Sayangi Aku Mak, Kau Kuperbudak !

Galau, itu yang saya rasakan sekarang dan beberapa tahun ke belakang. Apa yang saya kuatirkan tentang pergeseran budaya di desa akibat desakan arus media, kini kian menggejala.

Mulai dari pudarnya tradisi unggah-ungguh generasi muda ke tetua sepuh, anak-anak yang kehilangan bahasa kromo inggil, hingga budaya gugur gunung yang dulu guyub kini meredup karena cukup digantikan iuran atau denda sesuai kesepakatan.

Diantara gejala pergeseran nilai-nilai kesahajaan desa, yang paling saya sesalkan adalah trend ibu-ibu muda meninggalkan rumah dan keluarganya untuk berkarir di pabrik.

Padahal saya tahu dan yakin, secara materi, hidup mereka cukup jika diraba dari analisa kebutuhan di desa karena suami sudah bertanggung jawab penuh walau berprofesi sekasta buruh –buruh sawah, buruh toko, buruh kantor, buruh mandor, buruh negara maupun buruh swasta.

Ibu-ibu ini rela membiarkan anak-anaknya berproses tumbuh kembang dengan kualitas asupan kasih sayang yang sangat kurang.

Tambah ngenes rasanya jika melihat ibu-ibu muda ini meninggalkan anak-anaknya untuk diasuh oleh mbah putri, — orang tua yang telah susah payah melahirkan, mendidik, membesarkan dan menikahkan mereka. Kesannya, ibu-ibu ini membebani lagi orang tua perempuannya dengan “tugas harian pengasuhan” yang melelahkan.

Demi mencecap janji materi dan sejumput nikmat ragawi, seolah mereka sedang melakoni drama elegi “anak memperbudak emak”. Lalu setahun sekali, biasanya saat Idul Fitri, ibu-ibu muda ini pulang sambang dan disambut tatapan kosong anaknya, yang sejak kecil kurang mengenal mereka.

Tragis dan ironis di saat ibu-ibu ini memilih bekerja dengan harapan membahagiakan anaknya, tapi alih-alih bahagia, justru sambutan asing yang diterima mereka.

Apakah pembaca sudah melihat film “Habibie & Ainun”? Jika belum, maka berikut ini saya akan kutipkan pernyataan Ibu Ainun dari buku “Habibie & Ainun” tentang bagaimana idealnya pilihan profesi kerja sebagai ibu rumah tangga.

“Mengapa saya tdk bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir: buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yg barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan resiko kami kehilangan kedekatan pada anak sendiri?

Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk pribadinya sendiri? Anak saya akan tidak memiliki ibu.

Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orang tua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu”.

Ibu Ainun berbicara tentang kepuasan batin yang lebih diutamakan daripada kepuasan profesional. Secara bijak, ia lebih memilih mengasuh, mendidik, dan mendampingi anak-anaknya untuk membangun kedekatan emosional –selain mungkin, mencipta harmoni komunal dan ikatan kolegial.

Ia rela melepas peluang kedokterannya demi masa depan anak-anak kelak. Meski untuk pilihan ini, ia sadar akan kehilangan pendapatan tambahan dan tidak jadi mandi materi dari upah profesi.

Apa yang dipikirkan Ibu Ainun tentang tata kelola rumah tangga sepola dengan ideal figur Ibu saya. Bahwa ibu adalah manajer perumahan dengan tugas utama pendidikan. Sukses prestasi seorang anak merupakan kerja heroik dan peran guru seorang ibu.

Di sini akan teruji betapa profesi ibu rumah tangga adalah karir luar biasa. Profesi ini bukan karir kasta “kelas dua”, juga bukan pekerjaan rendahan. Hanya wanita-wanita cerdas bernyali yang berani dan kuat memilih profesi karir ini.

Turut fenomena di desa saya, anak-anak akan belajar banyak dari proses kedekatan mereka dengan ibunya. Jika ikatan ibu anak merenggang, intensitas komunikasi jarang, maka anak-anak tumbuh liar dan memberontak.

Pengalaman saya setidaknya menggambarkan, murid-murid saya yang sejak kecil ditinggal ibunya bekerja, daya akseptasi dan keterampilan komunikasi sosialnya rendah. Anak-anak ini, sejak belia kurang kasih sayang ibunya. Mereka kekurangan nutrisi keibuan karena sehari-hari otaknya dicuci materi televisi, sementara ibunya bekerja entah mencari apa.

Bila membandingkan ideal pemikiran Ibu Ainun dengan ibu-ibu di desa saya, seperti anomali. Dulu, ibu-ibu desa kami punya konsep sama dengan Ibu Ainun yang “orang kota”, yakni memilih profesi ibu rumah tangga, mengasuh anak dengan nriman hidup pas-pasan.

Kini terbalik, ibu-ibu desa kami seolah berlomba berpola “sok orang kota” yang meninggalkan anak-anaknya untuk bekerja. Ibu-ibu muda desa kami ini, mungkin berlimpah materi, tetapi daya dampaknya juga luar biasa. Mereka melupakan tugas pengasuhan dan pendidikan anak, sekaligus mereka memperbudak si emak.

Saya jadi ingat, dan mungkin pembaca tahu juga, ada hadis Rasulullah yang menyebutkan diantara tanda akhir zaman adalah “budak perempuan melahirkan tuan”. Faktanya, fenomena ibu-ibu muda desa kami yang “memperbudak emak” seolah mengamini nubuat hadis tadi.

Lalu dengan begitu apakah akan terjadi ramalan perkiamatan tanggal 21 Desember 2012 besok pagi sebagaimana diramaikan selama ini?? Wallaahu a’lam bi showab.

Kalaupun misalnya hari berlalu hingga Sabtu, 22 Desember bertepatan Hari Ibu, maka saya akan menyelamati mereka yang ikhlas sukarela menempati profesi ibu rumah tangga dan cerdas berkarir mendidik anak-anaknya dengan sekuat tenaga, semampu sumber daya. Pada kaitan ini, saya mengimani pesan Rasulullah, tentang mulianya derajat mutu kaum ibu yang patut kita beri salut.

“Seseorang datang menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik? Rasulullah saw. menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab: Kemudian ibumu. Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Rasulullah saw. menjawab lagi: Kemudian ayahmu.” (HR. Shahih Muslim No.4621).

Pembaca, budaya manusia, pranata keluarga, tata kelola bangsa dan negara mirip metabolisme sistem tubuh yang berkaitan utuh. Jika satu rusak, semua terkena dampak. Begitulah ibaratnya keluarga kita dan pola kehidupan Indonesia. Jika politik negara, budaya bangsa, akhlak keluarga, tata kelola manusia diatur seenaknya “fardlu nafsu”, prestasi Indonesia juga kena imbasnya.

Saya percaya kaum ibu bisa memperbaiki kondisi negeri ini dengan cara mereka kembali kepada fitrahnya: mengelola manajerial rumah tangga dan mengasuh-didik anak-anaknya. Seorang ibu adalah rahim peradaban manusia. Di naungan kasih tanggungjawab ibu kita, nasib generasi muda dan pewaris bangsa Indonesia akan bergerak menentukan arahnya.

Saya hanya tidak ingin ibu-ibu muda yang memperbudak emak, nantinya melahirkan karma berupa anak-anak muda yang bergaya generasi koboy amerika. Anak-anak sebagaimana potret keluarga patut “hollywood” yang berkesan berantakan. Anak-anaknya liar, tanpa komunikasi manusiawi, dan bermandikan kekerasan jalanan.

Saya sangat tidak berharap anak-anak desa kami ini nanti tumbuh jadi generasi “senjata api”, sebagaimana peristiwa tragedi sekolah dasar Sandy Hook baru-baru ini. Anak-anak yang akibat kurang kasih sayang, bermental asosial hingga bernyali membunuhi teman-teman dan ibunya sendiri. Na’udzubillaah.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Sayangi Aku Mak, Kau Kuperbudak !

  1. agradiputra berkata:

    ijin share ya mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s