Barshisha, Bahram, Bal’am

Untuk saudara-saudara kita yang masih membanggakan amal ibadahnya, sebaiknya mencoba menoleh ke belakang. Hitunglah lebih banyak mana perintah ibadah yang telah dilakukan dengan apa yang belum dilakukan. Ada beberapa kisah yang semoga membantu menunjukkan lubang kelemahan iman kita dalam beribadah. Berikut kisah ahli ibadah yang tertulis dalam kitab Durratun Nasihin.

Kisah pertama, Barshisha adalah seorang ahli ibadah yang dikenal khusyu’ dan menjadi rujukan pengetahuan keagamaan pada masanya. Selama kurun 220 tahun, ia murni beribadah kepada Allah SWT tanpa berbuat maksiyat sekejap matapun.

Namun karena kurang waspada menjaga amal ibadahnya, akhirnya ia tergoda oleh tipuan syetan yang menyaru manusia dan membujuknya melakukan perbuatan jahat. Barshisha dibujuk melakukan mabuk, zina dan pembunuhan. Semula ia menolak keras semua tawaran jahat tersebut. Tapi karena gigihnya syetan, Barshisha terpaksa menerima tawaran pertama.

Barshisha tergiur mencicipi arak hingga tanpa sadar ia terjatuh mabuk. Selanjutnya, dalam keadaan konslet pikiran dan tersambit syahwat sesat, ia pun berzina dengan wanita yang direkomendasikan syetan kepadanya.

Saat berzina itu, perbuatannya dipergoki seseorang. Karena khawatir aibnya terbongkar, Barshisha membunuh saksi mata itu. Di akhir kisah, ahli kitab dan ahli ibadah ini disebutkan mati dalam kekafiran akibat perbuatan yang ia lakukan.

Kisah kedua, ada seseorang muslim yang sedang berhaji. Saat proses menunaikan rukun Islam kelima itu, ia bermimpi bertemu Rasulullah Muhammad SAW. Kepada orang ini, Rasulullah titip salam kepada seseorang yang bernama Bahram.

Orang yang dititip salam Rasulullah inipun penasaran pada Bahram. Orang macam apakah Bahram ini sehingga Rasulullah titip salam kepadanya. Akhirnya dicarilah Bahram Bharam sampai ketemu.

Ternyata Bahram adalah seorang majusi yang buruk amalnya –di mata masyarakat umumnya. Pekerjaannya menyewakan dan menjual budak kepada orang lain. Setiap ada wanita cantik, pasti akan “dibeli” dan ia jadikan istri.

Bahkan saking buruknya, anak perempuannya pun ia kawini sendiri karena merasa sayang kalau dikawinkan dengan orang lain. Atas semua cerita Bahram itu, uwak haji yang dititipi salam oleh Rasulullah tadi menyalahkan semua perbuatan buruk Bahram.

Didorong rasa penasaran kenapa Rasulullah sampai menitip salam buat Bahram –padahal tingkah lakunya begitu buruk seperti tadi, uwak haji ini bertanya apa amal perbuatan baik yang pernah dilakukan Bahram.

Setelah mengingat-ingat, Bahram pun bercerita bahwa ia pernah didatangi seorang janda yang tinggal di dekat rumahnya. Janda ini sangat miskin dan tinggal di sebuah gubuk sederhana bersama anaknya.

Satu malam, Bahram memergoki ibu janda ini mendatangi rumahnya dan ijin menyulut api untuk Bpenerangan. Anehnya, ibu ini datang berkali-kali untuk menyulut api. Bahram akhirnya curiga, sehingga ia diam-diam menguntit ke mana ibu tadi pergi.

Rupanya, setiap kali keluar dari rumah Bahram, di tengah jalan api tadi sengaja dimatikan lagi, dan ibu ini balik ke rumah Bahram untuk ijin menyulut api. Tahulah Bahram bahwa ibu ini memiliki maksud tersembunyi.

Sampai akhirnya, mungkin karena ibu janda itu kecapekan, pulanglah ia ke rumahnya. Saat itu puteranya menyambut dan menanyakan apakah berhasil mendapatkan makanan yang ia usahakan. Ibu itu menggeleng sedih dan mengatakan ia tak berani meminta makanan kepada Bahram.

Siasatnya yang menyulut api berkali-kali, agar ditawari makanan oleh Bahram, rupanya tidak bersahut sambut. Ia terlalu sungkan meminta kepada Bahram dan pulang tidak membawa makanan sepotong pun. Sebagai penghibur, ibu ini lalu menanak batu dan menyuruh puteranya menunggu. Sampai akhirnya, sang putera ketiduran dalam keadaaan kelaparan.

Semua cerita ibu tadi kepada puteranya, juga adegan menanak batu karena tidak ada yang dimasak itu, Bahram menyaksikan dari persembunyian. Bahram pun terenyuh dan tersentuh. Ia lalu pulang ke rumahnya, membawa berbagai macam makanan lalu ia masukkan ke rumah janda itu secara diam-diam. Ia tidak berharap apa-apa karena ia tidak mengerti tata aturan agama.

Bahram sekadar menjalankan naluri kemanusiaan yang Allah ilhamkan. Tetapi atas keikhlasan spontan menolong ibu janda itu, Rasulullah SAW menitipkan salam kepadanya.

Kisah ketiga, tersebutlah ulama besar dari Bani Israil yang bernama Bal’am. Ia hidup pada masa Rasulullah Musa. Selain ulama, Bal’am dikenal auliyaa. Doanya makbul dan keilmuannya diakui rekan-rekan cendekia seprofesinya.

Suatu hari, ia dibujuk keluarganya untuk mendoakan keburukan bagi Rasulullah Musa dan para pengikutnya. Semula ia menolak karena ia tahu perbuatan itu berdosa besar. Tetapi karena lihainya bujukan keluarganya dan kelas kewaliannya tidak sampai menjangkau tingkat sulthonul auliya Rasulullah Musa, Bal’am pun berdoa mencelakakan Musa.

Di akhir kisah, doa jahat Bal’am dikembalikan Allah SWT kepada dirinya. Keburukan itu menimpa Bal’am dengan akhir kematian yang menghinakan. Lidahnya menjulur-julur seperti anjing dan begitu juga suara naza’nya. Menurut sebagian mufassirin, kisah inilah yang mengiringi turunnya surat Al A’raf ayat 175-177.

Pada kisah Barshisha, kita bisa berkaca bahwa jaminan ketokohan dan keterkenalan ilmu keagamaan belum bisa mendatangkan keselamatan. Kisah Bahram, mengilhami kita bahwa sesesat apapun seseorang, jika Allah berkenan menunjukinya, maka ia akan wafat selamat dalam ampunan dan keridloan-Nya.

Pada cerita Bal’am, kita mendapatkan pelajaran, bahwa figur masyarakat yang katanya dikenal auliya pun kadang bisa terpeleset dan tersesat. Apalagi bila kewaskitaannya tidak dibarengi bimbingan Allah SWT.

Ketiga kisah ini menyimpulkan pesan kepada kita semua, jangan lekas percaya dan membaiatkan taruhan iman kepada para cendekia agama yang sekadar “terkenal saja”. Juga jangan lekas menyesatkan manusia karena ia sedikit berbeda aktualisasi ritualnya dari peribadatan arus utama masyarakat kita.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Barshisha, Bahram, Bal’am

  1. fathul mukhtar berkata:

    yaah.., memang di perakirakan begitu kalau kita kurang jeli dengan amal ibadah kita, mungkin kita akan terjebak oleh racun; Ujub, Riya’, Sum’ah, & Takabur..!, Sukron kasir atas perantara beritanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s