Ikutilah Pemimpin Tak Berupah

“Ikutilah orang-orang yang tidak meminta balasan kepadamu dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Yaasiin : 21)

Itulah diantara ciri-ciri yang bisa diterima dalam kepemimpinan agama, terutama bagi mereka yang mengaku muballigh, pembela agama, da’i, tokoh muslim, imam jamaah, murobbi, pengasuh komunitas pengajian, dan profesi lain penganjur ayat-ayat Allah. Mereka ini yang tidak menerima upah, gaji, pesangon –baik langsung maupun tidak langsung–, patut dipercaya apa yang disampaikannya. Jika terbukti betul melalui ikhtiar istikhoroh, teladannya bisa kita tiru juga.

Pemimpin agama berciri ini memiliki elan pikiran dan etos pelayanan, “melayani umat dunia akhirat, bersemangat menyampaikan petunjuk Allah hingga akhir hayat, dan semua misi dakwahnya didasari rasa kemanusiaan serta rasa kasih berlebih terhadap sesama anak cucu Adam-Hawa.” Tidak terbersit satu rupiahpun dalam keinginannya untuk diupahi manusia atas pelayanan yang ia berikan.

“Dan (dia berkata) “Hai kaumku, aku tidak ada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi akau memandang suatu kaum yang tidak mengetahui.” (QS. Hud : 29).

Pada ayat lain, Al Quran juga menjelaskan ciri serupa tentang pemimpin agama yang layak diikuti manusia. Beliau, para pendahulu kita itu, Rasul dan Nabi dalam menyampaikan risalah Allah SWT kepada umatnya, sama sekali tidak mengharapkan imbalan keduniawian.

Visi masa depan akhirat yang beliau terawang dengan jelas, mampu menihilkan janji nisbi 1 % gaji duniawi. Selain itu, jiwa kasihnya terhadap manusia semata-mata hanya disemangati harapan ampunan dan keridloan dari Allah SWT –sebuah upah 99 % derajat di akhirat yang menjadi domain orang mu’min.

“Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah ini, melainkan (mengharap kepatuhan) orang-orang yang mengambil jalan kepada Tuhannya.” (QS. Al Furqon : 57).

Sifat yang serupa Rasul-Nabi ini menjadi titik pembukti, bila ada orang yang mengaku menjadi pembaharu (mujaddid), pemimpin ahlus-sunnah wal jamaah, atau ulama pewaris Nabi (al ulama warotsa al-anbiyaa), namun dalam penyampaian dakwah masih berharap upah dari manusia, maka pengakuannya patut dipertanyakan.

Setidaknya, bila berstandar perilaku dakwah para pendahulu, sifat pempimpin yang masih ingin digaji duniawi ini belum bisa dibuktikan keikhlasannya, belum layak dipercaya kebenarannya.

Adalah penting dan mendesak bagi kita semua untuk menentukan siapa pemimpin agama yang bisa menyelamatkan dunia hingga akhirat kita. Jika sudah kehilangan kepercayaan pada politisi dan pemimpin negeri ini, maka harapan nasib kita selanjutnya bergantung pada mereka, pemimpin agama yang langsung dibimbing petunjuk kebenaranNYA.

Bila gelagat politisi dan tabiat pemimpin negeri ini masih rebutan upah materi atau kursi tahta duniawi, maka kepada para pemimpin agama-lah kita coba tetap berharap.

Sebagaimana karapan kepemimpinan, semisal pilihan kepada desa, akan ada banyak iklan ketokohan yang menyapa kita sekeluarga. Mereka para pemimpin agama itu diwartakan segala kebaikan dan keunggulannya. Ada pemimpin agama yang dipercaya membawa karomah, sebagian membesar karena gelar, ada yang berijazah nasab, dan lainnya kesohor karena kamera media. Masing-masing penganut dan pemercaya pemimpin ini yakin, bahwa pilihannya adalah yang terbaik.

Pembuktian kebenaran akan ditentukan di akhirat, saat Allah SWT menghisab semua pilihan kita. Di sana nanti, sudah tidak ada kesempatan mengulang kembali. Jika pilihan kita betul, maka ridho dan ampunan Allah akan menghampiri nasib baik kita.

Sebaliknya, bila pilihan kepemimpinan agama kita keliru, maka kita akan mendapatkan kesengsaraan. Makanya, keputusan saat di dunia ini dalam memilih pemimpin agama akan sangat menentukan keselamatan kita sekeluarga.

Berdasarkan firman Al Quran tadi, ciri kepemimpinan agama yang bisa dipercaya, diantaranya sudah terlihat saat di dunia. Bila pemimpin itu tidak meminta gaji duniawi, berani berkorban kepemilikan pribadinya untuk kepentingan bangsa dan umatnya, hidup sederhana sebagaimana Rasulullah, maka kita bisa ikuti mereka ini.

Sebaliknya pemimpin agama yang bermewah-mewah, berdakwah orientasi upah, tidak memperhatikan nasib umatnya di dunia –apalagi akhiratnya– serta menjauhi pola hidup kesederhanaan Rasulullah, maka sebaiknya kita hindari ajakan mereka ini.

Selain melihat langsung keseharian para pemimpin yang hendak kita ikuti, kepada Allah kita bisa juga meminta petunjuk, siapa pemimpin yang bisa menyelamatkan nasib di dunia dan akhirat. Tentu kita tidak mau, di dunia kita sudah percaya kebenaran mereka, namun di akhirat ternyata nasib kita sengsara gegara keliru meyakini pemimpin ini.

“Dan mereka semua (di Padang Mahsyar) berkumpul untuk menghadap kehadirat Allah, lalu orang yang lemah berkata kepada orang yang sombong, “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan kami dari azab Allah (walaupun) sedikit saja?” Mereka (pemimpin) menjawab, “Sekiranya Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh atau bersabar. Kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (QS. Ibrahim : 21).

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di Adhimlaku2. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s