Islam Agama Semesta

Universalitas Islam tidak dibatasi oleh dinding-dinding kejumudan yang sempit dan primitif. Selain sebagai aqidah yang menjadi hakikat agama-agama purba, Islam merupakan satu rangkaian proses penyempurnaan aturan yang mengiringi manusia sepanjang peradabannya. Sumber akidah dan orientasi Islam sama dengan agama pendahulunya, yakni agama hanif, condong dan tulus melaksanakan penyembahan hanya kepada Allah SWT (diinillaah).

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia adalah pelopor ber-Tuhan satu, seorang Muslim, dan dia bukan termasuk golongan orang-orangmusyrik.” (QS. 3:67).

Rasulullah Ibrahim adalah bapak dari agama samawi yang banyak dipeluk manusia saat ini. Beliau beragama hanif yang berisikan kepatuhan dan ketaatan total terhadap Allah untuk mendapatkan keselamatan ridhoNYA. Demikian pula segenap anak cucu dan keturunannya yang berpegang teguh pada agama Ibrahim, tentu mengikuti cara beribadah yang dianut Ibrahim, yakni agama hanif, agama Allah.

Begitu heroik keteladanan Rasulullah Ibrahim dengan kepatuhannya dan kepasrahannya, beliau tetap saja berdoa meminta dijadikan muslim yang taat. Coba bandingkan dengan kondisi umat sekarang yang hanya karena sudah melaksanakan rukun Islam, sudah merasa penuh amalannya dan puas disanjung saja.

“Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub sepeninggalnya telah berbuat hal yang sama. Wasiat mana, berbunyi: “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untuk kalian, maka janganlah kalian mati, melainkan dalam memeluk agama Islam.” (QS. 2 : 132).

Seorang muslim bertanggungjawab mengislamkan keluarganya. Sebab di akhirat, anggota masing-masing keluarganya akan menuntut. Setiap pribadi muslim juga dituntut wafat dalam keadaan menyerahkan jiwa raga, tenaga, pikiran, harta, bahkan nyawanya atas dasar kepatuhan kepada Allah SWT.

Itulah hakikat kemenangan puncak dalam hidup, yakni ketika ajal menjemput, diri ini masih berpijak pada jalan lurus, serta mendapatkan ridho ampunanNYA.

“Dan siapakah yang lebih baik cara beragamanya daripada amal yang ikhlas dengan berserah diri kepada Allah, berbuat kebajikn dalam mengikuti agama Ibrahim yang cinta tauhid? Allah telah menjadikan Ibrahim itu kesayanganNYA.” (QS. 4 : 125).

“Adakah kamu menyaksikan swaktu Ya’qub menghadapi kematian. Ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apakah yang kamu sembah sepeninggalku?”. Mereka berkata, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan para bapakmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dan kami berserah diri kepadaNYA.” (QS. 2 : 133).

Ajaran Islam tidak memandang jenjang kasta dan perbedaan SARA. Ini bisa kita buktikan dengan melihat kembali tujuan pengamalan ajaran Islam, yakni ingin selamat dunia akhirat. Rasanya, tidak ada manusia yang tidak ingin selamat.

Apapun suku bangsa, warna kulit, bahasa dan budayanya, tentu akan mendamba keselamatan di kehidupan dunia dan akhiratnya. Walau beberapa manusia tidak percaya adanya hari berbangkit dan berusaha untuk keselamatan dunianya saja.

Di sinilah letak pengejawantahan Islam yang menjanjikan jalan keselamatan bagi semua manusia akan diuji. Para muslim bertanggunggugat, apakah mampu menciptakan kerukunan dan persatuan dengan cara menyayangi setiap diri manusia dan mengalahkan musuh ghaib syetan dalam dirinya?

Seorang muslim harus berusaha mengislamkan dirinya, keluarganya, dan kerabat dekatnya untuk patuh, tunduk pada agamaNYA. Dalam kaitan ini, mutlak bagi setiap muslim untuk meminta bimbingan cara beribadah yang pas menurut aturanNYA, bukan berdasarkan selera nafsunya saja.

Sebagai renungan penting, dari ribuat ayat berupa perintah dan larangan dalam Al Quran, berapa yang sudah diperhatikan selain amalan lima rukun Islam saja? Jika kita sudah berupaya sekuat tenaga menggenapi ribuan ayat itu, bagaimana keluarga kita? Sudah atau belum sama sekali?

“Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami berdua, manusia muslim yang patuh kepada-MU, dan begitu juga jadikanlah anak cucu kami ummat yang patuh kepadaMU, dan tunjukkanlah kepada kami peraturan ibadah kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.” (QS. 2 : 128).

Rasulullaah Ibrahim sebagai bapak agama-agama samawi, dalam doanya memprioritaskan keluarga dan keturunannya agar bisa Islam selamanya. Kesemestaan cara pandang Rasulullaah Ibrahim dalam mengislamkan keluarganya tercermin dari doa ini.

Beliau terus merasa kurang dari sempurna sehingga membutuhkan bimbingan peribadatan dari Allah SWT. Pun sebelum mengislamkan umat, beliau terlebih dulu berupaya mengislamkan keluarga dan keturunannya.

Kini mari kita refleksikan diri yang mengaku insan berkarakter agama Ibrahim, sudahkah merasa seperti yang pernah dirasakan Rasulullah Ibrahim? Baik kesadaran dirinya yang lemah dan butuh bimbingan kebenaran maupun kerendahan hatinya?

Tidakkah justru umat sekarang mabuk kebanggaan sebagai umat beragama dengan populasi terbanyak di dunia? Tidakkah nilai kesemestaan dan pengamalan nilai-nilai universal baru dibuktikan dalam pertunjukan seremonialdan ritual ibadah massal?

Mari kita tunggu, apakah kita mampu memanusiakan dan mengagamakan satu, sebagaimana teladan Rasulullaah Ibrahim dahulu? Mari kita buktikan, bahwa nilai universalitas Islam yang bersumber pada ajaran ketauhidan bisa mendatangkan kerukunan, terutama pada pemeluk agama.

Ibrahim membuktikan universalitas Islam dengan pengorbanan, cinta kasih, dan pelayanan kemanusiaan. Ibrahim tidak cuma mengaku saja, tapi ia bicara Islam dengan bekerja mematuhi perintah Allah SWT. Karena hanya dengan itu, kita anak-anak Ibrahim, bisa kembali meneladani perilaku beliau ini. Ibrahim bapak kita semua, bapak muslim sedunia, bapak ideologi samawi.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMinutes. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s