingatkan dengan ketulusan pengasihan. Pun kepada kelompok atau golongan masyarakat yang kita anggap dosa dan sesat, sifat kita adalah mengasihani mereka lalu berupaya menyadarkan dengan pendekatan, bukan debat mengalahkan dengan penuduhan dan penghakiman.

Dari situlah, wujud manfaat iman bisa kita buktikan keadaan dan kebenarannya.

 

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s