Sholat Tradisi atau Kebutuhan?

Jika kita menganalisa kembali tentang eksistensi manusia diciptakan hanyalah semata – mata dalam rangka untuk mengabdi/menyembah/melayani/menuruti kehendak Tuhan sang pencipta. Ternyata disdari atau tidak bahwa manusia telah tercipta sebagai makhluk dhoif yang kaya akan kesalahan dan kekurangan (QS.4:28) untuk itu Allah menyeru kepada umat manusia untuk senantiasa (berdo’a) kepada Allahsesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Dalam hal ini Allah telah berjanji untuk memperkenankan do’a para hambanya sebagaimana yang dimaksud dalam Al Quran, “Dan Tuhanmu berfirman : “berdo’alah kepadaku, niscaya akan aku perkenankan bagimu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. 40 : 60)

Orang-orang yang termasuk kategori sombong adalah mereka yang tidak mau berdoa atau meminta kepada Allah. Berarti sama dengan dirinya suidah merasa sempurna, tidak ada kekurangan dan seakan tidak mengakui sifat kuasa Allah. Mereka yang enggan berdoa seolah tidak mengakui Maha Pengasih-nya Allah, Maha Penyayang, Maha Pemberi, Maha Penyantun, Maha Kaya, dan Maha Sempurna-nya Allah.

Kelengahan bangsa insania selama ini, ternyata dalam segenap porsi pemikiran dan tindakan tak saja hanya polos kepada Allah, tetapi berbalik kepada hal-hal lain selain Allah. Rotasi pemikiran dalam kesehariannya dipenuhi program-program perencanaan peningkatan kebutuhan nafsunya yang hanya melingkari dunia.

Maka datang suatu peringatan Allah dalam QS. 51:57, “Aku tidak menghendaki rejeki sedikitpun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi aku makan.”

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka orang-orang yang rugi.” (QS. 63 : 9).

“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan pula anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun. Tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (surga).” (QS. 34 : 37).

Ayat di atas sebenarnya memicu umat manusia untuk benar-benar memenuhi fungsinya sebagai abdi Sang Khaliq, yakni menjalankan semua kehendakNYA dengan membedakan mana itu perintah dan mana larangan yang harus ditinggalkan. Tidak sekedar bertugas mengabdi atau menyembah. Allah akan benar-benar menguji setiap hambaNya untuk menentukan sampai di mana bobot pengabdiannya. Untuk menerima imbalan sebagai balasan yang setimpal.

Namun terasa betapa sangat sulitnya tugas menyembah atau mengabdi kepada barang ghoib, yakni Allah Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga umat Islam pada awalnya diharuskan untuk menghadap kepada Allah (sholat) sebanyak 50 kali dalam sehari semalam.

Kemudian pada saat itu (baca peristiwa Isra Mi’roj), Rasulullah SAW menerima perintah tersebut secara apa adanya. Tetapi di tengah perjalanan, berkali-kali Rasulullah Muhammad menerima pertimbangan dari para Nabi/Rasul terdahulu, utamanya Nabi Musa.

Para Rasul itu memprediksi bahwa umat Muhammad tidak akan mampu menjalankan perintah sholat itu. Lalu Rasulullah pun kembali menghadap Allah sampai menerima keringanan menjadi 40 kali dalam sehari semalam. Rasulullah harus naik turun ke Arsy hanya demi umatnya, hingga sampailah ditetapkan menjadi 5 waktu sholat fardlu seperti yang sekarang ini kita jalani. Dari sini kita perlu mencermati, mengapa, untuk apa, dan apa saja hasil sholat yang sudah kita fardlukan?

Telaah kritis yang perlu diakui adalah kebanyakan dari kita sholat sekadar kebiasaan yang kurang membawa dampak perubahan signifikan. Bukti jujur yang mudah kita dapati adalah tidak ada perbedaan sifat antara yang ahli sholat dan mereka yang tidak sholat.

Bagi kita yang ahli sholat, sebelum menunaikan sholat dan sesudah sholat, sikapnya masih sama: sama pelitnya, sama suka marahnya, sama senang menggunjing dosa orang lain, sama hobi menumpuk duitnya, sama mementingkan pribadi/keluarganya, sama keranjingan dunia, sama lupa Allah dan akhiratnya.

Satu hal yang mendukung tengara bahwa sholat kebanyakan kita hanya semata tradisi, adalah tentang bacaan atau lafal doa yang kita baca saat melaksanakan sholat. Sedari kecil doa dan bacaan yang kita lafalkan hanya monoton tak ada perubahan sesuai kebutuhan yang kita perlukan.

Ironisnya, bacaan doa yang kita pelajari dari kitab suci atau ajaran guru agama, kita ucapkan hanya begitu saja tanpa ada gereget di hati untuk mengerti makna, tujuan serta maksud yang dikandung dalam doa bacaan sholat tersebut.

Padahal sholat hakikatnya adalah menghadapkan diri baik lahir maupun batin dengan tata cara (kaifiyah) yang telah diatur secara syar’i. Maka sholat sebenarnya sebuah kontak dialog antara seorang hambya dengan Tuhannya.

Di situlah seorang hamba bisa mengajukan proposal permohonan sekaligus untuk memuji sifat-sifat dan kesempurnaan dzatNYA. Pada konteks ini, sholat bukan dimaknai sebagai “sekadar kewajiban atau kebiasaan”, tetapi sebuah kebutuhan primer bagi manusia beragama dalam memenuhi asupan gizi dan energi ruhaninya.

Bukti yang bisa kita yakini bahwa sholat itu karena kebutuhan, adalah bermacam-macam doa yang dibaca Rasulullah saat beliau menunaikan sholat. Ketika beliau sedang merasa terancam dosa, maka  beliau membaca doa dalam iftitahnya, “Allaahumma baa’id bainii wa baina khothooyaya kamaa ba’adta bainal- masyriqi wal maghrib…”.

Inti dari bacaan iftitah ini adalah minta dijauhkan dari bahaya kesalahan. Pada saat Rasulullah merasa mendapat karunia, beliau membaca doa iftitahnya, “innii wajjahtu wajhiya lilladzii fathoros-samaawati wal ardl haniifan musliman…”. Kandungan doa ini adalah memuji kekuasaan Allah sebagai tanda penyerahan dan penghambaan.

Begitupun saat posisi sujud sholat, ada beberapa versi bacaan doa Rasulullah. Diantaranya subhaana robbiyal a’laa wa bi hamdih; Subhaanaka allaahumma robbanaa wa bihamdika allaahumaghfirlii; subbuhun quddusun robbunaa wa robbul malaaikatu wa ruuh.

Begitulah sholat Rasulullah didasarkan pada kebutuhan jiwa raga, lalu dimintakan kepada Allah apa yang menjadi permintaanNYA. Sehingga hasil sholat akan berdampak perubahan kebaikan, peningkatan kualitas iman dan bobot amal peribadatan sosial yang bisa dirasakan manfaat bagi umat.

Sebaliknya sholat yang hanya karena dikemuli tradisi dan kebiasaan hapalan bacaan, maka tidak akan ada perubahan sifat sebelum dan sesudah pelaksanaan sholat. Celakanya, itu berlaku pada kebanyakan pengamal agama, khusunya diantara kita kaum muslim dunia.

Maka ajakan saya kepada pembaca, mari bersholat seperti Nabi. Yakni menjadikan sholat sebagai kebutuhan utama jiwa raga, bukan tradisi biasa sekadar baca-baca hapalan doa. Paling penting, sebelum dan sesudah sholat, mari jujur tanyakan kepada diri ini, apakah ada perubahan kebaikan yang bisa kita buktikan.

Sholat Tradisi atau Kebutuhan?
Jika kita menganalisa kembali tentang eksistensi manusia diciptakan hanyalah semata – mata dalam rangka untuk mengabdi/menyembah/melayani/menuruti kehendak Tuhan sang pencipta. Ternyata disdari atau tidak bahwa manusia telah tercipta sebagai makhluk dhoif yang kaya akan kesalahan dan kekurangan (QS.4:28) untuk itu Allah menyeru kepada umat manusia untuk senantiasa (berdo’a) kepada Allahsesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Dalam hal ini Allah telah berjanji untuk memperkenankan do’a para hambanya sebagaimana yang dimaksud dalam Al Quran, “Dan Tuhanmu berfirman : “berdo’alah kepadaku, niscaya akan aku perkenankan bagimu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. 40 : 60)
Orang-orang yang termasuk kategori sombong adalah mereka yang tidak mau berdoa atau meminta kepada Allah. Berarti sama dengan dirinya suidah merasa sempurna, tidak ada kekurangan dan seakan tidak mengakui sifat kuasa Allah. Mereka yang enggan berdoa seolah tidak mengakui Maha Pengasih-nya Allah, Maha Penyayang, Maha Pemberi, Maha Penyantun, Maha Kaya, dan Maha Sempurna-nya Allah.
Kelengahan bangsa insania selama ini, ternyata dalam segenap porsi pemikiran dan tindakan tak saja hanya polos kepada Allah, tetapi berbalik kepada hal-hal lain selain Allah. Rotasi pemikiran dalam kesehariannya dipenuhi program-program perencanaan peningkatan kebutuhan nafsunya yang hanya melingkari dunia. Maka datang suatu peringatan Allah dalam QS. 51:57, “Aku tidak menghendaki rejeki sedikitpun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi aku makan.”
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, maka mereka orang-orang yang rugi. (QS. 63 : 9).
“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan pula anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun. Tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. Dan mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (surga).” (QS. 34 : 37).
Ayat di atas sebenarnya memicu umat manusia untuk benar-benar memenuhi fungsinya sebagai abdi Sang Khaliq, yakni menjalankan semua kehendakNYA dengan membedakan mana itu perintah dan mana larangan yang harus ditinggalkan. Tidak sekedar bertugas mengabdi atau menyembah. Allah akan benar-benar menguji setiap hambaNya untuk menentukan sampai di mana bobot pengabdiannya. Untuk menerima imbalan sebagai balasan yang setimpal.
Namun terasa betapa sangat sulitnya tugas menyembah atau mengabdi kepada barang ghoib, yakni Allah Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga umat Islam pada awalnya diharuskan untuk menghadap kepada Allah (sholat) sebanyak 50 kali dalam sehari semalam. Kemudian pada saat itu (baca peristiwa Isra Mi’roj), Rasulullah SAW menerima perintah tersebut secara apa adanya. Tetapi di tengah perjalanan, berkali-kali Rasulullah Muhammad menerima pertimbangan dari para Nabi/Rasul terdahulu, utamanya Nabi Musa.
Para Rasul itu memprediksi bahwa umat Muhammad tidak akan mampu menjalankan perintah sholat itu. Lalu Rasulullah pun kembali menghadap Allah sampai menerima keringanan menjadi 40 kali dalam sehari semalam. Rasulullah harus naik turun ke Arsy hanya demi umatnya, hingga sampailah ditetapkan menjadi 5 waktu sholat fardlu seperti yang sekarang ini kita jalani. Dari sini kita perlu mencermati, mengapa, untuk apa, dan apa saja hasil sholat yang sudah kita fardlukan?Telaah kritis yang perlu diakui adalah kebanyakan dari kita sholat sekadar kebiasaan yang kurang membawa dampak perubahan signifikan. Bukti jujur yang mudah kita dapati adalah tidak ada perbedaan sifat antara yang ahli sholat dan mereka yang tidak sholat. Bagi kita yang ahli sholat, sebelum menunaikan sholat dan sesudah sholat, sikapnya masih sama: sama pelitnya, sama suka marahnya, sama senang menggunjing dosa orang lain, sama hobi menumpuk duitnya, sama mementingkan pribadi/keluarganya, sama keranjingan dunia, sama lupa Allah dan akhiratnya.
Satu hal yang mendukung tengara bahwa sholat kebanyakan kita hanya semata tradisi, adalah tentang bacaan atau lafal doa yang kita baca saat melaksanakan sholat. Sedari kecil doa dan bacaan yang kita lafalkan hanya monoton tak ada perubahan sesuai kebutuhan yang kita perlukan. Ironisnya, bacaan doa yang kita pelajari dari kitab suci atau ajaran guru agama, kita ucapkan hanya begitu saja tanpa ada gereget di hati untuk mengerti makna, tujuan serta maksud yang dikandung dalam doa bacaan sholat tersebut.
Padahal sholat hakikatnya adalah menghadapkan diri baik lahir maupun batin dengan tata cara (kaifiyah) yang telah diatur secara syar’i. Maka sholat sebenarnya sebuah kontak dialog antara seorang hambya dengan Tuhannya. Di situlah seorang hamba bisa mengajukan proposal permohonan sekaligus untuk memuji sifat-sifat dan kesempurnaan dzatNYA. Pada konteks ini, sholat bukan dimaknai sebagai “sekadar kewajiban atau kebiasaan”, tetapi sebuah kebutuhan primer bagi manusia beragama dalam memenuhi asupan gizi dan energi ruhaninya.
Bukti yang bisa kita yakini bahwa sholat itu karena kebutuhan, adalah bermacam-macam doa yang dibaca Rasulullah saat beliau menunaikan sholat. Ketika beliau sedang merasa terancam dosa, maka  beliau membaca doa dalam iftitahnya, “Allaahumma baa’id bainii wa baina khothooyaya kamaa ba’adta bainal- masyriqi wal maghrib…”. Inti dari bacaan iftitah ini adalah minta dijauhkan dari bahaya kesalahan. Pada saat Rasulullah merasa mendapat karunia, beliau membaca doa iftitahnya, “innii wajjahtu wajhiya lilladzii fathoros-samaawati wal ardl haniifan musliman…”. Kandungan doa ini adalah memuji kekuasaan Allah sebagai tanda penyerahan dan penghambaan.
Begitupun saat posisi sujud sholat, ada beberapa versi bacaan doa Rasulullah. Diantaranya subhaana robbiyal a’laa wa bi hamdih; Subhaanaka allaahumma robbanaa wa bihamdika allaahumaghfirlii; subbuhun quddusun robbunaa wa robbul malaaikatu wa ruuh. Begitulah sholat Rasulullah didasarkan pada kebutuhan jiwa raga, lalu dimintakan kepada Allah apa yang menjadi permintaanNYA. Sehingga hasil sholat akan berdampak perubahan kebaikan, peningkatan kualitas iman dan bobot amal peribadatan sosial yang bisa dirasakan manfaat bagi umat.
Sebaliknya sholat yang hanya karena dikemuli tradisi dan kebiasaan hapalan bacaan, maka tidak akan ada perubahan sifat sebelum dan sesudah pelaksanaan sholat. Celakanya, itu berlaku pada kebanyakan pengamal agama, khusunya diantara kita kaum muslim dunia. Maka ajakan saya kepada pembaca, mari bersholat seperti Nabi. Yakni menjadikan sholat sebagai kebutuhan utama jiwa raga, bukan tradisi biasa sekadar baca-baca hapalan doa. Paling penting, sebelum dan sesudah sholat, mari jujur tanyakan kepada diri ini, apakah ada perubahan kebaikan yang bisa kita buktikan.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di Adhimlaku2. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s