Tingkatan Iman

Iman berasal dari kata amana yang bermakna “percaya’. Menurut istilah, pengeritan iman dapat dijabarkan sebagai “kesetiaan dan kepatuhan terhadap apa yang dipercayainya, mengucapkan dengan lisan, membenarkan dengan hati/pikiran, dan mengerjakan dengan anggota badan.”

Iman memiliki tingkatan-tingkatan bila kita lihat dari segi kepemilikan dan pengakuan manusianya. Secara sederhana, tingkatan iman bisa dikategorikan dalam tiga pengertian.

Pertama, iman karena YAQIN, yaitu suatu kepercayaan manusia terhadap suatu dikarenakan hanya mendengar kabar saja. Kedua, iman AINUL YAQIN, yaitu kepercayaan manusia akan sesuatu karena melihat. Ketiga, iman HAQQUL YAQIN, suatu kepercayaan manusia akan sesuatu karena mereka mengalami sendiri dan merasakan langsung.

Mari kita ambil contoh sebuah peristiwa kecelakaan di jalan yang melibatkan pelaku, saksi dan penutur cerita. Pihak yang kendaraan atau badannya terlibat kecelakaan, itulah contoh pengamal iman HAQQUL YAQIN. Saksi yang melihat langsung peristiwa kecelakaan, itulah contoh pemilik iman AINUL YAQIN.

Sedangkan pendengar cerita kecelakaan (entah keluarga atau pihak berwenang, merekalah penyandang iman YAQIN. Antara pelaku, saksi dan pendengar cerita kecelakaan, tentu berbeda pengalamannya. Bobot cerita pun bisa berkualitas asli, ditambahi-dikurangi, atau justru hanya berisi cerita “bumbu-bumbu” yang tidak perlu.

Iman HAQQUL YAQIN yang dimiliki orang mu’min (Nabi, Rasul, Mujaddid)menyebabkan beliau-beliau ini berani merelakan segala kepemilikan dunianya untuk dikorbankan bagi kejayaan agama dan terbebasnya umat dari belenggu syetan.

Sedang yang mempunyai iman AINUL YAQIN adalah mereka orang mu’min yang telah benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rupa, bentuk dan ciri-ciri iman. Mereka sedang menuju derajat HAQQUL YAQIN. Mereka ini adalah golongan para sahabat Nabi yang terus berusaha meneladani ajaran para utusanNYA.

Kemudian yang memiliki iman bertingkatan YAQIN, adalah mereka-mereka para cendekia agama yang kerjanya hanya gembar-gembor berwacana dan mahir berceramah saja. Apa yang disampaikan tidak dibarengi tindakan konkrit serta wujud teladan kebenaran.

Mereka hanya mau dan bisa bercerita tentang teladan Rasululullah, tentang kisah sahabat, tentang sirah orang sholeh, tapi tidak mampu melaksanakan apa yang diocehkannya. Karena sekali lagi, iman mereka hanya berkadar YAQIN, mendengar dan membaca cerita dari kitab suci, tidak lebih.

Dari ketiga tingkatan iman di atas, bila kita baru bisa membuktikan pada tingkatan pertama, YAQIN, maka itu bisa disebut “belum memiliki iman”. Oleh karenanya, kita akan sulit memiliki keberanian berkorban jiwa, harta, dan fikiran demi mempertahankan kemurnian agama.

Akan tetapi tidak demikian dengan para pemilik HAQQUL YAQIN. Beliau ini siap berkorban segalanya, bahkan ketika harus menyerahkan jasad plus nyawanya untuk kepentingan agama dan bangsa. Seperti ketika Ibu Masyitah beserta keluarga rela memasuki air rebusan belanga demi mempertahankan ideologi ilahi yang diimani.

Proses pencarian dan perawatan iman tidaklah mudah. Dalam pencarian iman, seseorang bisa terasing dari lingkungan dunianya yang gelap dholim. Di sini, bukan berarti iman akan menyengsarakan. Tetapi di balik ujian kesengsaraan itulah, terdapat kebahagiaan dan manisnya iman.

Orang beriman akan bervisi keakhiratan tanpa meningggalkan dunianya, sementara orang tidak beriman hanya berhenti memikirkan dunianya saja. Itulah yang kerap menjadikan orang beriman seolah terlihat aneh dan terkesan gila di tengah habitat “normal” manusia dunia umumnya.

Pun demikian, pemeliharaan iman jauh lebih sulit daripada proses pencariannya. Sebab muncul dan hilangnya iman itu sendiri tidaklah dapat diketahui dengan mudah kecuali oleh orang-orang tertentu saja.

Putusnya iman dari lubuk hati seseorang tidaklah terasa apalagi terlihat. Lain halnya dengan putusnya tali layang-layang yang terasa dan terlihat. Atau hilangnya penyakit dari tubuh ditandai dengan rasa badan yang agak enakan, tidak terlihat tapi terasa.

Sementara orang yang kehilangan iman, tidak pernah merasa imannya telah pergi walau sudah lama berlarut terjadi. Orang yang bisa mengetahui iman masih ada dalam diri seseorang atau sudah hilang, hanyalah orang-orang bertingkat iman HAQUL YAQIN, yakni para Nabi/Rasul.

Bila seseorang itu telah memiliki iman HAQUL YAQIN, maka ia melihat bangsa manusianya yang terlibat dosa dan sedang berada di kerajaan syetan, aka segera tumbuh sifat kasih sayangnya.

Para Rasul/Nabi beriman HAQQUL YAQIN ini melihat para pendosa bagaikan melihat anak kecil yang tercebur sumur atau menyaksikan rumah kebakaran. Sudah barang tentu, para Rasul itu walau tidak mengenal identitas korban, akan segera datang menolong sebelum anak itu mati atau rumah tersebut habis dilalap api.

Pembaca, hilangnya iman seseorang dari hatinya dapat diketahui dari melihat berbagai ciri. Diantara yang bisa kita jadikan kaca adalah, hilangnya jiwa kasih cinta sesama, sedikit mengingat Allah, jarang mengingat mati, kurang mempersiapkan sangu hidup di akhirat, lebih mementingkan kebutuhan pribadi daripada kepentingan agama, bangsa dan negaranya.

Mari cerdas meneliti, sifat iman bisa menebal, menipis, melambung tinggi, turun merosot tajam, atau bahkan kadang habis menghilang. Maka kita wajib instropeksi dan memiliki patokan ajaran serta pegangan mentoring yang kuat agar mampu memelihara iman.

Bagi kita yang di dalam hatinya belum punya tanda iman, hendaklah segera mencari dan menemukan. Caranya dimulai dengan mengenali kekurangan diri, terutama dalam hal mengikuti keteladanan sifat Rasul/Nabi. Idealnya, kualitas iman kita berada pada tingkatan AINUL YAQIN dan HAQQUL YAQIN. Jangan sampai iman kita hanya karena mendengar cerita dan berkadar YAQIN saja.

 

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s