Mata Hati

Ahmad Basyir, 25 th, sebagaimana manusia lainnya, ditakdirkan Tuhan punya kekurangan dalam menjalani hidup. Ia seorang survivor low vision, penyandang keterbatasan daya jangkau indera mata. Batas pandangan efektif ke obyek hanya beberapa jengkal saja dan itupun berbentuk siluet samar.

Jika malam hari, daya jangkau penglihatannya kian berkurang, nyaris hilang. Namun siapa kira, atas kuasa Allah semata, ia memiliki kelebihan yang –mungkin– tidak dipunyai manusia berindera mata normal.

Selasa s/d Kamis hari ini, (4-6/12), Basyir bersama isterinya – yang juga penyandang low vision–, melatih santri kami dan beberapa warga bina tuna netra, cara membaca Al Quran huruf braille.

Kepada para santri, ia memberikan materi pelatihan pelatih (training of trainer/TOT). Sedang ke peserta tuna netra, ia cukup mengajarkan baca tulis Al Quran edisi khusus ini.

Selain materi pengajaran Al Quran, Basyir juga membagi keterampilannya dalam berkomputer. Melalui piranti lunak berlisensi, ia mengajarkan penggunaan komputer dan jelajah dunia maya bagi tuna netra.

Saya lihat sendiri, betapa kemampuannya dalam bina suasana mampu menyemangati peserta. Untuk diketahui, beberapa peserta baru pertama kali mendapatkan materi pelatihan ini.

Tentu saja rasa kagok dan kaget menjadi tantangan bagi fasilitator pelatihan. Namun dengan keterampilannya, Basyir bisa mengelola itu semua dengan sahaja, tenang dan senyum khasnya.

Saat mendemonstasikan komputer, ia gunakan jari di papan ketik, tetikus, dan fitur piranti lunak khusus dengan lancar. Sambil itu, ia dengan telaten meladeni pertanyaan para peserta dan berpindah-pindah lokasi mendampingi praktik perkomputeran, satu per satu.

Di tengah keterbatasan indera yang dimilikinya, Basyir masih mampu bersyukur dengan cara membagi keahliannya pada siapa saja, gratis tanpa dipungut biaya. Melalui supereality Basyir+isteri ini, sungguh Allah SWT telah menjewer kelebay-manjaan kita saat ditempa sedikit ujian saja.

Dibanding cobaan Basyir, keadaan kita belum sepantasnya mengeluh manja. Basyir mengajarkan kita pelajaran bijaksana bagaimana memanfaatkan kehidupan dan membagi kebersyukuran.

Pertama, sesungguhnya mata hati jiwa bisa lebih berbicara saat mata lahir kita sedang sakit atau dibutakan nafsu keduniawian. Menurut Basyir, meskipun dua mata kasatnya tidak bisa mengindera sempurna, namun ia berusaha menghidupkan empati mata hatinya sebagai bentuk syukur pemberian Tuhan.

Syukur itu ia gunakan sebagai kekuatan untuk melawan godaan keluh keputusasaan. Selebihnya, ia membagi syukur dengan cara mengajar keterampilan yang dimilikinya. Mata hati Basyir mencolok mata kita yang normal ini.

Betapa kita sering kufur syukur dan selalu ingin protes kepada Allah, meminta lebih dari yang sudah kita dapatkan –alih-alih membaginya kepada sesama. Akibat derasnya iklan tipuan dunia dan kuatnya Dajjal membutakan mata hati ini, mata normal kita seolah tidak ada fungsinya.

Bahkan hujan yang turun, kita rutuki sebagai penunda jam kerja. Mentari bersinar setiap pagi sangat jarang kita syukuri. Indonesia yang meraksasa potensinya, kita rusak dengan berita-berita agitasi dan propaganda. Mata normal kita tidak mampu memaknai hadiah itu sebagai pemberian terbaik.

Pada perilaku diri yang bebal ini, Allah memperingatkan kita yang belum memiliki mata hati.

“Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan benar).” (QS. 2:18)
Kedua, kita bisa memetik cerita dari Basyir ini, tentang proses pembelajaran sampai mati. Peserta pelatihan yang diampu Basyir, rata-rata usianya kepala lima. Mereka sangat antusias belajar mengeja Al Quran, meskipun terbata-bata pelan. Pun saat mencoba komputer dan internet, mereka tidak malu menunjukkan ketidaktahuan dengan cara bertanya kepada pendamping pelatih.

Kesemangatan belajar para peserta yang diampu dilakoni Basyir bersama isteri merupakan wujud praktik dari teladan pembelajaran Rasulullah.

Bahwa belajar itu wajibnya dari gendongan bayi sampai jelang mati. Tidak berhenti ketika jadi alumni santri, tidak istrirahat ketika dipanggil ustadz, atau jeda selamanya saat usia beranjak tua. Apalagi jika pembelajaran itu berkait peningkatan iman dan kualitas kebenaran, berhenti belajar berarti emoh perkara benar.

Seringkali menggejala di antara kita, ketika sudah sampai pada raihan gelar kecendekiaan, antusias belajar kita ikut purna. Terutama fenomena ini melibat pada pengamal agama.

Misalnya ketika jadi hafidz penghafal Al Quran, banyak di antara kita yang seolah puas di situ saja. Lupa bahwa pengamalan praktik nyata dari ayat-ayatNYA, perlu prioritas segera. Ditambah lagi, persoalan umat menunggu kiprah kebermanfaatan dari firman Tuhan yang dihafalkan.

Di sini, semangat belajar mengamalkan Al Quran dan praktik kebenaran terasa kurang mendapatkan perhatian.

Misalnya, terpikirkah oleh kita betapa para tuna netra itu ingin belajar Al Quran tapi belum ada yang mengajarkan? Atau terlintaskah di benak kita untuk datang ke pelosok kampung, mengumpulkan tuna netra, lalu melatih mereka membaca aksara hijaiyah braille? Yang dengan amal ini kita bisa membuktikan pemanfaatan ayat Al Quran sekaligus kebenaran firman Tuhan — bukan sekadar tradisi hafalan?

Sekali lagi, para tuna netra yang didampingi Basyir dan isteri, mengajari kita tentang semangat belajar sampai mati, terutama belajar praktik perkara benar, terutama belajar pengalaman ayat-ayat Al Quran yang kita hafalkan.

Ketiga, bersedekah tidak perlu menunggu kaya harta dulu. Basyir dan isteri mampu wakaf waktu dan keterampilan untuk berbagi amal sosial kepada sesamanya. Selama ini, banyak diantara kita mengeluhkan kekurangan kepemilikan, sehingga untuk sedekah nyaris tidak pernah. Katanya, menunggu lebihan rejeki dulu.

Padahal jika kita mau belajar dari pengalama Basyir dengan semua kekurangannya, ia bisa memberi lebih, tanpa harus berlebihan harta. Ia bersedekah ilmu, wakaf waktu, dan membagikan potensi syukur Tuhan di tengah cobaan keterbatasan.

Meski mata lahir Basyir kurang sempurna memirsa, tapi mata hatinya mampu meraba kebutuhan akhirat melalui sedekah ilmu manfaat untuk kepentingan umat.

Pembaca, saya tidak berharap kita, atau ada diantara keluarga kita, mengalami cobaan fisik seperti Basyir dan isteri. Karena bisa jadi, kita belum kuat menerimanya. Namun saya sangat ingin, mata hati Basyir mampu mengilhami mata normal kita ini tentang cara bersyukur dan berbuat baik.

Saya berdoa supaya mata hati kita terbuka dan mampu membaca petunjuk benar dariNYA. Jangan sampai dua kelopak mata normal kita cermat melihat keperluan dunia yang sesaat, tapi mata hati kita buta dan tersesat ketika menerawang kebutuhan akhirat.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s