Sesal Syawal

Apa yang sudah kita dapatkan setelah puasa sebulan kemarin adalah raihan penting untuk menjamin keberlanjutan amal kebaikan di hari-hari ke depan. Apakah hanya dapat kenaikan bobot badan ataukah bukti perubahan kebaikan, itu kembali pada proses dan niat yang kemarin kita jalankan.

Selama detik-detik jelang pergantian bulan Romadlon ke Syawal, apakah kita menangis sedih karena harus berpisah dengan bulan suci, ataukah bergembira karena lepas dari paksaan puasa raga? Itu juga bergantung bagaimana kita memaknai hakikat puasa.

Dari Jabir r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika malam Romadlon berakhir, seluruh makhluk-makhluk besar, di segenap langit dan bumi, beserta malaikat ikut menangis. Mereka bersedih karena bencana menimpa umat Muhammad SAW. Para sahabat bertanya, “bencana apakah ya Rasul?” Jawab Nabi, “Perginya bulan Romadlon. Sebab di dalam bulan Romadlon segala doa terkabulkan. Semua sedekah diterima. Dan amalan-amalan baik dilipatgandakan pahalanya, penyiksaan sementara dihapus.”

Jadi, kalau para malaikat dan makhluk di langit bumi saja menangis karena ditinggal Romadlon, lalu kenapa sebagian diantara kita malah hura-hura menyulut mercon? Sebagian menyiapkan suguhan jajanan, sibuk menumpuk belanjaan, dan lainnya teriak-teriak sambil blayer-blayeran sepanjang jalan?

Benarkah itu sunnah yang diajarkan untuk merayakan “hari kemenangan”? Ataukah foya-foya dan bergaduhan di jalan-jalan itu justru menyambut peringatan hari kebebasan syetan yang –katanya– selama bulan Romadlon dibelenggu??

Pembaca, menurut Imam Ghazali ada tiga tingkatan puasa yang dilakukan umat manusia.

Pertama, puasanya orang umum kebanyakan. Puasa ini hanya membatasi raga dari kemasukan makanan dan minuman. Plus membatasi diri dari berhubungan suami istri.

Kedua, puasa khusus yang diamalkan orang sholeh. Ialah menahan badan dari amalan kemaksiatan dengan menjaga lima perkara: (1) menjaga pandangan dari godaan syahwat sesat; (2) menjaga lisan dari fitnah, dusta, ghibah, namimah (adu domba) dan sumpah palsu; (3) menjaga telinga dari berita/informasi yang dilarang agama; (4) menjaga anggota badan dari perbuatan yang dilarang Al Quran (misalnya memakan barang syubhat); (5) menjaga perut dari kekenyangan berlebihan, walau dari makanan halal.

Ketiga, puasa khusus dari yang khusus (khawasul khawash). Puasa ini diamalkan oleh orang yang mengerti hakikat puasa sesungguhnya. Bagi mereka, selain menahan makanan dan syahwat badan, puasa ialah sekaligus mengendali gerak hati, pikiran, ucapan, dan tindakan dari perkara yang berorientasi profan. Juga mencegah hati dan pikiran dari memikirkan hal-hal selain dzikrullah.

Puasa ini biasa berderajat para Rasul-nabi, shiddiqiin, muqorrobiin, dan kita semua yang mau mencobanya. Inilah tahapan puasa paling utama dari dua derajat puasa lainnya.

Saya berharap kita semua setidaknya bisa memenuhi satu diantara tiga kategori puasa tadi. Seapes-apesnya, kita telah berikhtiar lulus sebulan Romadlon kemarin dengan cara “puasa biasa”. Kita sudah menahan makan minum dan berhubungan suami isteri pada siang hari.

Tetapi ingat pada kategori “puasa biasa” ini pun, Rasulullah memberi wanti-wanti. “Ada lima perkara yang dapat membinasakan pahala puasa, yaitu: dusta, ghibah, adu-domba, sumpah palsu dan memandang penuh syahwat (pria-wanita saling memandang).”

Sudahkah kita mampu menghindari hal itu sebagai syarat diterimanya puasa kita? Saat menikmati tayangan televisi atau membaca berita media dengan segenap propaganda dan bujukan iklannya, tidakkah kita terseret syahwat sesaat dan perbuatan ikhtilat? Bisakah kita memfilter itu dusta atau fakta?

Sudahkah kita menyaring antara informasi ghibah, namimah dan kabar sesungguhnya? Bagi kita yang berdagang, berpolitik, berpegawai negara, dan atau bekerja menjual jasa, masihkah kita suka bersumpah palsu untuk sekadar melariskan kepentingan?

Ataukah puasa kita sama saja, menguap terhapus pahalanya sebagaimana puasa kita pada tahun-tahun sebelumnya karena terlibat kebiasaan buruk tadi?

Saya tidak berharap terawangan Rasulullah bahwa, “kebanyakan orang berpuasa tidak mampu memetik hasilnya, kecuali lapar dan dahaga” ini menimpa nasib puasa kita. Juga sabda beliau “tidak ada orang yang lebih dibenci Allah dibandingkan orang yang suka memenuhi isi perutnya, sekalipun makanan yang halal” ternyata terbukti pada momen-momen buka puasa kita sebulan kemarin.

Jika kekhawatiran Rasulullah itu betul-betul terjadi dan kita alami, maka sepatutnya kita menyesali bulan Syawal ini dengan tangis pertaubatan dan doa keprihatinan. Kalaupun tidak bisa mengeluarkan airmata karena ditinggalkan Romadlon, maka niatkanlah tangis kita sebagai janji perubahan menuju kebaikan.

Masih ada enam hari puasa Syawal sebagai latihan kita menjalani tiga tingkatan puasa tadi. Masih ada waktu menyempurnakan puasa sebulan kemarin yang berkategori gagal masuk catatan kebaikan.

Masih tersisa injury time di tiga puluh hari Syawal ini untuk menambal derajat puasa Romadlon kita agar berpahala “puasa biasa”, “puasa khusus” sekaligus bonus “puasa khusus dari yang khusus”.

Saya mengajak pembaca semuanya untuk mengawali ikhtiar baik ini, puasa enam hari di bulan Syawal agar Romadlon kita tidak berujung sesal akibat catatan “gagal amal”.

Allaahumma inni a’uudzu bika min qolbin laa yakhsyaa’, wa min ‘ilmin laa yanfa’, wa min ‘ainin laa tadma’, wa min du’aain laa yusma’, wa min dzaalikal-arbaa’

Ya Allah, aku berlindung kepadaMU dari hati yang tidak khusyu’, dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari mata yang bebal tidak mau menangis, dari doa yang tidak Engkau kabulkan, dan sungguh kami berlindung kepadaMU dari empat hal it.

Allaahumma alhimni rusydi waqini syarro nafsi
Ya Allaah, hadiahkanlah kepadaku kebenaran dan lindungilah aku dari kejahatan hawa nafsuku.

Robbanaa taqobbal minna shiyaamanaa,
Ya Allah terimalah amalan puasa kami.

Allaahumma innii as’alukal-hudaa wattuqoo wal-‘afaafa wal-ghinaa
Ya Allah, aku memohon kepadaMU petunjuk kebenaran, iman ketaqwaan, penjagaan diri dan kecukupan.

Yaa muqollibal-quluub tsabbit qolbii ‘alaa diinika,
Wahai dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada kebenaran agamaMU.

Aamiin.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s