Surga Sintetis

Siapa yang tidak tergoda dengan pesona dunia yang telanjang dan benderang ini? Siapa yang kuat bertahan jika iklan keduniawian digencar massif setiap saat lewat media dan keteladanan keluarga kita? Siapa yang akan percaya janji akhirat nyata adanya, jika nikmat dunia tersaji segera di depan mata dan bisa diraba indera? Begitu selalu pertanyaan renungan yang sering saya lontarkan ke para santri, terutama mereka yang sudah berkeluarga

Renungan pertanyaan itu bukan berarti saya mengajak benci dan menjauhi sisi kehidupan duniawi beserta rumus sunnatullah-nya. Saya sekadar menyegarkan kembali bahwa janji bagi para mu’min/mu’minat bakal dilunasi Allah di akhirat, terutama janji kemenangan dan kebahagiaan abadi.

Saya ingin mereka fokus bersemangat mengejar derajat 99 % sambil tetap mengikhtiari perjalanan rehat 1 % ini. Saya tidak ingin ketergesaan para mu’minin dalam merengkuh kesuksesan, berakhir semu dan berhasil tertipu.

Sadar atau tidak, banyak diantara saudara sesama kita yang ngelindur lama, terjebak “isu pengalihan” dan “kesurupan” dunia. Saya sering mengistilahkan fenemena ini “sindrom surga abal-abal” akibat bius 1 % nikmat sintetis buatan Dajjal.

Ya, jika kita membaca redaksi hadis tentang nubuatan kehadiran “si mata satu” ini, sebenarnya ia sudah ada sejak Bapa Adam dan Ibu Hawa turun ke dunia. Menurut Rasulullaah Muhammad, semua misi kerasulan, selain menebar hikmah ilahiah, adalah membawa tugas prioritas menyelamatkan manusia dari cengkeraman Dajjal dunia.

Dajjal yang memang bertugas mengecoh manusia agar keluar dari peta perjalanan hidupnya, sejauh ini sukses besar. Melalui kuasa tipuannya yang sementara, ia mampu menyediakan surga tandingan dalam wujud kesenangan, kesuksesan, kekayaan, kebanggaan, kebahagiaan, kedudukan dan kemewahan.

Dajjal bisa menjanjikan raihan cara instan maupun yang bertahap pelan. Kita manusia, tidak sadar bahwa Dajjal yang bermakna ndadar, njajal, nguji coba, mengikuti pengecohan ini. Lalu terjadilah, kita sibuk berantem sesama manusia dan antar bangsa hanya karena rebutan 1 % dunia. Akhirat yang berlipat nikmat 99 % derajat, malah tidak kita ikhtiari sama sekali.

Saya sadar sesadar-sadarnya bahwa relatif sulit bagi kita manusia untuk mengingat akhirat beserta segala keabadiannya. Bagaimana kita akan bisa percaya surga akhiratNYA sementara di dunia ini Dajjal sudah menyiapkan surga sintetis yang sama persis?

Cerita buah surga tanpa busuk selamanya? “Surga” dunia sudah menggunakan teknologi pengawet buahnya lewat teknik transgenik, senyawa genetika dan rekayasa hibrida. Dongeng kendaraan secepat kilat? Kecepatan moda transportasi udara dan wahana antariksa sudah lawas kita nikmati sejak era revolusi industri.

Kisah bidadari rupawan dan pemuda Wildan nan tampan yang tanpa tua menunggu kita di surga? Di dunia sekarang, suntik botox, teknik detox, iklan oplas instan, dan booming perawatan anti aging memungkinkan kulit manusia bisa awet muda relatif lama. Kecantikan dan ketampanan bisa diupayakan melalui bantuan teknologi peremajaan atau modifikasi dempul badan.

Surga bercerita tentang permintaan yang senantiasan dikabulkan hanya berdasar keinginan? Teknologi terkini sudah mengenalkan perintah berdasarkan remote pemindaian pikiran dan mesin robotika pembantu rumah tangga yang bekerja atas perintah “kedipan mata”.

Deskripsi “Jannah” sebagai kebun indah dengan suara gemericik air di bawah yang diceritakan Al Quran? Nampaknya sudah tersaingi oleh alam kita ini yang memiliki ribuan wahana rekreasi alami. Dari laut, sungai, gunung, telaga, hutan, dan daratannya, surga dunia kita menyajikan keindahan yang menyedapkan mata.

Di situlah Dajjal bekerja mempermainkan kesadaran logika kita. Oleh Dajjal, surga 1 % dunia dikemas gegas dan cerdas, sehingga kita semua berebutan menguasainya. Atas nama adikuasa, adigang, adigung dan adiguna, kita dipaksa berkelahi antar sesama manusia. Bahkan sakralitas agama kerap disalahkaprahkan jadi bumbu pemicu rebutan surga sintetis itu.

Begitu massif dan efektifnya pengalihan surga dunia, korbannya mencapai hampir semua jenis manusia, dari yang ngaku atheis sampai yang agamis. Bahkan mereka yang mengklaim idealis teologis, sering lupa bahwa mereka sudah terkena waham surga dunia.

Dajjal memanfaatkan indera jasad kita yang memang terbiasa menyegerakan sajian nikmat instan. Ditambah tabiat dasar kita manusia yang bernafsu terburu-buru (QS. 17:11 ; QS. 21:37), kian melariskan dagangan Dajjal dalam menjual surga abal-abal.

Pada skala kehidupan keluarga, kita diapusi tafsir teori “rumahku surgaku”, sehingga terpaksa memoles tempat hunian lebih dari kebutuhan. Saking sibuknya merehab rumah mewah, sampai lupa bahwa saudara kita dari kaum papa masih banyak berserak yang belum memiliki tempat tinggal.

Hati kita dihiasi dogma “kekayaanku adalah berkahNYA” sehingga kita kerepotan menjaga asset dunia, berdalih mewariskan ke anak cucu kita, sampai lupa ada kehidupan akhirat yang kudu kita prioritaskan. Kita jadi lalai bahwa asupan kebutuhan ukhrowi sangat mendesak dipenuhi.

Sifat dasar manusia yang terburu nafsu beriringan sajian nikmat instan, menjebak kita pada waham surga sintetis dunia. Kita juga perlu ingat tentang nubuatan kehadiran Dajjal, di mana dia akan membawa air dan api di tangannya. Air di tangannya adalah surga dunia, api di tangannya adalah surga akhirat.

Keduanya dijajakan ke manusia. Siapa yang memilih air Dajjal, ia akan beroleh nikmat surga dunia. Siapa yang memilih api Dajjal, ia akan beresiko “kepanasan” tak nyaman di dunia, tapi berhak menimang sejuknya surga di akhirat.

Pembaca, sindrom surga sintetis ini yang menyeret aparat kita hobi korupsi. Surga sintetis ujian Dajjal itulah yang memaksa pejabat negeri ini tidak amanat lagi. Nikmat 1 % dunia direbut beramai-ramai, sementara derajat 99 % akhirat jarang sekali yang mengurusi.

Seandainya saja kita dan mereka tahu, bahwa surga akhirat lebih layak untuk diraih, maka kita akan semangat berbagi kepemilikan materi. Seluruh ikhtiar kerja mencari rejeki, diniati untuk menanam investasi ukhrowi.

Sebaliknya, karena kita masih terkena puter giling surga sintetis dunia, jadinya kita sibuk berkelahi memperebutkan kursi, adu kuasa mengeruk sumber daya, dan memperbudak hak asasi manusia.

 

 

 

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMinutes. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s