Menebus Harga Bahagia

Oleh karena setiap jiwa individu manusia di muka bumi ini tidak ada yang ingin rugi di akhirat, semua ingin bahagia di sana, maka sebenarnya sudah biasa jika di dunia ini mereka diberi cobaan berupa kesengsaraan, kemelaratan dan ujian ketidakenakan yang lain. Ingin senang akhirat, harus susah dulu di dunia. Kata pepatah leluhur kita, “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian”. Bersakit sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Allah sendiri telah mengklaim dalam firmanNYA QS. Al Isro’ : 18 – 19, Allah akan memberikan kepuasan dan bebas di dunia pada hamba yang minta jatah itu. Allah juga akan memberikan kepuasan dan kebahagiaan akhirat pada hamba menginginkan puas bahagia secara baka. Namun anehnya, manusia ingin senang terus tanpa ada perjuangan dan pengorbanan.

Mestinya manusia itu berjuang dan memikirkan bekal hidup di akhirat, lebih dari sekadar menggalang kehidupan di dunia, di luar Jawa, di luar negeri, di luar angkasa atau dunia bulan. Sebab diakui atau tidak, bahwa hakikat manusia setelah hidup masa dunia ini tetap akan kembali hidup pada hari kemudian (akhirat).

Di sana, manusia berharap bebas, puas, dan mendapat bahagia selamanya —yang lazim disebut SURGA. Sebagai gambaran, penduduk surga hidup tanpa usaha kerja lagi, tanpa kotoran baik dalam atau luar tubuh, tanpa puasa, sholat, utamanya tanpa mati —hidup kekal abadi tanpa rasa sakit.

Coba kita imajinasikan cita-cita manusia yang begitu tinggi tapi sama sekali tak dikenalinya. Jika kita amati cita-cita itu, maka amatlah layak cita-cita tersebut kudu ditebus dengan pengorbanan yang amat besar. Yaitu dengan hidup masa dunia selalu menyandang penderitaan yang amat merintih, berkorban harta, jiwa dan perasaan.

Dengan istilah lain, tenaga, jiwa dan harta orang mu’min telah dibeli Allah dengan harga mahal dan bernilai tinggi. Harta mereka diganti tanah seluas langit dan bumi, jiwa mereka diganti dengan jiwa yang tanpa kerja, sholat, tanpa sakit, dan tanpa mati (QS. 9 : 111 ; QS. 61 : 10 – 12).

Kita dapat melihat orang-orang yang ingin jadi lurah, bupati, gubernur atau presiden. Mereka rela berkorban biaya yang tidak kurang dari ratusan juta hingga triliunan rupiah, siap menghadapi resistensi serta resiko dunia lainnya.

Saat terpilihpun, mereka tetap bekerja, selalu diliputi keresahan, kesulitan dan tantangan dari pekerjaan yang dijalaninya. Mereka juga masih berak, sakit, mati dan tidak kekal.

Kemudian bagi bangsa insania yang bercita-cita setinggi surga, yang tanpa mati, tanpa kerja, kok hanya itu-itu saja tebusan amalnya? Tidak mau berkorban seperti dimaksud ayat di atas atau minimal seperti pengorbanan orang yang ingin jadi lurah, bupati, gubernur dan presiden?

Peristiwa ini amat membudaya pada zaman manusia dari zaman apapun hingga dalam Al Quran timbul sambutan “sabarlah !”. Yakni hidup perjuangan, sabar menderita untuk menghadapi segala macam tantangan dalam masa dunia dengan harapan hidup bebas puas pada hari akhirat kelak. Sedang bagi yang beriman pada Nabi serta mencintainya, bilakah bernapaskan sesuai dengan ayat “pengorbanan” di atas? Dan hadis beliau berikut:

“Abu Hurairah r.a berkata: Bersabda Rasulullah SAW, “Siapa yang dikehendaki oleh Allah padanya sesuatu kebaikan, keuntungan, maka diberinya penderitaan.” (HR. Bukhari).

Barisan manusia yang berderajat mulia (surga) pada hari kelak, pasti hidupnya masa dunia bernasib menderita melebihi dari kebiasaan umum insan.

“Abi Said bin Abu Hurairah ra. berkata: Rasul bersabda, “Tiada seorang muslim yang menderita kelelahan atau penyakit dan kesusahan hati, bahkan gangguan yang merupakan duri melainkan semua kejadian itu akan berupa penebus dosa baginya.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Bagi yang tidak mengkufuri Allah, RasulNYA, hari kiamat, tidak berbuat syirik, dan bila menderita apapun diterima dengan sabar adalah barisan insan yang berderajat mulia pada hari akhirat (surga).

“Abdullah bin Mas’ud ra. berkata: Pada suatu hari, saya masuk ke tempat Nabi SAW, beliau sedang sakit panas. Maka berkata: Ya Rasulullaah sangat keras panas ini. Jawab Nabi, “Benar saya menderita panas dua kali lipat dari orang biasa.” Berkata Mas’ud, “Benar karena engkau mendapat pahala dua kali lipat dari orang biasa.” Jawab Nabi, “Benar. Demikianlah keadaannya tiada seorang muslim yang menderita atau terkena gangguan apapun, baik yang berupa duri atau lebih dari itu, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dosanya sebagaimana rontoknya daun dari pohonnya.” (HR. Bukhari).

Penderitaan Nabi yang sakit panas dan panasnya dua kali lipat dari orang biasa itu sebagai sarana meningkatnya derajat beliau seperti hadis di atas. Besarnya cobaan hamba itu menurut tingkatan derajatnya dan bagi umumnya muslim cobaan itu penghapus sebagian dari dosanya –selain dosa musyrik, kafir kepada Allah, RasulNya dan hari kiamat.

Pembaca, bahagia standar Rasulullah dan orang mu’min haruslah diikhtiari dengan harga sepantasnya. Apalagi jika bahagia yang diinginkan itu ada di akhirat. Maka tentu nilai tebusannya akan berlipat ganda dari harga tebusan bahagia di dunia.

Jika untuk membeli harga bangga jabatan, diantar kita berani keluar biaya puluhan juta hingga ratusan miliar, maka untuk kebahagiaan yang sama di akhirat, tentu biayanya lebih tinggi lagi. Sebab nikmat akhirat 99 % lebih berderajat tingginya daripada nikmat fana dunia.

Jika Rasulullah dan orang mu’min merelakan harta, tenaga, fikiran hingga nyawa untuk membeli kebebasan surga, maka sudah sebandingkah kepemilikan yang kita tebuskan untuk meraih surga yang sama??

Ataukah kita merasa sudah dijamin Rasulullah dapat “wild card”, gratis hadiah bahagia masuk surga selenggangnya sehingga kita santai-santai saja menunggu giliran wafat tiba, tanpa persiapan, bebas penderitaan atau diuji kesulitan sama sekali?? minimal setor persediaan tabungan keakhiratan untuk makan sehari-hari di surga nanti?

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di Adhimlaku2. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s