Mendadak Munafik

Diantara kesulitan dakwah yang dihadapi Rasulullah pada masa penugasannya adalah keberadaan kaum munafik. Mereka ini tampak lahirnya muslim dan bertempat tinggal di lingkungan komunitas beriman.

Beberapa dari mereka bahkan sempat berjihad bersama Rasulullaah dalam menegakkan panji-panji keislaman. Namun karena dinding hatinya masih terdapat bercak virus nifak, maka kepasrahan dan ketaatan mereka kepada Rasulullaah belum bisa kaaffah, masih setengah-setengah.

Renungan buat kita semua, pada saat ditunggui Rasulullaah saja, sifat munafik merajalela sampai Allah perlu menurunkan beberapa ayat khusus tentang sifat mereka plus surat bertanda kode angka 62 “Al Munaafiquun”.

Lalu bagaimana dengan keadaan di jaman sekarang, ketika Rasulullah meninggalkan kita 1400-an tahun silam? Apakah munafik menyurut berkurang jumlah ataukah malah meluas bertambah? Untuk mengetahuinya, maka mari kita renungi tanda-tanda khusus munafik yang sering kita akrabi berikut ini:

Pertama, sedikit mengingat Allah saat beraktifitas. Ciri ini sepertinya familiar melekat di budaya keseharian masyarakat dan keluarga kita. Apalagi, misalnya, saat seremoni berbuka puasa nanti. Ketika makanan dan minuman terhidang, umumnya fokus perhatian, geliat pikiran dan konsentrasi pengamatan hanya tertuju pada menu di hadapan kita saja.

Di mana posisi keberadaan Allah ketika itu? Bisa jadi tertutupi oleh nikmat ingatan makanan minuman yang kita suap-seruputkan. Mungkin kita mengingat Allah saat baca doa takjil, tapi total lupa kepadaNYA ketika asyik menikmati menu utama berbuka puasa.

“Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisaa` : 142)

Bila fakta jujur itu yang sering terjadi, maka harus berani diakui bahwa sifat nifak telah menunggangi hati dan rasa jiwa kita. Bahkan saat sedang berdiri sholat, lalu ingatan kita masih tersita pada urusan-urusan dunia sebelumnya, berarti kita sudah terkena ciri munafik tadi, yakni sedikit mengingat Allah. Ingatlah, munafik mengambang di antara sifat iman dan kafir.

Kedua, malas sholat berjamaah. Perilaku ini akut menggejala di komunitas muslim kita. Masjid kita berserak banyak, bertegak megah, berarsitektur mewah, dan berdiri menanti di jalan-jalan arteri, namun isi makmumnya sering hanya sebaris saja. Fenomena jamaah sholat yang mau berangkat ke masjid, sangat sedikit.

Ini menjadi fenomena biasa, baik di kota maupun desa, nyaris sama persis. Banyak diantara kita yang lebih suka sholat sendirian saja daripada guyub tertib berjamaah bersama muslim lainnya. Bahkan sekeluarga dalam satu rumah, sering kita kurang tertib sholat berjamaah.

Sewaktu Rasulullaah hidup dulu, gejala kaum muslim yang enggan sholat berjamaah ke masjid ini sudah terjadi. Fenomena itu menyebabkan Rasulullah pernah berkeinginan membakari rumah-rumah kaum muslim yang enggan datang ke masjid untuk sholat berjemaah. Mungkin terlalu direpotkan urusan keduniawian, mungkin nyaman menggesa sholat full kecepatan, mungkin beralasan dalil-dalil “rukhshoh” keringanan, dst. Nafsu kita yang mengajak ogah sholat berjamaah.

Ciri sifat munafik akan kian mudah kita kenali jika ditambahi ciri mereka yang malas-malasan saat berdiri sholat.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, maka Allah membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas.” (QS. 4 :142)

Ketiga, tidak berani berprinsip tegas, lebih suka mencari jalan aman saja. Sering ragu-ragu berdiri “di tengah pintu” (mudzab-dzabiina baina dzaalik) , tidak masuk golongan beriman, pun tidak masuk komunitas kafir (QS. 4:143). Kadang mendadak memihak orang kafir dan malah meninggalkan komunitas beriman (QS. 4:139). Pendiriannya berubah-ubah sesuai mood nafsu enaknya. Semula percaya, kemudian beriman, ingkar lagi, beriman sebentar, dan kafir kembali bertambah-tambah ingkarnya (QS. 4:137).

Pembaca, sifat munafik yang diakibatkan virus nifak sangat mudah mampir di tengah komunitas kita, di keluarga kita, bahkan menjangkiti diri kita sendiri. Virus nifak ini kemunculannya beragam dari yang bisa dikenali hingga yang sulit dideteksi.

Ciri munafik lainnya menurut hadis Nabi, “Apabila bercakap dia berbohong, apabila berjanji dia memungkiri dan apabila diberi amanah dia mengkhianatinya” [HR Muslim). Karakter ini rentan menulari komunitas pedagang, para politisi, dan para pimpinan yang dititipi jabatan –termasuk kepala keluarga dan tokoh cendekia agama.

Khusus kepada kaum santri dan pemuka agama, ancaman sifat munafik sering luput dari mata kewaspadaan kita. Saya mengajak kita semua untuk lebih hati-hati dan mawas diri. Karena bisa jadi, setan berupaya menyebarkan virus kemunafikan di hati serta jiwa kita, melalui samaran tampilan kekhusyukan dan kesantunan.

Lebih sederhananya, supaya kita terjaga dari ciri munafik ini, mari meneliti cara sholat kita dan nanti saat berbuka puasa. Apakah konsentrasi fokus ingatan kita membumbung kepada Allah, ataukah tersita kepada makanan minuman yang terhidang?

Kita bisa mendadak munafik, walaupun saat berdiri sholat. Itu terjadi jika jubah ibadah, surban kepantasan, dan niat sholat kita tercemari buih-buih noda pamrih ingin dipuja manusia. Mari cerdas mengarifi peringatan Allah berikut ini:

“Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. 4:142)”

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMinutes. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s