Suluk Ulama Su’

Tersebutlah Pak Ro’is, kakek tua berusia 65 tahun, bekerja sehari-hari sebagai petani di lahan pertanian yang tak seberapa luasnya. Setiap Jumat, ia mendapat undangan khutbah di masjid-masjid tetangga desanya.

Khusus hari Jumat itu, ia meliburkan diri dari aktifitas tani. Sejak pagi, ia mengikuti majelis taklim di masjid pesantren dekat rumahnya. Menjelang jam 11 siang, ia pulang, mandi sunnah Jumat lalu bersiap mendatangi undangan khutbah.

Berbekal sepeda pancal, ia mengayuh pedal menuju masjid yang mengundangnya. Perjalanan ditempuhnya dengan keikhlasan. Setiap takmir hendak memberi upah khutbah, Pak Ro’is mengembalikannya sambil berkata, “Cukuplah upah saya dari Allah. Saya tidak mau menukar ayat-ayatNYA dengan upah dunia.”

Subhaanallah, Pak Ro’is dengan kesahajaannya telah meneladani kita semua tentang figur manusia alim sesungguhnya. Begitulah ideal figur kaum cendekia agama (ulama) yang berperilaku patut ditiru.

Sebagai antitesa cerita Pak Ro’i beserta teladan kealimannya, kini banyak muncul kisah pariah para cendekia agama yang ingin dianggap ‘alim ulama tapi buruk perangainya. Mereka ini gagal paham filosofi profesi “ulama pewaris nabi” yang harus bekerja melayani umatnya tanpa ngarep pahala dunia.

Ya, kita memang melihat tampilan orang-orang ini dipoles lahirnya sedemikian rupa sehingga nampak gaul, klimis, santun, keren, kalem, konfiden, mirip produk iklan yang menarik calon pelanggan. Tapi sesungguhnya, daleman produk manusia ini sangat berbahaya buat kesehatan iman dan keselamatan nasib kita.

Mereka itulah kaum cendekia dan alim ulama yang tindakannya justru merusak agama. Di luar, nampak lahir penampilannya mengatasnamakan dogma, berjubah wibawa, dan disanjung banyak manusia. Tapi di dalam, dogmanya berkiblat nafsu, pakaiannya penuh keserakahan profan, berorientasi “minta dihormati”, dan hanya berebut banyak-banyakan pengikut.

“Suluk” yang dipraktik-ajarkannya mengikuti selera arus utama, sehingga ayat-ayat haq dari Allah banyak disembunyikan dan dihindari oleh ulama su’ ini.

Hudzaifah ra, ketika dia bertanya kepada Rasulullah SAW : “Sesungguhnya kita dulu ada dalam kejahiliyahan lalu Allah menganugerahkan kepada kami kebaikan ini, maka apakah setelah kebaikan ini ada keburukan?” Beliau menjawab dalam ucapannya yang panjang sampai berkata : “ya, para da’i di ambang pintu Jahannam. Siapa yang mendatangi ajakannya pasti akan mereka lemparkan ke dalamnya.” (HR. Al-Bukhari).

“Aku lebih takut kepada selain dajjal daripada ketakutanmu kepada dajjal”. Lalu ditanyakan : “Siapa selain dajjal yang engkau takutkan, ya Rasulullah ?” Rasulullah menjawab : “Yaitu para imam yang sesat”. (HR. Ahmad)

Betapa Rasulullah mengkhawatirkan keberadaan ulama su’ ini daripada dajjal, membuktikan bahwa ancaman bahayanya sungguh nyata. Kita yang berkategori awam, mudah percaya, dan sering bersandar hidup pada fatwa mereka, sepatutnya mulai mawas, tegas, juga cerdas.

Sekali saja kita keliru memilih mereka, nasib keselamatan hidup kita tergadaikan dunia akhiratnya. Jadi, bagaimana kita mengenali ciri ulama su’ ini? Di tengah cendekia agama yang kini menjamur keberadaannya??

Pertama, kenali dan ikuti cara hidup mereka sehari-hari. Jangan sekadar percaya apa kata media atau cerita “katanya-katanya”. Cocokkan perilaku, ucapan, ajakan dan teladan keseharian mereka dengan Al Quran serta sunnah-sunnah Rasulullah. Jika perlu minta ijin live in, tinggallah bersama mereka beberapa lama untuk mengetahui perangai aslinya.

Dari sini, kita bisa memahami konsistensi antara kata dan laku mereka. Jika tidak sesuai kata dan perilaku, maka itu ulama’ su’. Jika tindakan keseharian mereka jauh dari figur teladan Rasulullah, maka segera tinggalkan mereka.
Kedua, bila orientasi hidup mereka hanya berebut mengambil untung dunia, menafsirkan ayat sesuai kepentingan spekulan pemesan, dan abai tidak peduli kondisi derita jamaahnya, maka pastikan itu termasuk ulama su’. Jika dalam menegakkan perangkat syariat, ternyata ia lebih takut kepada norma buatan manusia daripada hukum agama Allah, maka jangan ikuti manusia jenis ini.

Ketiga, secara privat lakukan munajat meminta petunjuk langsung dari Allah. Mohonlah arahan kepada ulama siapa, kepercayaan kita titipkan. Mintalah petunjuk ulama’ mana yang tidak perlu kita gugu dan tiru. Tentu ikhtiar ini kudu dibarengi tirakat kuat, amal sedekah, sholat istikhoroh, bertanya-tanya manusia, plus dibutuhkan kesabaran hingga mendapatkan jawaban.

Sekali lagi, karena ini menyangkut nasib kita sekeluarga serta banyak manusia di dunia dan akhirat, maka jangan gegabah dalam memilah.

Pembaca, ulama su’ telah ada sepanjang suluk cerita pengutusan para RasulNYA. Penentang utama Rasulullah, justru berawal dari propaganda ulama su’ ahli kitab ini, yang dipicu rasa iri, hasud dan dengki. Mereka takut ketokohannya tergusur oleh kehadiran para Rasul.

Mereka inilah komunitas cendekia yang menganjurkan rejim Namrudz agar Khalilullah Ibrahim AS diinkuisisi bakar api. Mereka ini, ahli kitab yang bersama Firaun mengejar dan mengancam bunuh Rasululah Musa AS.

Mereka ini, bergelar imam besar, yang menghasud penguasa Romawi untuk melenyapkan Rasulullah Isa AS beserta hawariyun pengikutnya. Mereka juga yang bersekongkol memimpin kaum Quraisy, setiap hari meneror dan melecehkan Rasulullah Muhammad SAW.

Jika saat Rasulullah masih hidup saja, mereka yang mengaku “ulama” tapi aslinya su’, sudah ada. Maka sekarang ini, keberadaannya bisa jadi lebih bejibun lagi, tersamar oleh propaganda iklan dan agenda jualan kepentingan. Saya mengajak kita semua berhati-hati dan mawas diri menyikapi fenomena anomali ini.

Berkaca dari kisah Pak Ro’is tadi, hemat saya, ulama tidak harus berpeci haji, berjubah sarjana timur tengah, atau bersurban gelar keagamaan. Menurut definisi Al Quran, ulama’ adalah manusia biasa yang ketakwaan dan rasa patuhnya diharapkan pada Allah SWT semata.

Jadi bagi kita yang bisa menyandarkan pola hidup dan norma keluarga pada kepatuhan aturan agamaNYA, saya percaya Anda seorang ulama’ yang baik, bukan ulama’ su’.

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama.” (Fathir: 28)

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s