Waspada Keluarga

Sejak awal dunia diciptakan dan manusia diturunkan ke bumi, Allah memaksudkan untuk menguji (QS. Al Mulk : 2). Segala tantangan, kesenangan, kesedihan, dan apapun yang ada dalam hidup adalah materi ujian.

Namun kerap luput disadari manusia, bahwa setiap detik perkara yang ada di kehidupannya adalah ujian.Sehingga manusia kurang waspada dan cenderung berpikir, memutuskan dan berbuat menurut kata hatinya. Pokoknya enak, gampang, dan sesuai nafsu. Padahal untuk lulus ujian, haruslah bisa mengendali nafsu itu dan melewati berbagai jalan berliku.

Diantara ujian yang sering terlupa adalah soal kecintaan. perhatian dan ingatan kita kepada keluarga. Porsi rasa yang berlebihan bisa melalaikan kita dari ingatan dan cinta kepada Allah SWT.

Kita lupa bahwa segala barang-barang berharga dan makhluk di dunia dipasang dan dipajang sebagai jebakan atau ujian. Akibatnya, kita merebut mencintai barang-barang/ciptaan tersebut hingga melupakan Allah, sebagai pemilik, pencipta, sekaligus penguji dari keberadaan barang/ciptaan itu.

Pada habitat terdekat, keluarga adalah contohnya. Selama ini. Sedikit dari tidak merasa dan mengira bahwa anak-anak dan istri-istri atau kerabat yang kita cintai sesungguhnya adalah “musuh” sekaligus materi ujian yang mesti kita hadapi.

“Musuh” dalam pengertian sebagai satu aspek ancaman potensial yang harus diwaspadai dan disikapi dengan hati-hati. Sangat mungkin sewaktu-waktu, diantara anak/suami/istri dan harta bisa menjadikan kita lupa mengingat Allah. Selanjutnya lupa pada kewajiban seorang hamba yang harus mengabdi kepadaNYA, abai terhadap tanggungjawab sosial, akibat sibuk menuruti kemauan anak/istri/suami.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anakmu, ada yang menjadi musuhmu, karena itu berhati-hatilah terhadap mereka. Namun jika kamu memaafkan, kamu santuni, dan ampuni kesalahan mereka, maka Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Sesungguhnya cinta terhadap harta dan anak-anakmu adalah cobaan belaka. Padahal di sisi Allah ada pahala yang lebih besar dari itu.” (QS. 64 : 14-15).

Setidaknya saat ini, banyak diantara kita yang belum sadar bahwa tumbuhnya rasa cinta kepada keluarga, anak, dan harta, adalah soal-soal ujian yang harus dipertanggungjawabkan. Terkadang kecintaan kepada keluarga, anak, istri dan harta, menjadikan seseorang mudah menerabas hukum.

Tuntutan keinginan nafsu diri dan pemuasan syahwat keluarga membuat seseorang pelit bersedekah untuk kepentingan agama, bangsa dan negara. Padahal sebetulnya kewajiban menyejahterakan anak dan keluarga, yang terutama, adalah prioritas kesejahteraan di akhirat.

Sumber daya harta yang kita miliki, semestinya dipergunakan untuk menunjang keperluan itu. Caranya, didermakan pada sesama insan yang membutuhkan.

Kecintaan kita yang teramat sangat kepada anak, istri, suami, terbuktikan dengan seluruh kepemiikan yang dicurahkan untuk mengikuti cinta itu. Sekali waktu, timbullah keinginan sedekah. Tapi karena pada waktu bersamaan, ada keluarga yang minta dibelikan perhiasan dan atau perabot tambahan, sedekahpun urung.

Di lain kesempatan, seseorang tergugah menyantuni kaum papa, tiba-tiba si anak meminta dibelikan sepeda motor atau hobi kesenangan lain, gagallah niat suci sedekah tadi.

Atau kerap terjadi, ada kebutuhan agama, bangsa, dan negara yang mendesak, namun karena kecintaan seseorang terhadap hartanya, karna digandoli protes keberatan keluarganya, membuatnya urung menyumbang.

Lebih parah, obsesi harta dan keluarga sering membawa manusia pada perilaku jahat, korupsi uang negara, misalnya. Padahal sesungguhnya untuk kepentingan itulah, Allah menitipkan harta dunia kepada kita semua.

Manusia merasa hartanya akan membahagiakan dan melanggengkan kehidupannya di dunia, walaupun fakta yang telah terjadi membuktikan sebaliknya.

Kekayaan harta membuat kita dikejar-kejar waktu dan kesibukan yang berbuah kelelahan dan upah makan. Sementara resiko kebutuhan di akhirat belum terpikirkan. Keluputan inilah yang menyebabkan manusia bersama anak, keluarga dan hartanya menemukan dirinya dalam kerugian akhirat.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu sampai melalaikanmu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian, itulah orang-orang yang rugi.” (QS. 63 : 9).

Kerugian itu baru akan disadari saat berada di alam kubur dan hari pengadilan akhirat. Sebuah kesadaran yang percuma, karena tidak bisa mempengaruhi putusan vonis siksa. Kesempatan yang sudah diberikan selama hidup di dunia tidak dimanfaatkan dengan baik.

Saat di dunia, merasa bahwa hartanya dan keluarganya merupakan sumber kebahagiaan, harta teristimewa, serta jaminan keamanan dan kenyamanan dalam kondisi apapun. Ternyata, di akhirat, justru jebakan harta dan ujian cinta keluarga yang membawakan sengsara pada kehidupan abadinya.

Pembaca, rasa cinta kepada keluarga dan ingin memanfaatkan harta, adalah manusiawi dan wajar. Menjadi petaka dan berpotensi bahaya jika rasa cinta itu terlalu berlebihan, apalagi jika sampai melupakan rambu-rambu perintah dan larangan Allah.

Terpenting, jangan menganggap hal biasa rasa cinta harta dan sayang keluarga. Sikapi itu sebagai persoalan ujian yang kita selesaikan sekaligus potensi ancaman “musuh” yang mesti kita waspadai.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s