Alumni Haji

InsyaAllah, bagi keluarga atau kenalan kita yang berangkat ke tanah suci, jadwal ibadah hari ini adalah wukuf di Arofah. Setiap saya dipamiti orang pergi haji, dan terutama merenungi peristiwa wukuf ini, nalar bodoh saya selalu bertanya-tanya.

“Apakah perayaan rukun haji semirip pementasan parodi anomali kolosal umat ini? potensi berlimpah banyak tapi berserak dalam puak-puak yang mudah dikotak-kotak? Akankah wukuf haji hari ini mampu menyatukan kerukunan ataukah berakhir sebiasa wisata “rites de passage” pada umumnya?”

Harapan saya, kemah di Arofah mampu memunculkan kesadaran mujahadah dan melahirkan kerukunan satu jamaah di bawah kibaran panji risalah ilahiah. Besok pagi, Jumat (10/Dzulhijjah) jelang fajar, tanah suci akan menggelar “haji akbar”.

Idealnya, akan ada perubahan besar bagi selamat sejahteranya bangsa ini, ukhrowi dan duniawi. Terutama bagi keluarga dan atau kenalan kita yang berada di sana. Kita berharap sekembali mereka ke Indonesia, akan ada perubahan positifi yang signifikan, setidaknya buat pribadi –jika tidak bisa nyerambahi tetangga dan atau umatnya.

Sebagaimana ideal pembelajaran sepanjang kehidupan, proses haji ini mestinya diniati serupa. Ada keberlanjutan setelah berijazah kelulusan. Tidak lantas berhenti ketika jadi alumni. Gelar haji bukan berarti pemberhentian amalan atau muslim paripurna yang berstempel nama sosialita.

Ritus haji sesungguhnya tidaklah berakhir di Makkah-Madinah, tapi terus berlanjut saat para jamaah kembali nanti. Hakikatnya, setiap hari adalah tindak lanjut pembelajaran dari praktik “sekolah” 40 hari di tanah suci.

Pembaca, seperti yang kita yakini, rukun ibadah haji merupakan napak tilas semangat peneladanan Rasulullah Ibrahim AS. Betapa proses mendapatkan kebenaran haruslah diraih dengan pengorbanan agung. Bila Allah sudah menghendaki, harta tercinta seperti anak dan istri mesti rela ditinggalkan demi suksesnya misi ilahi. Proses itu berlangsung sampai mati.

Nah, seringnya, kesakralan haji justru dikotori oleh kuatnya virus cinta kita kepada dunia, bayangan kondisi keluarga, dan godaan wisata belanja. Sungguh berbalik dari tradisi haji yang diteladani Rasulullah Ibrahim tadi.

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah mengingat Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut bapak/moyang/keluargamu atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari (mengingat keluargamu) itu.” (Qs. Al Baqoroh : 200).

Lebih miris lagi bila ada yang memanfaatkan hajatan tahunan ini sebagai pelaris bisnis duniawi. Jikapun merapal doa, kalimat yang diucapkan cenderung berorientasi profan. Bahkan tidak jarang, terdapat oknum jamaah yang salah kaprah “ngalap barokah”.

Diantaranya –kami lihat sendiri– menggosok-gosok berlembar-lembar kertas (entah proposal atau rajah?) di dinding Ka’bah. Semoga saja prasangka saya salah. Namun sebatas yang saya pahami, perilaku seperti ini tidak ada dalam sunnah manasik Nabi.

Jika kekeliruan itu diteruskan, maka dampak positif haji akan berhenti sampai di level yang sangat terbatas. Dunianya, mungkin menambah tebalnya devisa negeri Saudi, mungkin kian memicu bisnis bimbingan penyelenggaraan haji, beserta efek terbatas ekonomi plus gemuknya elit birokrasi.

Bisa jadi kian banyak calon jamaah nanti yang gagal berangkat karena rebutan kuota. Barokah ilahiah inilah yang kurang terasa manfaatnya, terutama bagi umat secara langsung. Bagi jamaah yang berangkat, efek positif kekhusyukan ruhani sering berhenti ketika di tanah suci.

Begitu selesai prosesi, cukup puas menyandang peci “haji alumni”. Selanjutnya satir haji ini akan terulangi kembali. Setelah dari Makkah kembali ke rumah, bikin “ikatan perhajian”, “himpunan”, “persatuan”, yang aktifitasnya sekadar berbagi drama realigi selama 40 hari. Selebihnya ingin berhenti dari amal sosial, karena merasa surgaNYA sudah diborong massal.
Bagi keluarga atau kenalan kita yang gagal pergi haji, tak perlu berkecil hati. Justru Allah sedang mencerdaskan kita semua dengan rencana terbaikNYA. Pasti ada hikmah yang bisa dibaca. Sebagaimana kisah pedagang sepatu yang gagal pergi haji, ternyata di mata Allah ia telah mabrur ketika cicilan 30 tahun ONH dikorbankan untuk menyantuni tetangganya yang miskin papa.

Bisa jadi Anda yang saat ini tertunda ziarah ke Makkah, diberi Allah alternatif amalan yang lebih berfaedah. Berikhtiar dan berdoalah, semoga Anda diberi derajat haji seperti pedagang sepatu tadi.

Saya mengajak para jamaah haji agar ikhlas melaksanakan teladan Rasulullah Ibrahim AS semurni-murninya. Jangan berhenti ketika prosesi usai di tanah suci. Hakikat amalan haji tidak mengenal alumni, apalagi hanya puas berganti warna peci.

Mari berprosesi haji dalam ucapan, pikiran, dan konsentrasi amalan setiap hari, setiap saat sampai kita dijemput wafat. Semua itu kita niati mengejar derajat 99 % di akhirat, berupa ampunan dan ridlo Allah SWT.

Bagi kita yang belum mampu menunggu dan membiayai antrian pemberangkatan, Allah masih menyediakan lahan amalan. Kita tetap bisa berhaji dan berkorban, menapak tilasi teladan Rasulullah Ibrahim AS.

Caranya dengan berkoban hewan, bisa beli dari rejeki sendiri atau urunan berombongan. Pun bila belum mampu melaksanakan itu, masih ada kebaikan utama lainnya. Berpuasalah Arofah pada hari ini sebagaimana disunnahkan Rasulullah Muhammad SAW. Selain penanda aksi prihatin, puasa ini kita ikhtiari sebagai wujud pengorbanan aktifitas permakanan yang biasa kita rutinkan.

Doakan para jamaah haji yang berwukuf hari ini, kiranya niat dan ikhtiar mereka ada efek positifnya, terutama di hadapan Allah SWT. Kebersatuan dan kerukukan mereka akan lebih membawa manfaat bagi manusia seluruh dunia.

Mudah-mudahan terawangan Nabi yang sekarang sudah terjadi segera berhenti. Yakni, potensi muslim haji yang berlimpah ini, alih-alih membuat orang segan, malah justru dijadikan remah-remah bancakan bergiliran.

Selamat Idul Adha, 10 Dzulhijjah 1433 Hijriyah. Selamat berpuasa Arofah, selamat berkorban dan semoga berbarokah. Saya berharap kita semua dicatat Allah SWT sebagai khalifah bumi yang berkualifikasi haji walau secara syar’i belum mampu mengongkosi pergi ke tanah suci.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s