Muslimood

Menyambung tulisan saya pada pekan lalu, maka edisi kali ini saya ingin bercerita tentang figur Muslim yang ikut-ikutan dan angin-anginan. Mereka, saudara kita ini banyak terlahir dengan identitas muslim, tumbuh berkembang di lingkungan muslim, dan mendapatkan “cap” sebagai pribadi muslim berdasarkan nasab keturunan yang diwariskan. Sedari kecil keseharian mereka terpola dalam budaya muslim, walau baru sebatas ritual formal dan diikat semangat emosional.

Tentu saja mereka sudah relatif tergolong baik, karena telah berjanji mentauhidkan ilahi dan bersyahadat kerasulan Muhammad. Namun karena kesadaran yang terbentuk berdasarkan hasil warisan dan didikan berstandar pembiasaan, hasilnya muslimood.

Mereka ini produk tempaan iman yang kurang matang sehingga mewariskan generasi muslim moody, Islam angin-anginan. Islam yang mudah dimainkan ego perasaan, isu pemberitaan, dan klaim sepihak kebenaran.

Jika suasana hati enak dan lingkungan mendukungnya, kelakuannya menampak muslim. Tapi bila keadaan dan mood kurang enak, ciri muslimnya hilang tak nampak. Jika good mood, ia mau menerima perintah Allah dan RasulNYA. Tapi jika bad mood, mereka menolak dengan berbagai alasan keengganan.

Contoh gampangnya, pada pelaksanaan sholat tarawih bulan Romadlon atau Idul Fitri yang setahun sekali, tiba-tiba masjid semarak karena jamaah membludak. Walau berkadar ibadah sunnah, tapi mood lagi sumringah atau mungkin karena sungkan dipirsa tetangga, terpaksa harus berangkat ke masjid.

Sebaliknya saat sholat fardlu wajib lima waktu yang seharusnya menjadi ciri muslim sejati, tetapi karena mood-nya melorot rendah sehingga diantara kita sangat malas sholat berjamaah.

Muslimood membalik praktik, amal sunnah diwajibkan, yang wajib malah keteteran ditinggalkan. Mood meter-nya menggunakan standar baku mutu nafsu, bukan kebenaran Al Quran dan laku teladan para utusan.

Ada perintah berjilbab menutup aurat bagi kaum wanita, tapi mood-nya ingin bebas merdeka, maka perintah ini diabaikan sebagian besar muslimah kita walaupun nyata-nyata Allah yang berfirman dalam Al Quran.

Muslim yang berciri muslimood ini sangat rentan dimanfaatkan makelar kepentingan atau dibentur-benturkan spekulan. Sangat mungkin jika karakter muslimood diselewengkan sebagai energi agitasi, propaganda adu domba dan politik becah pelah devide et empera kerukunan umat beragama.

Cukup dikompori kalimat “bela madzhab”, diprovokasi “emosi ideologi” atau disulut pemanasan “kehormatan iman”, maka muslimood ini akan mudah dikonsentrasikan dan dikondisikan.

Pada dinamika politik dunia, perangai muslimood tumbuh menggejala, termasuk juga di Indonesia. Kerusuhan massal atau pertikaian lokal bertema SARA, diantaranya, banyak dimeriahkan oleh aksi pribadi berciri muslimood ini.

Medan psikologis dimainkan, emosi ideologi dikipas-kipasi, ego keyakinan digolong-golongkan, dan temukan isu pemantik yang menarik. Selanjutnya tinggal pilih media apa, temukan pemuka yang mahir bicara dan sedikit teknik penggalangan massa, dan api kerusuhan bisa dinyalakan.

Pola yang bisa dibaca dari benturan sosial seperti ini seringkali menumbalkan muslimood sebagai amunisi penyulut.

Mendekati pentas 2014, saya khawatir spekulan perpolitikan akan mencari dan menggali potensi muslimood ini. Misalnya ada partai yang –-katanya mewakili Islam– berkoar, “jika memilih partainya, konstituen dihadiahi surga”.

Bagi pemeluk Islam yang awam, tentu janji ini mampu memikat hati. Di sini, karakter muslimood kerap dijadikan pakan komoditi politisi. Money talks, the winner takes all, and muslimood down fall. Tragis dan melankolis.

Saya sering nelangsa saat tahu ada diantara saudara kita yang mengaku muslim namun tidak melaksanakan perintah wajib seperti sholat-puasa-zakat, mendadak terpola arus massa, ikut terlibat kerusuhan “bela sektenya” dan kemudian jadi korban belaka. Nampak betul mood­ “muslim” nya sukses dimanfaatkan oleh perancang kerusuhan.

Fenomena yang memakan korban muslimood seperti ini kerap terjadi pada kasus blasphemy, semisal demonstrasi menentang penistaan kitab suci, pengusiran “jemaat aliran sesat”, atau pencemaran nama baik Rasul/Nabi.

Di satu sisi saya sangat berharap muslimood ini bisa jadi potensi yang segera menaikkan strata keislamannya. Namun karena kurang waspada meneliti keislamannya, mood saudara kita ini rentan dimanfaatkan kepentingan sesaat.

Oleh para politisi, cendekia agama yang telah bias iman, dan oknum penguasa haus dunia, ego muslimood akan dijadikan lapak jualan. Lagi-lagi, saudara kita dari kaum rendahan, muslim awaman, dan rakyat kebanyakan yang kebagian peran jadi korban. Sementara mereka, komunitas penipu itu,mengeruk keuntungan dari “dagangan komoditi iman”.

Pembaca, mari kita menjadi pribadi muslim seutuhnya, tidak terpola mood arus utama dan tidak terjebak rasa ego ideologi semata. Mari kita belajar mempraktikkan Islam yang Kaaffah, yang berislam totalitas dan berwawasan cerdas.

Jangan jadi korban isu serampangan dan permainan perpolitikan. Tentu kita tidak akan mau, di dunia ditipu melulu dan di akhirat tidak selamat akibat kurang mahirnya mengelola potensi keislaman kita. Jangan memilih jadi muslimood, pilihlah Islam yang menjiwai segenap perilaku jiwa, raga, dan bercita rasa kerukunan dan kesatuan Indonesia.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMinutes. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s