Muslimerk

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, hingga kalaulah mereka masuk liang biawak, niscaya kalian mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, Yahudi dan nasranikah?” Nabi menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhari : 6775)

Mari kita awali pagi ini dengan kontemplasi dari lubuk kejujuran hati. Bila merujuk informasi hadis Rasulullah ini, masihkah kita bernyali mengaku muslim yang murni dan asli?? karena kalau meneliti perilaku sehari-hari diri kita sekeluarga, rasanya terawangan Rasulullah itu sangat fakta betulnya.

Pada contoh mudahnya, masih banyak diantara kerabat muslim kita yang makan minum sambil jalan kesana kemari, bahkan kerap pakai tangan kiri. Padahal kebiasaan buruk yang kita tiru itu ditradisikan iklan tipi, bukan bersumber dari teladan baik Rasul dan Nabi.

Kian relevan bila mau jujur mencocokkan kelakuan berpakaian saudara muslim/muslimah kita. Atas nama modernitas, gaya menjadi buat rujukan baju estetika versi kita. Motivasi pakaian untuk pamer badan mengalahkan tertib syariat barpakaian tutup aurat. Larangan berhias berlebihan malah dilawan dengan trend “etalase berjalan”.

Ya, inilah potret subkultur muslimerk yang melanda saudara muslim kita. Patologi iman yang berjangkit massal namun dimaklumi sebagai kebiasaan normal.

Entah karena pelaku kurang tahu atau para cendekia enggan menjelaskannya, simaklah cara berpakaian lelaki muslim kita. Banyak diantara mereka yang sengaja memperlihatkan dengkulnya, padahal jelas-jelas organ kaki ini adalah batas aurat yang mesti ditutupi. Apesnya lagi, atas nama “katanya sunnah agama”, seringkali muslimerk kita ini hanya dijadikan ikan pancingan oleh produk pakaian.

Maka terjadilah, warna-warni peci, dikotomi model baju bid’ah dan sunnah, ada jubah arobiya-ada sarung indonesia, muncul produk laris fashion ustadz artis, dst. Belum sampai pada ritual ibadah, kita sudah dibisnis pecah belah, hanya karena beradu “trademerk” baju.

Begitu juga, fenomena muslimerk turut menggejala di antara muslimah kita. Terutama yang ini berkait komersialisasi pemanjaan penampilan. Tanpa sadar kita seperti dididik secara sistemik untuk mengikuti pola bisnis ideologis. Saya lebih suka menyebutnya “waralaba agama”.

Secara massif, ada upaya kapitalis menjadikan muslimah kita sangat hedonarsis. Kapitalis itu bisa dari pelaku tunggal lokal atau jaringan global dengan memanfaatkan “promo halal” dan berstrategi sok “islami”.

Di sini, merk “islami” dijadikan strategi komoditi untuk mendongkrak daya jual sekaligus merangsang daya beli massal. Jadinya, ada pakaian “muslimah” gaya pesinetron, jilbab jambul, kerudung bottleneck, baju kurung ketat udel, dan mirisnya hampir produk-produk itu laku semua diborong muslimah kita.

Walaupun, secara syariat Rasulullah Muhammad, modus baju sepola itu sangat menabrak rambu-rambu.

Siapa korbannya? Tentu saja kerabat muslimah kita, terutama remaja wanita dan kaum ibu di desa yang rendah daya belanjanya. Mereka seolah tergendam manut saja menaati pariwara “baju khas agama”, alih-alih ingin membuktikan pengamalan keislaman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingati bahaya latah muslimerk ini dalam sabda beliau: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka” [HR Ahmad (2/50) dan Abu Dawud (no. 4031).

Seringkali hanya karena kelewat memuja artis/tokoh “muslim” ternama atau taklid budaya “agama” manca negara, perilaku berbaju dan gaya hidup kita meniru kebiasaan mereka. Padahal dari meniru perilaku itu, belum jelas syubhat ataukah manfaat yang akan kita dapat.

Berkaca dari sabda Rasululah tentang “penyerupaan suatu kaum”, tentu kita patut awas, terutama tanggungjawab nanti saat hari kiamat.

Pembaca Lentera,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang benci terhadap sunnahku berarti dia bukan dari golonganku” [SHAHIH, HR Bukhari dan Muslim]

Rasulullah adalah rujukan sunnah kita semua, dalam perilaku berbaju, tindak bersikap, santun berucap, dan etika hidup bersosial lainnya. Jelas, rambu-rambu hukum syariat yang kita jadikan sandaran adalah Al Quran dan Al Hadis. Kaidah-kaidah umum pelaksanaannya sudah bisa ikuti, meski dalam beberapa keadaan memerlukan penafsiran tematik kontemporer.

Islam sangat tertib mengatur perikehidupan kita, termasuk bagaimana bermuslim cara Indonesia. Mengacu teladan Rasulullah, Islam adalah prinsip hidup keseharian, bukan sekadar trademark dagangan.

Saya tentu tidak mau, kita semua muslim Indonesia, dijadikan korban iklan pemasaran produk “muslim-musliman”, hanya karena mereka tahu potensi raksasa jutaan jumlah keluarga kita.

Rasanya saya tidak rela jika barang-barang syubhat dosa disulap jadi halal hanya untuk kepentingan komersial, dan itu memanfaatkan adanya fenomena muslimerk diantara kita. Saya ajak pembaca semua untuk cerdas meneliti penelikungan potensi muslim ini.

Mari memastikan diantara keluarga jangan sampai terkena “jebakan betmen” perilaku salah yang dibungkus istilah indah-indah semisal mindring syariah, politisi dakWUAH, pacaran islami, fiqh korupsi, dst.

Sekali lagi, pembuktian agama kita jangan mandeg berhenti hanya ketika ditempeli merk “islami”. Karena tentu kita tidak mau jadi orang yang merugi setiap hari akibat diapusi pebisnis “emosi ideologi”.

Salam KAMIS, Kerja shAum optiMIS !

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMinutes. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s