Setia Berislam Sampai Akhir

Teguh pada pendirian akidah merupakan jiwa Islam yang akan selalu hidup berkesinambungan dalam jiwa hamba yang patuh darii para uswah terdahulu hingga akhir nanti.

Keislaman mereka tidak goyah oleh bujukan, rayuan dan iming-iming kedudukan yang ditawarkan dunia. Islam, serah drii, taat, patuh kepada Allah dan Rasul-Nya, dalam keaadan suka maupun duka, berat maupun ringan.

Bukan paksaan untuk Islam, tetapi berserah diri dalam kondisi apapun itulah sebenarnya jalan satu-satunya yang dibutuhkan manusia.

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah, sebenar-benarnya berjihad. Dia telah memilihmu diantara semua bangsa-bangsa dan dia tidak menjadikan perkara-perkara yang berat atasmu dalam agama ini, yaitu agama nenek moyang Ibrahim. Dia telah menjuluki kamu “manusia-manusia muslim” sejak kitab-kitab yang dahulu, begitu pula pada kitab ini. Tuhan berbuat demikian supaya Rasul Muhammad menjadi saksi atasmu pada hari kiamat. Dan kamupun menjadi saksi pula atas seluruh umat manusia. Karena itu dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpegang teguhlah pada agama Allah. Dia adalah pelindungmu, bahkan pelindung yang baik, serta penolong yang terbaik pula.” (QS. 22 : 78)

Patuh sampai titik darah penghabisan, sampai nafas yang terakhir, itulah muslim sejati. Betapapun berat dan pedihnya perjuangan dalam mengikuti kehendak Allah, dalam mematuhi seluruh perintah Allah, tetap dijalani sampai akhir hayat.

“Hai orang-orang yang beriman, bertkwalah kamu kepada Allah sebenar-benarnya takwa. Dan janganlah mati melainkan dalam keadaan menganut agam Islam.” (QS. 3 : 102).

Ayat ini mewanti-wanti kita supaya jangan sampai terjadi mati dalam keadaan tidak tunduk, patuh, serah diri pada Tuhan Pencipta Alam Semesta. Karena mati yang demikian adalah termasuk menentang dan juga bisa berarti menjadi musuh Allah. Na’udzubillaahi min dzaalik.

Dalam memahami ayat ini, kita perlu hati-hati. Sebab mati dalam keadaan Islam bukan sekadar meninggal berstatus “lahir sebagai muslim”. Bukan pula sekadar mati ketika sudah tercatat pernah bersyahadat, sholat, puasa, zakat, haji, atau pandai mengaji semata.

Karena selain amalan-amalan tersebut masih belum aman dari gangguan syetan, kelima butir itu belum mewakili hukum Allah yang ada dalam ribuan ayat Al Quran dan jutaan butir hadis yang harus diamalkan seorang muslim.

Karenanya, “mati dalam keadaan islam” di sini mempunyai makna, mati yang sudah bersih dari keinginan-keinginan duniawi. Mereka itulah yang meninggal dalam kondisi pola hidup dan fikir yang polos serta penuh kepasrahan pada kehendak Allah, termasuk kehendakNYA untuk memanggil mati manusia. Kondisi hatinya rindu bertemu Tuhan dan kehidupan akhirat, sehingga tidak ada sebutir rambutpun keberatan untuk meninggalkan dunia ini.

Juga bersih dari dosa-dosa, karena selama di dunia telah dijalani dengan penuh taubat dan selalu mengadakan perbaikan atas kekurangan-kekurangannya. Sehingga saat menghadap Tuhan dalam keadaan suci dan dengan perasaan tenang dalam memikul tanggung jawab yang segera Allah minta.

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridloanNYA ke jalan keselamatan dan dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang-orang dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izinNYA, serta menunjukinya ke jalan yang lurus.” (QS. 5 : 16).

Islam merupakan jalan keselamatan. Jalan lurus shirotol-mustaqim yang membentang antara dunia sampai akhirat. Jalan yang menuntut pemakainya mentaati semua rambu-rambu dan peraturan yang ada secara utuh demi selamatnya sampai tujuan, kesejahteraan akhirat.

Ikutilah apa yang ada pada kitab Allah, supaya termasuk orang yang menyerahkan diri atau tunduk, patuh, islam.

Hal itu sulit sekali pada praktiknya. Tetapi sekalipun itu sulit dilakukan, bagi mereka yang sudah mendapatkan binaan langsung dari Allah, kesulitan itu adalah sebuah potensi besar untuk memacu semangat dan keprihatinan bagi dirinya.

Dan dengan tetap menyandarkan segalanya semata hanya kepada Allah, tentu akan diberikan Allah cahaya terang untuk menjadi guide penunjuk jalan bagi kita. Pada bulan Syawal ini, kita bisa mengawali dan sabar menjalani hidup berIslam yang berkualitas asli sampai kita wafat nanti. Aamiin.

 

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s