Pembela Maya & Menpora (bagian 2 dari 3 tulisan)

Wildan kini menghadapi tuntutan bayar 12 miliar atau bui 12 tahun. Diantara pro dan kontra berita di media, Wildan sekarang sedang berjuang memperoleh hak-haknya hukumnya. Pembela Wildan keukeuh memperjuangkan, “Wildan harus dibebaskan !”.

Mereka beralasan, tindakan Wildan justru berkepahlawanan karena mampu mendeteksi celah keamanan situs resmi presiden ini. Diantara aksi pembela Wildan yang mengaku anonymous, beramai-ramai unjuk protes penangkapan dengan cara mengusili situs-situs pemerintah berdomain go.id.

Indahkah aksi anonymous ini? Belum pasti. Protes pembelaan ulah Wildan dengan justifikasi “tahu celah keamanan situs presiden RI”, menurut hemat saya, hanya akan menimbulkan preseden “pembenaran kesalahan” yang berkelanjutan.

Misalnya dengan asumsi serupa, maka koruptor dan pengerdar narkoba harusnya dipuji-dibela juga karena berhasil menunjukkan ada celah kelemahan di perangkat hukum negara kita. Begitukah?

Jika asumsinya demikian, maka silakan saja segerakan sebar pengumuman, “Mari sedulur nubie wannabe scriptkiddie, dukunglah koruptor dan pengedar narkoba saat ini dengan cara defacement semua situs resmi berdomain dot.id !” Mau begitu?

Saya sangat mengapresiasi seni bermain teknologi komputasi ala Wildan ini. Ulahnya masih lebih layak bernilai berita daripada infotainment artis muda ibukota yang tertangkap pesta narkoba. Setidaknya “keterampilan” Wildan bisa dibina untuk kebermanfaatan bangsa dan negaranya.

Namun saya juga harus menghormati langkah polisi yang berusaha menegakkan peraturan, mengajarkan Wildan tentang tanggungjawab hukum, selain membikin jera pengusil ababil lainnya.

Menurut saya, pada aksi pengusilan presidensby.info ini, jelas Wildan kurang memahami protokol keamanan komputasi dan undang-undang republik ini. DNS redirection yang dilakukan Wildan –atas nama iseng sekalipun– tidak perlu ditiru.

Afdolnya hemat saya, kalau dia memang menemukenali bug serta berniat baik, dia bisa segera laporkan ke admin via surel atau tiket. Setidaknya, begitulah cara kerja seorang idealis hactivist yang dipahami penulis.

Sekarang, kewenangan yang bisa kita lakukan –jika memang ingin mendukung Wildan– adalah mengawal proses penyidikan hingga pengadilan. Syukur jika ada relawan yang bergerak elegan dan jantan mau membayar denda pemembebasan Wildan sebagaimana gerakan “koin Prita”.

Saya rasa itu jauh lebih mulia daripada lebay mengobarkan perang maya –alih-alih memberikan dukungan pembelaan. Sekali lagi, mari hormati proses hukum ini. Kita ikhtiari saja semoga Wildan mendapatkan hukuman yang betul-betul berasas perikeadilan dan perikemanusiaan.

Semoga saja keadilan masih tegak di bumi republik ini. Jangan sampai praktik hukum cuma alim ke kaum kaya, tapi zalim ke kasta papa. Kepada penegak hukum saya berharap, pastikan keadilan bisa diperoleh Wildan.

Kita semua tentu tidak mau asumsi yang mengatakan “pengedar narkoba dilepaskan, koruptor divonis ringan, Wildan diancam 12-tahunan”, mendapat pembenaran.

Dus, kita juga tidak ingin mendengar gosip lagi, bahwa kasus Wildan ini hanya pengalihan isu atas kasus-kasus wanprestasi yang dialami pemimpin negeri ini. Sungguh sangat tak adil bila Wildan ditumbalkan dan dijadikan komoditi spekulan kepentingan.

Dalam proses penyidikan hingga pengadilan Wildan ini nanti, saya ijin usul-usil, seandainya –seandainya lho ya– Pak Menpora mau menjadi pembela. Ya, Pak Menpora kita yang bergelar pakar telematika Indonesia, mungkin bisa memberi dukungan litigasi, seapes-apesnya menjenguk Wildan selama pemeriksaan.

Karena selain memahami protokol komputasi beserta piranti perundangannya, bukankah potensi “keterampilan” Wildan yang berusia muda menjadi domain ahlinya Menpora??

Kalaupun sulit memberi dukungan di pengadilan –misalnya dengan jadi saksi ahli yang meringankan tuntutan–, saya tetap berharap Pak Menpora bisa menyediakan tim konsultan pembela yang paham protokol TIK –baik dari aspek praksis maupun yuridis. Sehingga Wildan bisa mendapatkan pendampingan yang sepadan saat diadili nanti.

Mungkin pengandaian saya terlalu memaksa. Namun setidaknya, dengan mengurusi Wildan, energi dan konsentrasi Menpora tidak habis tersita mengurusi sepakbola yang mbulet luar biasa akibat modus drama trias politica.

Saya rasa, menggali dan mengarahkan potensi anak-anak muda seperti Wildan ini lebih bergizi prestasi, daripada Pak Menpora pening melerai oknum manusia yang ngakunya sportif dan dewasa tapi suka gelut di lapangan bola dan terbiasa adu mulut di media.

Saya haqqul yaqin ada banyak Wildan-wildan lain yang punya potensi xtravaganza di bidang keamanan komputasi maya. Mereka bisa diprogram dan dibina Kemenpora sebagai aset bangsa yang memberi manfaat untuk masyarakat. Usul usil saya agar Menpora mau menyediakan pembela, sekaligus sebagai antitesa alternatif atas inisiatif pembelaan “rekan-rekan” Wildan yang destruktif.

Tambahan usul usil saya lagi, sampaipun nanti Wildan dibui, beri kesempatan Wildan menjalani hukuman di “Lembaga Perkomputeran”, meski secara yurisdiksi tetap berada dalam pengawasan Lembaga Pemasyarakatan.

04Saya anggap itu sebagai hak prerogatif “grasi kortingan” dari Presiden SBY, Bapak kita semua, hactivist muda Indonesia. Teknisnya, Wildan dapat dijamaahkan pada komunitas hacker yang bener, misalnya komunitas pengembang piranti lunak lokal atau para teknopreneur creative digital yang butuh dukungan kebijakan plus relawan sumber daya keahlian.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMovie. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s