Secercah Jalan Bahasa

Kitab Al Quran diturunkan dalam bahasa Arab adalah karena pembawa dan penerima wahyu merupakan manusia Arab. Maksudnya, supaya umat dapat langsung bisa menerima dan mengamalkannya. Akan menyulitkan jika antara Rasul pembawa/penerima wahyu dan umat yang menjadi gembala, berbeda bahasanya.

Oleh karena itu, maka Allah belum pernah mengutus seorang Rasulpun kecuali dengan bahasa kaumnya sendiri. Nabi Musa AS menggunakan bahasa Ibrani, Nabi Dawud AS berbahasa Qibti, Nabi Isa AS memakai bahasa Suryani, dan Rasulullah Muhammad SAW berbahasa Arab. Beliau-beliau dipilih Allah SWTdengan memakai bahasa sesuai tempat mereka menggembala, dengan tujuan memudahkan penyampaian pesan. Bukan bermaksud yang lain, bikin kursus bahasa misalnya.

Topik bahasa ini sering dijadikan bahan diskusi para santri sekaligus otokritik yang menarik. Fanatisme sebagian kalangan yang “menyucikan” bahasa Arab sebagai bahasa “keislaman”, satu sisi memang berfaedah hikmah. Setidaknya kita bisa belajar bahasa asing. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran jika nanti persoalan bahasa ini berlarut jadi potensi konflik akut. Akar khilafiyah dalam beribadah dan bermuamalah, sering diawali dari pohon masalah ini.

Pada tata cara syariat khutbah Jumat misalnya, beberapa kalangan kita mewajibkan penyampaian pesan dengan bahasa Arab. Lain bahasa itu, khutbah divonis tidak sah. Sementara sebagian lainnya percaya, khutbah cukup berbahasa daerah atau bahasa Indonesia saja.

Lagi, pesantren yang materi pembelajarannya tidak (atau belum) berpengantar bahasa Arab, dianggap Islamnya belum lengkap. Ada asumsi jika komunikasi sehari-hari tidak (atau belum) memakai panggilan “antum” dan “ana”, kurang afdol ciri agamanya. Nah, cemmana pula !

Menurut hemat saya, semua bahasa adalah baik, karena bahasa itu jika ditelusuri, maka titik pangkalnya berasal dari Allah juga. Hanya karena keterbatasan literasi, salah kaprah manusia, atau terlalu saklek menafsiri kitab sucinya, sehingga seolah “tidak menganggap” bahasa lainnya.

Sekali lagi mari kita insyafi, bahwa semua bahasa adalah milik Allah SWT. Semua bahasa berderajat sama dan memiliki fungsi serupa sebagai alat komunikasi manusia. Tidak ada supremasi bahasa atas kasta bahasa lainnya.

Al Quran diturunkan dengan bahasa Arab pada hakikatnya merupakan jawaban Allah atas perilaku ahli kitab suci yang sangat meremehkan Nabi. Mereka mengolok Rasulullah sebagai orang “ummi” yang mendakwahkan ideologi dengan bahasanya sendiri. Dan sebagaimana diketahui, waktu itu Rasulullah memang tidak bisa berbahasa Ibrani, Qibti maupun Suryani yang menjadi sumber referensi ahli kitab suci.

“Kami tidak pernah mengutus seorang Rasulpun, kecuali dengan bahasa kaumnya sendiri. Supaya ia dapat memberikan penjelasan dengan mudah/terang terhadap mereka (umatnya). Namun Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendakinya, dan menunjuki orang-orang yang dikehendakinya pula. Dialah Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ibrahim : 4)

Melalui proses tersebut, Allah ingin menegaskan bahwa strata bahasa Ibrahi, Qibti, dan Suryani bukan berarti lebih beradab daripada bahasa Arab. Setidaknya dengan cara itu, Allah hendak menguatkan Rasulullah Muhammad dengan bahasa daerah yang dipakainya.

Di hadapan Allah, bahasa Arab sama kedudukannya dengan bahasa kitab suci sebelumnya. Ketidakmampuan Rasullah berbahasa atau mengaji kitab suci Ibrani, Qibti, dan Suryani, tidak akan mengurangi bukti kebenaran firman Tuhan yang beliau sampaikan.

Kembali pada topik otokritik dan diskusi santri tadi. Masih banyak sebagian kalangan diantara kita yang keukeuh mempercayai bahasa kitab sucinya sebagai yang terutama. Memakai bahasa bangsanya sendiri seperti alergi. Jujur, saya sering diingatkan jika kurang sering menggunakan bahasa Arab dalam komunikasi sehari-hari.

Kata sebagian dari saudara kita ini, “bahasa Arab adalah bahasa kita, umat Rasulullah Muhammad. Jadi mari kita warisi dan kita gunakan untuk menunjukkan ciri keislaman !” Mak jleb muanteb.

Padahal kalau mau cerdas memahami ayat tadi, Rasulullah Muhammad berbahasa Arab, itu karena beliau bertugas menggembala suku Arab. Jadi, bukan berarti karena Al Quran berbahasa Arab, lalu kita semua harus fardlu ‘ain meniru bahasa Rasulullah itu.

Pada konteks kebangsaan, bahasa Indonesia dan bahasa daerah sama kedudukannya dengan bahasa Arab. Maka, saya selalu menguliahi santri, juga kepada penegur tadi, bahwa kita boleh saja mempelajari bahasa Arab. Terutama nahwu shorof, balaghoh, badik, mantiq, dst sebagai alternatif jalan pendekatan memahami tafsir Al Quran. Tapi jangan kemudian penggunaan bahasa Arab itu digebyah-uyah sebagai bahasa yang berlaku “fardlu ibadah” dan “wajib muamalah”.

Sangat disayangkan bila ada diantara kita yang terpandang cendekia agama, masih fanatik buta terhadap pemakaian bahasa. Apalagi sering bila diingatkan tentang perkara kebenaran, lalu pengingat itu hanya bisa berbahasa daerahnya, tidak berdalil bahasa Arab misalnya, peringatan itu kita abaikan.

Jadi, kalau seandainya –seandainya lho ya–, ada seorang alim ulama’ yang tidak bisa berbahasa Arab, lalu mengingatkan kita dengan pitutur bijaksana, apakah kita hendak menolak? Jika kita menolak dengan alasan bahasa, bukankah perilaku ini serupa dengan sikap ahli Ibrani, Qibti, dan Suryani tadi??

Pembaca, di tradisi Jawa, ada filosofi peribahasa jembar jagate, ombo jangkahe, adoh nalare. Ini adalah nilai budaya Jawa yang berasa Indonesia. Maknanya, dalam menyikapi sesuatu, jangan terburu nafsu. Ayo belajar bernalar pintar, jangan hanya puas koar-koar merasa benar.

Terkait persoalan bahasa, hendaknya tidak fanatik menganggap bahasa Arab lebih beradab daripada bahasa Jawa, bahasa Indonesia, maupun bahasa suku lain di negeri ini. Kalaupun “kebetulan” bahasa Arab dijadikan Tuhan sebagai pengantar ayat-ayat Al Quran, itu karena penyampai dan penerima wahyunya adalah orang Arab.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMinutes. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s