Islam Agama Kebenaran

Sebagai agama samawi, Islam haruslah memiliki kebenaran mutlak diantara klaim kebenaran-kebenaran lain. Artinya, sebagai aturan Tuhan yang mengatur perikehidupan umat manusia, Islam adalah satu-satunya aturan yang wajib diikuti oleh semua umat manusia.

Maka, apapun agama yang dipeluk seseorang, dia haruslah mau menyerahkan jiwa raganya dalam aturan Tuhan. Ini jika seseorang tersebut masih mengakui agamanya yang paling benar.

Tidaklah berlebihan jika Al Quran memberikan batasan, bahwa belumlah seseorang itu disebut “beragama” jika belum bisa mengamalkan seluruh isi kitab Taurat, Injil, maupun Al Quran. Maknanya, karena seluruh kitab-kitab agama samawi itu berasal dari Tuhan, maka setiap pemeluk agama-agama tersebut harus mengimani secara utuh semua kitab itu.

Sebab, turunnya kitab-kitab dan Rasul yang mengiringi secara berturut-turut itu, dalam rangka penyempurnaan yang disesuaikan dengan situasi/kondisi kehidupan atau perkembangan peradaban zaman. Maka, setiap pergantian hukum atau syariat yang dibawa kitan dan Rasul berikutnya, haruslah diimani dan dipatuhi kebenarannya.

Seorang pengikut Musa AS boleh dianggap benar jika ia mengimani dan mematuhi ajaran Rasul Isa AS yang turun kemudian. Berlanjut kepada pengikut Rasul Isa AS, mereka bisa dianggap setia dan konsisten keimanannya jika mereka percaya dan mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad SAW beserta perangkat perubahan syariat yang dibawa beliau.

Islam itu ajaran yang menekankan kepatuhan hamba pada Tuhannya. Termasuk harus patuhnya seseorang hamba terhadap keputusan Tuhan untuk mengutus Rasul berikutnya sebagai penyempurna ajaran agama sebelumnya.

Dengan demikian, meski pada lahirnya seseorang mengaku Muslim, tapi ia tidak mencerminkan kepribadian yang patuh tunduk pada semua ketentuan Tuhan, maka bohonglah pengakuan dan klaim Muslimnya.

Sebaliknya, bila pada awalnya seorang hamba itu bukan Islam tapi kemudian dia patuh menerima perubahan dan penyempurnaan aturan Tuhan yang dibawa Rasulullah Muhammad, serta ia mau meninggalkan tabiat/ritual lama, maka Muslimlah dia.

Berangkat dari konsep itu, maka ajaran Islam memandang manusia sebagai sesama saudara yang wajib diajak kembali pada kebenaran, tidak terkecuali yang lahirnya mengaku telah Islam.

Ajaran Islam mengenal satu musuh bersama, musuh semua manusia, yakni setan yang bersembunyi di hati. Dialah satu-satunya lawan yang harus diperangi dari jiwa ini, diusir dari hati, dan disingkirkan dari kehidupan manusia.

Jikapun ada perintah perang dalam Al Quran, sifatnya sangat darurat dan harus mempertimbangkan berbagai pilihan keputusan. Misalnya jika dinilai sudah tidak bisa lagi diperingatkan secara persuasif, lalu mereka bersatu dengan setan dan dikuatirkan bila dibiarkan akan menulari manusia yang sehat imannya, menjangkiti lebih banyak korban lagi. Pun demikian, pada orang semacam itu masih diberikan kesempatan bertaubat bila mau insyaf menyadari kekeliruannya.

Konsep kasih sesama yang merupakan sendi dasar ajaran Islam sangat menghargai setiap jiwa manusia. Bahkan seorang diri manusia dipandang lebih berharga nilai kemuliaannya daripada harga dunia seisinya. Karenanya usaha untuk menolong satu jiwa merupakan kewajiban dalam Islam tanpa pilih kasih membedakan suku, ras, golongan, bahasa, agama, bangsa, dan warna kulitnya.

“Sesungguhnya agama yang diridloi di sisi Allah adalah Islam. Tidak ada pertikaian diantara ahli Kitab mengenai hal itu melainkan sesudah mereka mempunyai pengetahuan agama semata-mata kedengkiannya yang ada diantara mereka. Barang siapa yang kafir kepada ayat-ayat Allah hendaklah diinsyafinya bahwa Allah itu Maha Cepat Perhitugan-Nya.” (QS. 3 :19).

Islam sebagai agama yang diridloi Allah mengandung makna bahwa agama yang diterima di hadapan Allah adalah aturan yang berasal atau bersumber dariNYA. Sementara seluruh agama yang dibawa para Rasul terdahulu juga berasal dari Allah, berarti semuanya diridloi.

Hanya saja, karena Islam sebagai aturan terakhir yang Allah tetapkan, maka aturan inilah yang harus ditaati dan dijalani semua manusia, tanpa kecuali.

Berturut-turutnya gama duturunkan ke dunia seiring dengan pergantian zaman adalah mengikuti sistem penyempurnaan. Sehingga kita harus menyadari dan mematuhi bahwa aturan terakhir itulah yang harus kita terima sebagai pedoman hidup.

Di sini akan terbukti seberapa kuat kepatuhan umat manusia dalam menerima keputusan Tuhan, termasuk keputusanNYA mengganti dan menyempurnakan aturan-aturanNYA.

Lantas, mampukah manusia yang merasa sudah Islam, mau menaati seluruh aturanNYA yang berjumlah ribuan itu? Akan naif jika hanya dengan pandai berceramah, menyitir ayat Tuhan dalam Al Kitab, kemudian merasa benar, menyalahkan individu dan golongan lain, lalu enggan diperingatkan karena merasa sudah kebal amal atau steril dari dosa pribadi.

Penting diingat bahwa jiwa yang patuh (Islam) mestinya terbuka akan kritik dan saran. Kesadaran ini muncul dari fakta bahwa karakter manusia yang tidak pernah sepi dari dosa dan kesalahan.

Maka jika diantara kita yang yakin mengklaim sebagai Muslim, seharusnya mau mendengarkan nasehat dan peringatan, terbuka menerima dawuh dan pitutur itu dari orang yang terpandang bodoh dan berkasta jelata, lebih rendah kadar intelektualitasnya dari kita.

Pada pembuktian perilaku ini, klaim kebenaran Islam kita akan tampak bohong atau betul. Sudahkah sedemikian Islamkah kita para cendekia, para kyai, ustadz, santri, dan saudara-saudara Muslim saya? Jika ditanya “haatuu burhaanaku in kuntum shoodiqiin”, sudahkah kita mampu menyuguhi bukti kebenaran nyata perilaku Islam kita?

 

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s