Bekas Iman

Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa beberapa hari setelah Rasulullah wafat, seorang sahabat bernama Asma binti Abu Bakar menangis tersedu-sedu. Sahabat Abu Bakar r.a, Umar r.a dan lainnya bertanya, “Wahai Asma, apakah menurutmu kedudukan Rasulullah kurang baik di sisi Allah sehingga membuat engkau menangis?”.

Asma menjawab, “Bukan itu yang membuatku menangis. Rasulullah telah berada di tempat tertinggi di sisi Allah.” Ditanya lagi, “Lalu apa yang membuatmu menangis?” Jawab Asma, “Dulu ketika Rasulullah masih hidup, langit dan bumi masih bersambung, dan kita hidup dalam bimbingan wahyu. Sekarang, setelah Rasulullah wafat siapa yang akan membimbing kita melaksanakan ajaran agama ini?”. Mendengar hal itu, para sahabatpun ikut menangis karena merasakan kebenaran ucapan Asma.

Dari hadis tersebut kita bisa mengerti sebab kecemasan para sahabat setelah sang penggembala meninggalkan mereka. Kekhawatiran itu tetap saja ada, meskipun mereka sudah mewarisi Al Quran dan Al Hadis secara privat. Itu berarti, kehadiran sang pembina dan pembimbing begitu penting dalam perjalanan ibadah setiap umat.

Rasulullah pernah bersabda setelah sholat isya’, “Sepeninggalku nanti, jangka seratus tahun, tidak bakal tinggal seorangpun dari orang yang ada pada hari ini (kebaikan dan ketaatan beribadahnya). Ibadah umat bagaikan ayakan kulit syair, kulit kurma. Umat dibiarkan Allah.”

Ini menandakan bahwa setiap seratus tahun ditinggal Nabi-Rasul, keadaan umat sudah tidak terjamin lagi keaslian tata cara beribadahnya. Mereka sudah sangat rentan terhadap pemalsuan, penyelewengan dan penyimpangan dari tuntunan ajaran para utusan.

Kini telah terbukti. Kalangan yang terlihat alim, rajin sholat, saat dirinya terlibat dosa, tidak tahu dan tidak merasa. Hal itu membuktikan keadaan dirinya telah dibiarkan oleh Allah, sholatnya tidak menghasilkan perubahan kebaikan. Bisanya hanya mengetahui dosa dan kesalahan orang lain. Pada proses ini, iman telah melayang dari kalbunya dan yang tersisa hanya bekasnya.

Rasulullah SAW pernah mencontohkan, beliau mengambil batu lalu diinjak. Ada cekungan bekas batu di kaki beliau, tapi batunya sudah tidak ada. Demikianlah contoh iman yang tinggal bekas. Atau seperti kulit yang terkena bara api. Ada luka bekas bara, tapi api/baranya sudah tiada. Begitulah iman manusia belum masuk ke hati, masih sebatas bibir dan pengakuan, sebagaimana disebutkan dalam QS. 49 : 14.

Ibarat sarang burung yang ditinggal pergi oleh burungnya. Seperti keris pusaka yang tinggal warangka, seperti baju tanpa tubuh atau buah tinggal kulitnya tanpa isinya. Iman tinggal bekasnya karena tiada pembimbing yang mendampingi secara langsung.

Terbukti sekarang, perbuatan si kafir dan yang mengaku beriman tiada beda. Sama-sama mengutamakan pribadi dan keluarga, sama-sama loba mengeroyok kenikmatan 1 % dunia, melupakan 99 % derajat akhirat.

Mereka yang mengaku beriman ternyata masih suka marah, dendam, iri, hasud, benci, bohong dan penyakit hati lainnya. Sifatnya sama persis dengan perilaku mereka yang dicap tidak beragama. Iman umat sekarang yang begitu riuh diproklamasikan, rupanya masih sebatas pengakuan. Akibat tidak adanya bimbingan dari para utusan, iman hanya berhenti pada klaim tanpa bukti.

Jika dulu, Rasulullah yang selalu memberikan semangat, arahan dan bimbingan beribadah atas dasar wahyu Allah kepada para pengikutnya. Beliau pula yang senantiasa mengawasi adanya serangan hama syetan dan mengusirnya dengan peringatan-peringatan melalui rambu-rambu fatwanya.

Pada kondisi seperti itu, mutlak kualitas ibadah umat berada dalam kontrol ketat sang Rasul. Kualitas iman pasti sesuai standar yang telah ditetapkan Allah. Sebaliknya, akan berbeda kualitas imannya jika Rasul yang menggembala telah tiada.

Anehnya umat sekarang ini, sudah cuku p merasa baik dan aman dari kerusakan walau tanpa adanya bimbingan Rasulullah secara langsung. Padahal Rasulullah sendiri mengkhawatirkan kondisi umatnya sepeninggal beliau. Terutama terhadap ganasnya serbuan musuh syetan, lawan ghoib yang tidak nampak di mata manusia.

Syetan ini yang selalu mengintai dan mencari celah untuk bisa menjatuhkan manusia dari kebenaran, mengobrak-abrik bangunan sistem iman yang telah ditanam dan dirawat para Rasul.

Pada saat Rasulullah hidup, ruang gerak syetan dalam menggoda manusia sangat terbatas, karena kejelian dan makrifat Rasul. Rahasia tipuan syetan selalu terbongkar dan terdeteksi oleh nur iman kerasulan. Juga penyakit hawa syahwat dunia, selalu berhasil dihalau oleh Rasul. Kondisi iman umat senantiasa terawat sehat. Kualitas peribadatan terjaga keasliannya.

Pembaca, Rasulullah sebagai pembimbing kita telah wafat ribuan tahun silam. Jika pada kurun seratus tahun, Rasulullah sudah mengkhawatirkan kondisi iman para pengikutnya, bagaimana jika saat ini yang sudah ribuan tahun berlalu?? masihkan iman kita terjaga keasliannya? Masihkah kualitas peribadatan kita terpelihara kemurniannya??

Sementara pada saat yang sama, syetan yang ditakdirkan jadi musuh kita, masih terus hidup. Mereka bekerja menggagalkan peribadatan, memalsukan iman dan mengadudomba para pemercaya agama, termasuk kita para umat Rasulullah Muhammad.

Pada puncak keprihatinan seperti ini, saya selalu mengkhawatirkan, jangan-jangan iman kita semua hanya tersisa tinggal bekasnya saja. Karena kita beribadah dan beriman tanpa bimbingan, sedang di samping kanan-kiri-belakang-depan, ada musuh syetan yang lihai membuat jebakan penyelewengan iman.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Bekas Iman

  1. Yudha P Sunandar berkata:

    jadi, bagaimana untuk beriman, mas Adhim?
    apakah mencari pembimbing spiritual sperti mencari mursyid dalam tarekat, atau seperti apa?
    terima kasih sebelumnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s