Muslimuhammad & Muslimind

“Masuklah Islam secara kaaffah,“ demikianlah Allah bertitah melalui firman Al Quran (2:208). Kira-kira jika ditafsiri secara tematik, Allah mememerintahkan kita semua supaya berIslam luar dalam, 100 % sadar menerima semua aturan dan laranganNYA, ikhlas mengikuti teladan para utusan tanpa banyak retorika tanya. 

”Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah” (QS. Al Hasyr : 7)

Pada contoh keteladanan berislam kaaffah cara Muhammad, beliau mengikhtiari semangat persatuan dalam ikatan ketauhidan. Rasulullaah mengenalkan ciri Islam itu bersatu utuh dalam sebuah jamaah, bukan beradu musuh dalam sekte yang terpecah belah.

Allah SWT menyukai islam yang diteladani Rasulullah Muhammad ini. Melalui surat Shaf ayat 4 Al Quran mengabarkan, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang rapi (teratur) seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh”.

Perjuangan Rasulullah Muhammad mengikis habis sifat rasis orang Arab yang bermental tribal, berbudaya feodal, dan bias patriarkal, sukses melahirkan tatanan sosial baru: ISLAM.

Agama Muhammad yang berciri masyarakat madani ini mendakwahkan persamaan derajat kemanusiaan, keadilan peran perikehidupan, dan persatuan bakti semua hamba dalam melayani TuhanNYA. Tidak ada kelas kasta manusia dalam beragama atau struktur sosial yang membedakan derajat keimanan.

Jadi bila diantara kita masih ada yang membanggakan superioritas dan identitas islam berpola nasab kesukuannya, saya mempertanyakan apakah mereka muslim-musliman ataukah MusliMuhammad?

Praktiknya, muslim Indonesia masih sering merasa inferior jika berhadapan dengan muslim timur tengah. Kualitas santri negeri ini seperti tersubordinasi di bawah kelas ma’had al maghribi, sehingga karya literasi semisal Kitab Tafsir Al Iklil karangan K.H. Misbach Bangilan Tuban seolah kurang “islam” untuk dijadikan bahan kajian –karena penulisnya muslim Indonesia?.

Contoh lagi praktik “islami” yang membuat saya jadi terbiasa menikmati anomali. Betapa inferioritas kita nampak bergema ketika nasib sengsara muslim bersuku timur tengah sana lebih kita prioritas-demonstrasikan daripada TKW/TKI muslimah/muslim kita yang sama-sama di sana dan mengalami derita serupa akibat ulah dholim majikannya.

Tanpa sadar kita kembali ke zaman jahili, islam kita bukan lagi setara berjamaah, tapi terpecah dalam kelas kafilah dan strata ashobiyah. Sikap dan doa kita masih dipisah SARA saat melihat derita muslim Indonesia dan muslim timur tengah sana, diakui atau tidak.

Muhammad SAW walau mengemban tugas Rasul, beliau tetap bersikap sahaja dan jelata sebagai manusia. “Aku tidak lain hanyalah manusia biasa seperti kamu semua, (tetapi aku) diberi wahyu …” (QS. 18 : 110).

Pada konteks amalan ayat ini, Rasulullah sampai pernah membuka bajunya di hadapan para sahabat, siap untuk dicambuk sebagai penebusan kesalahan. Muslim cara Muhammad memungkinkan testimoni wujud wadag basyar-nya didera khilaf, sehingga sebagai pemimpin beliau ikhlas dan berani meminta maaf.

Sementara kita? Kadang baru jadi santri atau pandai mengeja kitab suci saja sudah berani jumawa. Seolah bersih dari dosa tanpa cela di hadapan manusia. Kekurangan kita, terutama cendekia agama, adalah tak pernah merasa khilaf sehingga jarang memohon maaf.

Seperti tertanam di benak kita, bahwa amal kita sudah luar biasa banyaknya sampai neraka takut menjamah kita dan semua pintu surga siap menyambut kita. Apakah mungkin karena islam kita hanya diolah ijazah dan kelulusan akhirussanah, sehingga kualitas keislaman yang kita dapatkan hanya sekadar nama?

Muslim yang diidealkan Rasulullaah Muhammad berangkat dari kesadaran pribadi menuju ketertiban sosial yang bersifat komunal-kolegial. Memeluk dan meyakini aturan Islam sebagai kebutuhan hidup agar bisa bertata krama sesuai lingkungan sosialnya.

Muslim berstandar Rasulullah adalah muslimind, mampu berislam secara sifat dan mindset. Contoh kecil tentang pola hidup bersih. Allah melalui Islam sangat menganjurkan setiap muslim untuk menjaga kebersihan lingkungan.

Bagi pribadi, keluarga atau masyarakat yang mengaku muslim, menjaga kebersihan juga diakui sebagai pembuktian keimanan. Kata sebuah qaul, “kebersihan sebagian dari iman”.

Tapi praktiknya? Silakan periksa sendiri saja. Bagaimana lingkungan di sekitar kita? Sudah bersihkah? Maaf, misalnya di sekitar komplek pesantren saja.

Berdasarkan pengalaman saya saat mendampingi program Eco-Pesantren (pesantren berbudaya lingkungan), masih banyak sanitasi, sarana MCK, dan penataan kebersihan lingkungan pesantren yang kurang nikmat dilihat. Maaf bila saya harus mengakui dalam hal kebersihan ini, kita perlu berguru ke disiplin bersih TNI.

Lihatlah di markas ksatrian, barak hunian atau rumah dinas ketentaraan. Nyaris setiap jengkal muka lingkungannya terawat sehat, sanitasi bersih, steril sampah, dan ada jadwal rutin bersih-bersih komplek asrama atau kantor kerjanya.

Walau semua serba sederhana, tapi penataan, penjagaan dan perawatan lingkungan terasa lega di mata. Pada konteks pola hidup bersih ini, mari jujur mengakui, disiplin lingkungan TNI lebih mencirikan muslimind daripada kita yang ngakunya ahli santri atau cendekia agama.

Pembaca, saya berharap kita semua bisa berkarakter MusliMuhammad dan MusliMind. Berislam sebagaimana teladan Rasulullaah Muhammad SAW dan tercermin dalam perilaku 100 % islam luar dalam, totalitas islam yang kaaffah.

Jika Islam kita bersholawat Muhammad, maka pasti kita bersatu padu. Sebab MusliMuhammad tidak mengijinkan adanya pembedaan kebangsaan dan kesukuan. Bila kita sudah terpola Muslimind, lingkungan sosial kita akan tertib hasilnya. Sebab Islam mengatur segala perikehidupan manusia, lintas isu dunia.

Semoga saja bencana banjir ibukota tidak terbawa ke Surabaya. Jikapun nanti terjadi, jangan salahkan siapa-siapa. Karena boleh jadi, kiriman banjir itu sebagai akibat keliru dari perilaku hidup bersih dan tertib sosial masyarakat muslim kita yang belum beraturan agama Allah nan kaaffah (sempurna) sebagaimana pola MusliMuhammad dan MusliMind seutuhnya.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMinutes. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s