Terancam Jahannam

“Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka neraka jahimlah tempatnya.” (QS. 79 : 38 -39).

Ayat tersebut kiranya mampu menyadarkan kita bahwa saat ini hampir semua manusia dalam kondisi terancam jahannam. Betapa tidak, manusia yang lalu lalang di jalan, sibuk di kantor, bekerja di pabrik, meladang di sawah, belajar di sekolah, mondok di ma’had/madrasah, dan kuliah teori di perguruan tinggi, cenderung mempersiapkan bekal hidup dunianya.

Kehidupan akhirat hanya menempati urutan kesekian dalam prioritas perencanaan, jarang sekali terlintas dalam pikiran.

Memang ketika diingatkan, kebiasaan ngeles selalu muncul alasan, bahwa apa yang telah dan sedang mereka usahakan adalah “sudah dunia akhirat”. Tetapi pada praktik sehari-hari dan hakikat kenyataan di setiap detik hidupnya, hanya fokus dunia saja yang mereka bahas dan persiapkan.

“Sekali-kali tidaklah keadaaan seperti yang kamu katakan ! Tetapi sebenarnya kamu lebih mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan kehidupan akhirat.” (QS. 75 : 20 – 21).

Kebanyakan diantara kita sangat khawatir melarat dan miskin di dunia, tapi tidak pernah takut melarat dan miskin di akhirat. Kita berusaha agar tidak diremehkan dan atau terhina di dunia, sementara kehinaan dan kesengsaraan akhirat yang mengancam di depan mata, sedikitpun tidak membuat kita gentar.

Banyak orang berikhtiar mati-matian mendapatkan kemewahan dan mewujudkan kesejahteraan duniawi. Namun kemewahan dan kebanggaan akhirat yang ditawarkan Allah, sama sekali tidak menarik perhatian manusia kebanyakan.

“Bahwasanya mereka orang-orang yang kafir itu menyukai kehidupan dunia, dan tidak mempedulikan timbal belakangnya, yaitu hari yang sangat berat.” (QS. 76 : 27).

Kala diantara kita ada yang tersandung masalah pidana atau perdata, mereka rela berkorban apa saja, menyewa pengacara, menyuap jaksa, dan berani mengeluarkan puluhan hingga ratusan juta biaya supaya terhindar dari ancaman hukuman, setidaknya bisa mengurangi masa tahanan.

Tapi ketika terancam kemelaratan dan hukuman siksa akhirat akibat kelalaian dan pelanggaran agama, kita tetap tenang seolah ancaman itu tidak ada. Sebagaimana manusia umumnya, kita tidak menggubris sedikitpun.

Pada mulanya, sifat dan pola pikir ini hanya dimiliki orang-orang yang kafir dan tidak percaya hari akhirat atau peristiwa kiamat. Tapi jika kita yang lahirnya mengaku beriman, ternyata juga berpola pikir dan berorientasi hidup serupa mereka, maka berarti kita sedang ketularan sifat-sifat kafir.

Semuanya terpulang kepada diri kita masing-masing, kesejahteraan mana yang akan kita pilih dan prioritaskan, dunia atau akhirat? Allah memberikan kebebasan untuk memilih, mengekang nafsu kebebasan di dunia untuk ditukar kebebasan di akhirat?

Ataukah melepaskan nafsu bebas, mewah di dunia dengan konsekwensi menanggung derita dan melarat di akhirat? Apakah kita lebi memilih bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian? Ataukah bersenang-senang dahulu bersakit-sakit kemudian?

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan sementara di dunia ini, Kami berikan sekarang juga, berapa saja Kami kehendaki dan kepada siapa saja yang Kami sukai. Kemudian Kami sediakan baginya neraka yang akan membakarnya sebagai orang yang nista dan terbuang.” (QS. 17 : 18).

“Dan siapa yang menghendaki kehidupan akhirat, dia berjuang dengan gigih untuk mencapai cita-citanya sebagai seorang mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang terpuji.” (QS. 17:19).

“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu, Kami limpahi terus karunia dari Tuhanmu. Karunia itu diberikan tanpa pandang bulu.” (QS. 17 : 20).

“Perhatikanlah bagaiamana Kami melimpahi yang sebagian berlebih dari yang lain. Sudah pasti dalam kehidupan akhirat, jauh lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar kelebihannya.” (QS. 17 : 21).

Setiap saat hendaknya kita selalu menyempatkan diri untuk menengok kembali, sudah seberapa banyak kesiapan kita menghadapi kehidupan tersebut? Jika untuk dunia yang masa hidupnya hanya puluhan tahun saja, kita jungkir balik memenuhi kebutuhannya, maka untuk akhirat yang abadi selamanya tentu butuh waktu, konsentrasi dan usaha yang lebih serius, fokus dan priortas bukan?

Jika di dunia sudah punya rumah, sudahkah di akhirat tersedia? Di dunia ini, perut kita terisi setiap hari, sudahkah ada paket makanan yang kita kirimkan ke akhirat, dengan cara menafkahi fakir miskin? Kita yang mempersiapkan masa depan dan warisan kesejahteraan untuk anak beserta keluarga, sudahkah memikirkan masa depan dan kesejahteeraan mereka di akhiratnya?

Betapa merugi, hidup yang hanya diupahi kelelehan, dihadiahi kesusahan, ditekan kesibukan, dikejar-kejar target pencapaian, lalu setelah itu mendadak dijemput kematian. Fokus mengurus dunia kita berakibat lalai terhadap kesiapan hidup di akhirat.

Sudah cuma dapat enak sesaat di kesementaraan dunia, ternyata di akhirat nasibnya terlunta-lunta karena perbekalan tidak tersedia. Kelalaian dan kesalahan itu ditebus dengan jatah makanan dan rumah hunian bernama neraka. Na’udzubillaah tsumma na’udzubillaah.

Semoga hari-hari yang bercuaca sangat panas, baik malam hari dan siang ini, bukanlah wujud nyata aura Jahannam yang sedang mengancam, akibat kita yang riuh terlena menikmati pesona dunia. Sebagaimana diceritakan dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhory, “…panas yang berlebihan adalah sebagian dari hembusan Jahannam.” [HR. Al-Bukhori].

Saya berharap kita semua bisa merasakan ancaman jahannam yang nyata di depan mata ini. Seringlah refleksi pribadi, menanyakan langsung kepada diri, apakah lebih banyak persiapan hidup kita di dunia atau akhirat?

Jika lebih banyak berfikir dan bekerja untuk kebutuhan dunia, maka jahannam sedang mengancam sambil mendekati ajal kita. Sebaliknya jika fokus kita lebih serius mengurus perbekalan akhirat, melalui ikhtiar amal sosial di dunia, maka ampunan dan ridlo surgaNYA sedang tersenyum memanggil-manggil kita.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s