Wildan(o)nymous (bagian 1 dari 3 tulisan)

Namanya Wildan, remaja 21 th, bujangan, tamatan SMK jurusan bangunan. Namanya tiba-tiba cetar membahana karena ditangkap polisi dengan tuduhan mengusili laman resmi presiden republik ini.

Menurut kabar yang beredar, motif si Wildan ini “cuma iseng”. Entah “iseng” betulan atau “iseng” pesanan, yang tahu hanya Wildan dan Tuhan. Bila motif “cuma iseng” ini terbukti, tentu aksi Wildan patut dikritisi hati-hati.

Saya jadi teringat Mercury Rising, suspense thriller karya Harold Becker yang memadukan drama aksi bertema teknologi komputasi. Simon, 9 tahun, sang protagonista, diceritakan berhasil memecahkan kode rahasia keamanan komputer pemerintahan lewat ulah kebetulan -jika tak bisa disebut keisengan.

Simon, bocah lugu survivor autis itu, menerobos celah kelemahan dengan cara sederhana: mengisi majalah puzzle kata-angka kesukaanya.

Sukses Simon “terbantu” oleh blunder programmer komputer pencipta kode kriptografi “Mercury” yang terlalu percaya diri. “Tidak bakal ada piranti komputer di dunia yang bisa membuka kode rahasia karya mereka,” katanya.

Sehingga saking PD-nya, mereka pun iseng menyelipkan kode angka rahasia pada majalah anak-anak, dan menyayembarakan lewat telpon undian sebagai bahan uji keamanan.

Tak dinyana, kode angka terpecahkan saat Simon “menelpon”. Rahasia negara pun terbuka akibat ulah iseng programmer keminter dan aksi iseng anak difabel penyuka puzzle !

Ada sedikit kesamaan antara Simon dan Wildan, yakni sifat pendiam dan tidak diperhitungkan. Keduanya mewakili cerita masyarakat biasa. Sinopsis Mercury Rising kian relevan mempertemukan kesamaan dengan kasus yang dialami Wildan, meski baru sebatas pertanyaan plus dugaan.

Diantara pertanyaan awam yang patut kita lontarkan, “Apakah penjaga keamanan situs presiden yang khilaf? Iseng dan teledor membiarkan backdoor melompong? Ataukah kreatifitas iseng Wildan lebih beruntung sehingga mampu mengenali system error yang bolong?”

Isengnya Wildan layak disesali –apalagi jika niatnya terbukti sekadar mencari sensasi. “Iseng” kealpaan sysadmin situs presiden juga wajib diprihatini. Orang awam akan bertanya sederhana, “Bagaimana mungkin situs orang nomor satu di negeri ini, yang saya percaya diamankan sungguhan, ndilalah disusupi bocah?”

Ataukah kemungkinan lainnya, pintu keamanan komputasi dilonggarkan terbuka akibat lemahnya dukungan sumber daya sehingga para penjaga kekurangan etos kerja?”

Sekali lagi pembaca mungkin sama herannya dengan saya, “apakah ini kejadian sama kebetulannya dengan Mercury Rising, dimana keisengan Wildan berjodoh dengan kealpaan penjaga istana maya, dan kemudian melahirkan kecelakaan?” Akan banyak kemungkinan jawaban. Tapi untuk validasi kebenaran informasinya, penjaga dan pengelola situs itu yang lebih tahu.

Saya tergoda berasumsi, apakah Wildan ini kelewat bersemangat menafsiri manifesto hacker yang kesohor itu secara keliru? Ditambah gelora jiwa muda plus kreatifitas otodidaknya, ia mungkin terobsesi menerobos celah kelemahan sebuah situs yang relatif paling aman —asumsinya, situs pemimpin negara pasti dijaga tentara maya yang berkemampuan ekstra.

Apakah mungkin juga Wildan ingin berniat tulus –atau justru sebaliknya ingin dikultus– sebagai anonymous? Hanya kejujuran Wildan dan Tuhan yang paham. Namun sampai sejauh itu, keisengan plus aksi usil Wildan cukup berhasil.

Sayang memang, drama obsesinya menabrak pintu pidana, walau saya yakin Wildan tentu tahu resiko itu . Jujur, untuk kenekadan nyali aksi ini, saya patut angkat salut dan ingin mengucapkan “WoWildan !“

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMovie. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s