Qunut Perut

Pernahkah kita mempertimbangkan suara tuntutan perut sebelum kita menyorongkan makanan ke mulut? Atau setidaknya berbicara menawarkan selera menu yang kita pilih kepada perut yang akan menerima dan mengolah semua serapah makanan kita​?

Apa yang terjadi jika suatu saat perut berqunut kepada Allah SWT supaya ia diberikan kesempatan istirahat beberapa saat? Apa yang akan kita lakukan jika ia enggan mengeluarkan sisa limbah makanan yang kemaruk kita telan?

Tahukah kita bahwa saluran pencernaan kita panjangnya 6 kali tinggi badan (± 10 meter) ini?. Dalam jangka waktu lama, ia akan dikotori limbah makanan tidak terkeluarkan yang rata –rata beratnya 3 – 11 kg.

Selanjutnya makanan tak terurai itu akan membusuk dan mengeluarkan zat – zat beracun di dalam usus kita. Keluaran dari makanan ini mengandung racun (toxin) yang bisa terserap oleh usus dan menjadi sumber semua penyakit berbahaya.

Perut, disepakati oleh beberapa tabib kesehatan, adalah penyebab munculnya penyakit. Secara jelas Rasulullah memberi penegasan tentang ini. “Sumber dari segala penyakit adalah perut, perut adalah gudang penyakit dan berpuasa itu obat” (H.R. Muslim).

Mari bersepakat, perut tidaklah salah, karena tugasnya cuma menerima. Patut digugat adalah mulut kita yang bernafsu ngiler saja saat melihat makanan atau minuman. Kita, jarang sekali meneliti, apakah makanan yang enak di mulut berarti bagus di perut?

Di sinilah, filosofi pertanyaan dari Imam Ali, “hidup untuk makan ataukah makan untuk hidup”, perlu kita hidupkan kembali.

Bisa dimaknai, bahwa sebenarnya sunnah tertib makan adalah sekadar menyambung kehidupan, menguatkan energi penyembahan Tuhan dan pelayanan kemanusiaan, menyehatkan organ badan, serta mensyukuri hadiah pemberian gratis dari Tuhan.

Jika tidak dilandasi ikhtiar ini, makanan di perut kita akan jadi sumber limbah yang menyampah. Bahayanya lagi, jika makanan tidak tercerna sempurna dan tidak terbuang bersih, ia bisa jadi bibit penyakit.

Terlalu banyak mengisi perut dengan makanan, menurut penelitian, bisa memicu lambatnya kinerja otak dan menyebabkan kebodohan. Racun-racun dari makanan yang kita titipkan ke perut, sering bermasalah di kemudian hari.

Jajanan instan dan hidangan yang bermuatan pengawet, pewarna, pengenyal, penyedap rasa, sepintas terasa enak di mulut. Tetapi, apakah itu sesuai kebutuhan perut yang juga memiliki keterbatasan piranti pengolahan?

Proses ekskresi yang memerlukan bantuan zat-zat pelancar agar makanan mudah keluar, seringkali tidak kita asupi. Sementara bahan kimiawi pada makanan kemasan atau olahan instan yang memicu racun perusak organ pencernaan (usus, hati, ginjal dll), justru kita biasakan.

Jadi, bila ada di antara kita yang sakit, jangan salahkan perut. Cobalah memarahi mulut yang nyosor saja menuruti selera nafsu kemaruk kita.

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rejeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepadaNYA kamu menyembah.” (QS. Al Baqoroh : 172)

Ayat ini menyiratkan pesan kepada kita supaya memilah makanan yang baik, mencakup dua hal, yakni aspek sehat (thoyyib) serta halal.

Jika Allah dan Al Quran sudah ngeman manusia dengan ayat-ayat sehat ini, maka naif jika kita masih lebih menurutkan godaan mulut daripada metabolisme perut yang berkaitan dengan kebutuhan asupan badan?

“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. 80 : 24).

Sampai ayat 31 dari surat ini, Allah SWT menjelaskan secara tersirat tentang urutan menu makanan yang ramah untuk pola pencernaan perut kita. Diantaranya jenis sayuran, buah-buahan, tumbuhan, dan ragam biji-bijian. Baru setelah itu ada alternatif pilihan dari jenis daging hewan yang dihalalkan.

Belajar dari ayat ini, bisa jadi mahalnya stok daging akibat berkurangnya suplai dari peternak impor, berarti berkah buat usus kita. Setidaknya mengurangi konsumsi daging dapat mengistirahatkan perut kita dari kerja ekstra.

Plus kita bisa berlatih jadi vegetarian yang relatif murah pembiayaan, apalagi jika menuai dari kebun sendiri. Kitapun tak perlu galau nasional atau demo-demo vandal hanya karena pasokan daging dipermainkan para spekulan.

Pastinya, kita dapat menghemat keuangan dari pengeluaran makanan yang kurang sesuai kebutuhan badan.

Pembaca, perut memang tidak bermulut. Ia memang tidak dicipta untuk berbicara secara lisan pada kita. Namun disiplin kesehatan telah banyak membuktikan, bahwa makanan yang kita telan bisa jadi potensi ancaman. Badan bisa penyakitan dan kondisi ruhani terabaikan.

Apalagi bila makanan itu tidak diperoleh secara halal, tidak diproses suci dan bersih, tidak di Bismillahi, maka kita sekeluarga berikut generasi pewarisnya yang akan menanggung keburukannya.

Di sinilah, perut seperti mengingatkan kita akan haknya. Saat kita sakit dan enggan makan, sebenarnya itu hakikat suara qunut (doa penuntut) dari perut. Bahwa ia bukan tempat sampah yang bebas kita jejali makanan dan asupan keduniawian. Perut butuh istirahat dan jeda kerja.

Jika kita ibaratkan buruh, ia tidak bisa selamanya lembur. Ia perlu cuti untuk memulihkan kondisi. Dari daftar kebutuhan yang perut tuntut, puasa adalah satu diantaranya.

Rasulullah sendiri menganjurkan terapi ini agar perut kita tidak membibit penyakit. Bismillaah, mari berupaya hidup sehat dengan rajin menjaga nafsu mulut dan rutin mengistirahat kerja perut.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s