Semangat Ahad

Manusia dalam mencari Tuhannya dari zaman ke zaman mengalami peristiwa berbeda-beda, yang menyenangkan maupun yang menyedihkan. Berangkat dari pengalaman peristiwa itulah, manusia menemukan agama. Rasulullaah Muhammad menuangkan pengalaman spiritual dan sosial dalam agama Islam.

Dari semua agama di dunia, bila ditinjau dari artian Islam yang berarti “selamat”, maka ada visi serupa dalam tujuan setiap agama. Tidak ada perbedaan pandangan mengenai visi ini. Semua memiliki asa selamat di dunia sampai akhirat. Semua berharap ridho dan ampunanNYA.

Maka bila terjadi perselisihan internal maupun antar umat beragama, itu bukan karena berlainan tujuan, tetapi disebabkan antara lain:

Pertama, diantara satu atau kesemuanya pihak yang bertikai itu, akad penyembahan yang mereka ikhtiarkan belum sampai ke tujuan. Gusti Allah belum mau menerima peribadatan mereka. Akibatnya, ritual sembahyang mengembara kemana-mana, sehinga tidak membawa manfaat apa-apa bagi perubahan perilaku mereka. Dapat dipahami, mengingat Allah adalah dzat Yang Maha Ghoib, bukan sembarang manusia yang bisa bersua dan berhasil menyembahNYA.

Jika saja sembahan kaum beragama ini diterima, pasti akan jadi satu hasilnya. Karena Allah Maha Satu, maka setiap manusia yang berhimpun kepadaNYA, akan disatukan juga. Karena Allah itu Maha Ahad, maka perilaku manusia yang sembahyangnya diterima, pasti bersemangat ahad juga. Aktifitas hidupnya selalu berpola meluaskan jalan kerukunan dan menciptakan seduluran kesatuan.

Kedua, manusia tidak mau berserah diri terhadap semua aturan Tuhan Yang Maha Esa sesuai “Islam”. Islam di sini yang dimaksud bukan sekadar pengakuan atau identitas kependudukan, tapi Islam yang betul-betul pengamalan dan pembuktian. Islam yang benar-benar “berserah” kepada Tuhan, tunduk patuh, dan taat terhadap segala aturanNYA.

Adapun manusia yang beridentitas dan berpengakuan Islam, tapi tak mau berserah diri terhadap aturan Tuhan, maka rusaklah klaim Islam yang mereka percaya.

Perintah Allah jelas dan tegas, bahwa pemeluk Islam haruslah bersikap Kaaffah, tidak nanggung setengah-setengah. Misalnya, dalam hal kerukunan dan tertib kebersatuan, Allah sudah mewajibkan. Namun banyak diantara kita lebih suka memperturutkan ego kepemimpinannya dan bangga klan jamaahnya.

Maka tak heran, dalam internal Islam sendiri, kita sulit beragama tauhid, nyaris mustahil bersatu tahlil. Agama kita terpecah belah dalam ashobiyah yang super parah. Tuhan kita berganti materi, “kursi”, dan “tafsir kitab suci”, tidak lagi bertuhan Allah SWT semata.

Ketiga, banyaknya persimpangan jalan umat manusia dalam mencari Tuhan. Belum sampai tujuan sudah terjadi benturan dan tabrakan di sepanjang lajur jalan. Hal ini disebabkan, tiap-tiap umat merasa telah memilih jalan yang sesuai berdasarkan petunjuk tokoh agamanya.

Sementara tokoh agama merasa jalan yang dipilihnya cocok dengan ajaran Nabi/Rasul yang ia percaya. Padahal sesungguhnya, masing-masing jalan yang ditempuh itu telah rusak, akibat ditinggal pergi oleh pembuat jalan yang asli, yakni Rasul/Nabi.

Tidak ada yang bisa memelihara, memperbaiki, atau membangun kembali jalan yang rusak tadi. Atau jalan itu masih baik, tetapi tidak ada yang tahu bekasnya. Sehingga manusia dengan bimbingan tokoh agama, hanya taklid menduga dan manut mengekor saja jalan kebenaran yang dianutnya.

Apalagi bila pejalan kebenaran itu punya aturan sendiri-sendiri, tidak mau taat pada aturan yang sudah ditetapkan, maka tabrakan dan persinggungan pasti terjadi. Ini mirip lalu lintas jalan yang penggunanya tidak taat aturan. Meski dia tahu jalur yang benar dan ke mana tujuannya, tetapi dia memilih jalur yang asal trabas dan ugal-ugalan, perjalanannya pun berakhir kekacauan.

Sudah begitu petugas resmi pengatur jalan tidak bertugas lama. Persis kondisi umat sekarang yang lama ditinggal Rasul/Nabinya. Antar umat maupun dalam internal umat beragama saling tubrukan dan meramaikan permusuhan. Padahal antara Nabi Musa, Rasulullah Isa, dan Rasulullah Muhammad tidak pernah berbantah atau tuding-tudingan menunjuk siapa yang salah. Beliau-beliau itu saling membenarkan dan melengkapi pokok-pokok aturan keumatan yang belum tercantum.

Keempat, perbedaan bahasa dalam memahami agama ataupun Tuhan. Saling klaim kebenaran bahasa agamanya dan kepatutan cara menyebut Tuhan, terbukti menyemaikan perpecahan.

Padahal kalau kita tinjau maksud dari berbagai agama itu, tidaka berbeda jauh yaitu “agama” berarti aturan. Bagaimana cara manusia menyerahkan dirinya, tunduk patuh (berislam) kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan menunaikan semua perintah dan meninggalkan larangan agar selamat di dunia sampai akhirat.

Adapun nama agama bisa jadi menyesuaikan nama, sifatnya, asal daerahnya, dan pastinya nama itu dipakaikan dengan bahasa yang dibawa pembawa agama semula.

Jika kita memahami premis ini, maka sebetulnya tidak perlu ribut adu mulut, debat siapa yang paling “selamat”. Agama Islam artinya aturan serta cara menyerahkan diri kepada Allah. Islam kadang disebut Dinillaah, agama yang pemiliknya Allah.

Disebut juga Diinul Qoyyim, agama yang berdiri tegak di atas pilar kebenaran. Diinul Kholis, agama yang bersih dari laku syirik dan sesuatu yang kurang suci, steril dari materi yang bisa menyekutukan keberdaanNYA. Jika kita belum bisa menyerah aturan Diinillah, belum bisa konsisten berDinul Qoyyim, belum mampu berDinul Kholis, maka Islam kita patut ditanyakan kualitasnya.

Kelima, karena iri, dengki, serakah, dan kerakusan manusia itu sendiri sehingga jangankan karena perbedaan agama, bahkan dalam satu agamapun terjadi konflik berlarut akut. Khusus warga Indonesia, karena kita belum memahami hakikat Pancasila sebagai penyatu agama-agama, maka kita jadi seperti sekarang ini. Jarang berbuat akur karena lupa syukur.

Sesungguhnya sila pertama Pancasila beserta derivat sila di bawahnya sudah pas sebagai formula yang bisa menyatukan potensi bangsa kita. Tetapi karena Tuhan kita tidak lagi Esa, ganti-ganti selera sesuai anjuran “tuhan nafsu”nya, maka beginilah situasi dan kondisi Indonesia. Sakit sosial dan berbudaya vandal.

Pembaca, semangat Ahad adalah wujud pengakuan “Bertuhan” yang bisa kita ikhtiari lagi mulai saat ini. Bahwa jika kita betul-betul seorang “monotheis”, pasti diantara kita bisa rukun bersama, bergerak menyatukan kekuatan, dan bersinergi memperbaiki negeri surga ini.

Kapan kita mulai coba dan mungkinkah? Jawabannya ada di keseriusan perbuatan, keikhlasan berbagi peringatan dan doa munajat kita kepadaNYA. Semoga saja semangat Ahad segera tiba membawa angin kerukunan dan hujan kebersyukuran yang bisa mendamaikan Indonesia. Aamiin.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMinutes. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s