Saudaranya Rasul

“Dari Abi Hurairah ra. katanya: Rasulullah SAW pergi ke kuburan lalu memberi salam “Assalaamu’alaikum daaro qaumin mu’miniin wa inna insyaAllaah bikum lahiquun, saya ingin benar kalau melihat pada saudara-saudaraku”. Berkata sahabat, “bukankah aku ini sahabatmu Ya Rasulullaah?” jawab Nabi, “Kamu sahabatku, dan saudaraku belum datang kini.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana engkau dapat mengetahui orang-orang yang belum datang kini dari umatmu Ya Rasulullaah?” Jawab Nabi, “Bagaimana pendapatmu jika seseorang mempunyai kuda belang putih muka dan kakinya, di tengah-tengah kuda yang semua hitam, tidakkah ia mengenalnya?” para sahabat menjawab, “Benar Yaa Rasulullaah.” Maka umatku akan datang pada hari kiamat bercahaya muka dan kakinya bekas anggota wudlu dan saya akan membimbing mereka ke haudl (telaga).” (HR. Muslim).

Hadis ini menjelaskan tentang nubuat Rasulullah tentang kedatangan “saudaranya” di akhir jaman. Meski para sahabat menawarkan dirinya untuk diakui sebagai saudara, tetapi Rasulullah menyatakan bukan mereka yang beliau maksud. Apakah ada perbedaan derajat saudara dan sahabat? Tentu saja ada. Sahabat boleh dekat, namun status “saudara” memiliki ikatan lebih erat dan dijamin hak warisnya.

Maka yang dimaksudkan saudara-saudara Rasulullah itu adalah seseorang yang akan datang di kemudian hari untuk mewarisi tugas beliau, mengembalikan kemurnian ajaran Islam. Dalam hal ini, figur saudara Rasulullah akan sesuai jika diproyeksikan pada figur ulama (al ‘ulama warotsatul anbiyaa) yang bisa dipercaya dan dipilih oleh Allah SWT.

Pengibaratan “seekor kuda belang putih di tengah kuda-kuda yang berwarna hitam semua” menunjukkan ciri figur nubuatan ini. “Saudara Rasulullah” itu akan hadir di tengah-tengah kehitaman agama atau kerusakan umat yang begitu akut dan menjadi arus utama dunia. Tugas ulama “saudara Rasulullah” itu akan menyempurnakan kembali ajaran Rasulullah yang telah banyak diselewengkan untuk kepentingan profan.

“Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya sebagian dari hamba-hamba Allah ada segolongan manusia yang bukan dari golongan para Nabi dan bukan golongan para syuhada’, pada hari kiamat kedudukan/derajat mereka (begitu tinggi/mulia) di hadapan Allah; Rasulullah dimohon keterangannya, “Wahai Rasulullaah berilah kami penjelasan, siapakah golongan tersebut?” Rasulullah menjawab, “Mereka itu segolongan kaum yang saling mengasihi hanya mencari ridlo Allah, sekalipun mereka itu bukan keluarga, hubungan sanak famili, dan juga tidak karena pamrih harta benda. Demi Allah sesungguhnya wajah mereka bercahaya sekali. Mereka tidak takut sedikitpun sekalipun keadaan orang lain dalam ketakutan dan mereka tidak merasa sedih sedikitpun sekalipun orang lain dalam keadaan kesedihan.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Relevansi hadis ini kiranya dapat dijadikan rujukan ciri ulama yang berkategori “Saudara Rasulullah” tadi. Bahwasanya ulama yang betul-betul pewaris ajaran Rasulullaah, akan bisa dikenali dari sifat peduli kasihnya kepada sesama tanpa pamrih apa-apa.

Di jaman sekarang, ketika materi harta dan kedudukan kuasa begitu menggoda, maka figur “saudara Rasulullah” ini akan sulit ditemui. Pertanyaan awamnya, “masih adakah orang yang mau berkasih sayang tanpa pandang kekerabatan, golongan, atau kepentingan?”

Tugas saya dan pembaca semua adalah menemukenali figur nubuatan Rasulullah ini. Langkah kecilnya bisa dimulai dengan membiasakan wudlu kita selalu terjaga di sepanjang aktifitas yang kita lakukan.

Setidaknya kita berupaya mengikhtiarkan diri sebagai “saudara Rasulullah” yang berciri “muka dan kakinya bercahaya karena bekas wudlunya”. Berikutnya adalah mencari sosok atau kelompok yang betul-betul mengamalkan ajaran kasih sayang hanya karena ridlo Allah SWT.

Saudara Rasulullaah itu akan berderajat unggul di hari kiamat, dikagumi oleh para syuhada’. Mereka ini adalah figur pribadi sekaligus kelompok yang mengembangkan hidup cinta kasih tanpa pamrih.

Sebagaimana “kuda belang hitam di tengah kuda-kuda yang berwarna hitam semua”, maka kelompok ini adalah antitesa arus utama. Saat semua orang saling mendahulukan kepentingan pribadinya saja, maka kelompok “Saudara Rasulullaah” ini akan ikhlas berbagi kepunyaan kepada sesama insan tanpa pandang SARA.

Di jelang akhir masehi ini, berita dunia kita nyaris sama saja. Belum ada peningkatan kualitas pewartaan yang mampu merukunkan kemanusiaan. Kabar pertikaian perpolitikan, debat ucapan selamat, hingga persiapan pentas 2014, semua berujung ribut. Alih-alih sok dewasa dan bijaksana, komentar “pengamat” yang berlomba setor muka di media kita, justru kian meramaikan palagan.

Maka saya tawarkan berita hadis Rasulullaah ini. Kabar tentang “saudara Rasulullaah” yang mesti segera kita kenali. Dimana keberadaannya dan kapan kemunculannya, kita konsultansikan melalui ikhtiar berkecerdasan iman.

Saya rasa berita hadis ini jauh lebih layak kita simak, daripada meributkan kabar “bungkus baru tapi isinya lama” yang dijual oleh redaksi media. Mari, kita jelang akhir masehi ini dengan berlomba menemukan “Saudara Rasulullaah” yang bisa menyelamat-sejahterakan kita semua.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMinutes. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s