Khusus

Semua ciptaan Allah yang ditawari menjadi khalifah bumi, menolak dengan alasan ketidaksanggupan. Hanya manusia yang nekad berani menerima. Al Quran merekam peristiwa ini dalam kisah penciptaan Adam.

Sebagai mahakarya ciptaanNYA, manusia dibekali label makhluk mulia (ahsani taqwiim). Tentunya, ia akan diperlakukan secara khusus dan berbeda dari makhluk lainnya. Mulai proses penciptaannya hingga keistimewaan derajatnya.

Tempatnya semula disediakan di surga, sebuah wahana multi kenikmatan dengan jaminan kenyamanan super wah. Ia memang dipersiapkan menjadi makhluk khusus melebihi derajat malaikat. Kekhususan makhluk ini tergambar kemudian, saat para malaikat diperintahkan Allah agar bersujud kepada Adam.

Di sisi lain, penciptaan manusia juga dibekali “ego alter” khusus yang bernama nafsu. Inilah yang kemudian menjadikan sejarah kekhususan manusia menjadi lenyap sia-sia. Derajat hebat yang disandangnya serta surga yang semula menjadi tempatnya dapat berbalik menjadi kehinaan dan derajat nista dunia akhirat.

Peristiwa turunnya Nabi Adam bersama Ibu Hawa dari surga membuka lembar kisah makhluk khusus bernama manusia di dunia. Kita semua, adalah turunan dari beliau berdua, makhluk khusus dengan derajat hebat itu.

Muasal kita dari surga dan disanalah tempat kembali kita seidealnya. Karena di surgalah Bapak kita Adam dan Ibu hawa diciptakan, dan disana juga moyang kita dibentuk sebagai manusia istimewa sekaligus makhluk khusus.

Setelah kisah Nabi Adam, kita semua harus memulai sejarah peradaban manusia dari dunia. Bukan lagi memulai dari surga. Walau tetap tujuan akhir kita adalah surga sebagai bukti label khusus tadi. Sebagai penyandang derajat khusus yang akan meraih hadiah khusus (surga), maka tentu saja perjuangan dan ujian dunia yang kita hadapi harus berkategori khusus.

Tidak mungkin hadiah berkelas surga ditempuh lewat ujian ecrek-ecrek dan kurang menantang. Semakin ringan menu ujian yang kita pilih, berarti kian kecil menu hadiah yang kita ambil. Sebaliknya, kian khusus perjuangan yang kita tempuh, makin khusus juga hadiah yang bakal kita terima, yaitu surga.

Tetapi ingat, Allah juga menciptakan kodrat basyar kita bersama laku hawa nafsu. Bergandeng kekhususan manusia, ia bisa menguasai kita. Maka jadilah nafsu syahwat yang kebablasan, nafsu makan yang berlebihan, nafsu kemaruk yang tanpa batasan, nafsu marah yang susah dicegah, nafsu cinta dunia hingga lupa akhirat dan lupa derajat kekhususan manusianya, dst.

Laku nafsu ini yang kerap luput kita sadari. Mestinya nafsu yang bisa kita kuasai, tapi justru kita yang dikendali hawa nafsu.

Selain itu ada musuh khusus syetan yang lihai melakukan penyamaran. Nafsu yang kerap dominan mengendali kita, kerap ditunggangi musuh syetan sehingga bertambahlah kesesatan kita. Tetapi Allah pun sudah membekali kita dengan piranti khusus berupa akal budi, hati, dan kitab suci.

Ditambah lagi, ada petugas Rasulullah yang secara profetik dan periodik berupaya mengarahkan kita agar kembali meraih derajat keistimewaan/kekhususannya.

Penciptaan kita yang khusus, tempat muasal kita yang khusus, dan derajat kemuliaan kita yang khusus, sudah seyogyanya diimbangi oleh tim penguji serta “bekal khusus”. Plus ujian pembuktiannya yang harus khusus.

Adanya syetan yang tidak kelihatan, hawa nafsu yang sering menyaru, dan ujian dunia yang berat, adalah sebagai syarat khusus kita bila mau kembali ke surga, tempat di mana dulu moyang kita diciptakan.

Jadi, kalau sekarang kita berharap surga, lalu tidak mau bersusah-susah menjalankan perjuangan, memilih ujian yang ringan-ringan, menghindari tes yang berat, itu keliru.

Bisa jadi kita sudah tersandera hawa nafsu atau malah dikuasai musuh syetan sehingga lupa kekhususan kita. Musuh yang didesain khusus dan “pengalih perhatian” khusus itu ada di dalam anasir diri kita. Sehingga jika kita tidak kuat bertirakat, kurang bersikap serius dan tidak bertaktik khusus, kita pasti kalah.

Pembaca sekalian, saya percaya kita semua adalah keturunan moyang Bapak Adam dan Ibu hawa. Beliau berdua berasal dari surga, tempat khusus yang disediakan buat manusia di awal sekaligus di akhir sejarah kehidupannya.

Saya tentu berharap kita bisa kembali meraih derajat hebat itu, makhluk khusus dengan segala keistimewaannya. Kita adalah Mahakarya ciptaan Allah yang secara khusus ditugaskan menjaga harmoni bumi dan saat mati nanti kembali menempati surga, muasal moyang kita.

Untuk membuktikan sesuatu khusus, tentulah dibutuhkan perlengkapan dan tes ujian khusus. Di sini, di dunia ini, kekhususan kita diuji. Ada ujian yang berat, ada musuh ghaib syetan, ada hawa nafsu, itulah materi ujian khusus kita di dunia.

Semua itu bergantung kesiapan, tekad dan keseriusan kita sendiri. Apakah bisa menunjukkan kita betul-betul makhluk khusus ataukah justru kita melorot jadi makhluk hina? Maukah kita kembali ke derajat khusus makhluk surga, ataukah ikut terbujuk syetan yang takdirnya terkutuk di neraka?

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s