Sendok Mencari Mulut

Pada dua pekan lalu, santri kami berkesempatan mengikuti pelatihan bela negara di Dodikjur Rindam V/Brawijaya Malang. Pelatihan ini sekaligus mengenalkan para santri tentang aspek filosofis praksis kepemimpinan berasaskan empat pilar kebangsaan. Para santri diharapkan mampu mengamalkannya untuk pribadi, saat nanti menjadi kepala keluarga atau ketika dipercaya menggembala umatnya.

Satu pelajaran bijaksana yang saya dapatkan dari pelatihan ini adalah ketika prosesi makan bersama. Setiap hari, ada 3 kesempatan sesi makan: pagi, siang, malam. Prosesi makan dimulai dengan penyiapan pasukan, laporan, dan doa bersama.

Para pelatih rutin mendampingi hingga proses makan selesai. Di tengah prosesi makan itulah, pelatih rajin menyisipkan peringatan-peringatan tentang “peraturan makan” telah disepakati bersama sebelumnya.

Diantara beberapa peraturan makan yang harus ditaati adalah, saat makan tidak boleh bicara, punggung harus tegak tidak boleh bungkuk, piring tidak boleh berdenting, semua hidangan harus dihabiskan,tidak boleh ada sebutirpun sisa makanan berceceran, dan waktu dibatasi.

Peraturan yang menurut saya menarik adalah “sendok mencari mulut, bukan mulut mencari sendok.” Aturan ini mengharuskan peserta saat makan harus duduk dengan punggung tegak. Lalu sendok di tangan yang harus mengantar suapan makanan ke mulut. Bukan sebaliknya, badan membungkuk-bungkuk hanya karena mengikuti gerakan mulut yang nyelonong mencari sendok.

Hari pertama, semua peserta sangat kaku memulainya. Alhamdulillaah memasuki hari kedua, mungkin karena selalu didampingi dan dipaksa berkonsentrasi tinggi, mereka pun bisa membiasakannya.

Setelah mikir agak lama kemudian saya baru nyambung. Ada pelajaran dari “sendok mencari mulut, bukan mulut yang mencari sendok” ini yang berkait dengan tertib sosial, etika manusiawi, terutama filosofi pencarian rejeki ilahi.

Pertama, jika punggung tegak dan sendok yang mendatangi mulut, maka penampakan peserta saat prosesi makan terlihat kompak, rapi, berbudi manusiawi, tertib, dan gerakan disiplin beraturan.

Sebaliknya jika badan yang membungkuk-bungkuk mencari sendok, maka riuh gerakan badan yang naik turun akan terlihat kacau, riuh saling balapan, dan sak karepe dewe tidak beraturan. Apalagi jika sampai terlihat nyosor, bisa dipastikan derajat mulia kemanusiaannya akan merosot jatuh.

Begitulah gambarannya ketika kita mengikhtiari rejeki untuk kebutuhan hidup. Mulut kita ibaratkan kebutuhan ruhani jasmani. Sendok kita umpamakan pengetahuan, keterampilan dan peralatan. Makanan di piring kita analogikan rejeki dari ilahi.

Jika kita mencari rejeki dengan ikhlas, halal, dan beraturan kemanusiaan-keislaman (digambarkan punggung tegak), maka rejeki itu akan diantarkan Allah (lewat sendok, menggambarkan pengetahuan, keterampilan dan peralatan) kepada kita secara hormat beradab. Tertib sosial terpenuhi, etika survival manusia rapi, beraturan tanpa rakus rebutan.

Sebaliknya bila fokus kita hanya “yang penting cari rejeki” tanpa tahu rambu-rambu, maka pencarian itu akan berbuah malu –jika masih punya rasa, tentu saja. Persis seperti prosesi makan “mulut mencari sendok” yang nyosor-nyosor, kita bisa keliru meniru pola makan congor hewan.

Mengejar rejeki dengan serampangan, terobsesi modal seuprit BEP (break event point) selangit, modus anomali rumus binatang ekonomi (digambarkan badan bungkuk-bungkuk, mulut mencari sendok), maka rusaklah tatanan agama, kekuatan bangsa dan adab keluarga kita.

Semuanya sibuk berwirid duit, berorientasi nyosor rejeki, hingga segala cara dihalalkan untuk mengeruk keuntungan. Rusuh sosial menjadi epidemi bangsa ini. Alasan survival menjadi preseden ancaman latent karena rebutan rejeki menjadi “industri kompetisi” yang menistakan kemanusiaan.

Hukum rimba berlaku. Semua berebutan jadi hewan. Siapa licin dan lihai nyosor-nya, dialah binatang berkuasa. Tidak ada lagi aturan yang ramah bumi dan manusiawi.

Anak-anak kita dikibuli indoktrinasi, pokoknya penuhi “kebutuhan ekonomi” duniawi dengan cara apapun. Bila perlu ikut kursus instan meraup kekayaan dan pelatihan merajai persaingan. Jika muncul kasus pelanggaran, toh nanti bisa diatur sesuai kesepakatan.

Mulut dan badan generasi kita “membungkuk-bungkuk” nampak buruk, terobsesi menyosor sendok rejeki, hingga lupa kodrat mulia kemanusiaannya.

Kedua, obsesi cari rejeki bila hanya untuk pribadi atau keluarga saja, maka rusaklah tatanan kebersamaan. Sama ketika prosesi makan tadi, jika semua peserta berlomba menyorong mulut mencari sendok, maka peserta lain akan kehabisan, tidak kebagian.

Jika kita sibuk menyendoki rejeki hanya untuk pribadi dan keluarga, maka kepedulian kita kepada kaum papa akan hilang. Alih-alih menyejahterakan keluarga dan beralasan survival, justru kita mengingkari kodrat kemanusiaan yang berciri makhluk sosial.

Ketiga, berkait industri makanan yang kian rawan merusak kesehatan, “sendok mencari mulut” juga relevan didakwahkan. Terutama bagi pelaku industri skala rumah tangga. Jualan makanan yang kerap dicampur pewarna berbahaya, bahan pengawet beracun, perasa sintetis, pengenyal, penggembung, pengharum, dlsb, adalah ciri perilaku pribadi “mulut mencari sendok”.

Mereka, dengan segala keterbatasannya, harus memenuhi kebutuhan dengan cara jualan pola instan di tengah kejamnya persaingan dan himpitan produk pabrikan.

Selain pemerintah dan komunitas pemerhati industri makanan, para da’i patut peduli pada isu penting ini. Sebelum meneladani dan mengajari khalayak, lebih afdol jika mau arif mengoreksi diri pribadi. Terutama yang ngakunya para pengamal agama, apakah masih berciri “mulut mencari sendok” atau “sendok mencari mulut”?

Pada contoh sederhana saja, saya masih sering menemui cendekia agama kita yang makan sambil berdiri, gonta-ganti tangan kanan kiri, dan makan sambil nyerocos tidak beraturan. Bila para pemuka begitu rupa teladannya, jangan salahkan jika umat bertingkah lebih sesat.

Mungkinkah kita perlu berlatih dulu, menjalani disiplin tradisi makan bersama komunitas tentara, agar kita semua mendapat pencerahan seperti saya?

Pembaca, kita yakini bersama bahwa sumber makanan, proses pencarian dan tata cara penikmatannya, akan berpengaruh terhadap disiplin mental dan kualitas ruhani kita. Pada lingkup yang lebih luas, dampaknya berkaitan dengan kondisi bangsa dan negara yang kita hadapi saat ini.

Sumber rejeki dan makanan yang kita dapat dari kerakusan “mulut mencari sendok” akan berakhir buruk, terutama bagi generasi pewaris nanti. Sebaliknya rejeki atau makanan yang kita ikhtiari dengan cara “sendok mencari mulut”: ikhlas, tertib sosial, halal, thayyib, dan legal, maka penghuni negeri ini akan menemukan takdir mulia kemakmurannya. InsyaAllah.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s