Muhasabah

Seandainya kita mampu meneliti dan menelusuri secara cermat tingkah laku dan perbuatan kita selama hidup, kemudian dicocokkan dengan dasar-dasar agama dengan sungguh-sungguh, kemungkinan besar kita akan mendapati diri dalam genangan dosa.

Dosa-dosa tersebut bisa jadi timbul dari kesalahan berinteraksi. Itu nampak dari interaksi kepada sesamanya, kepada binatang, alam, maupun dosa kepada Tuhan.

Dengan cermin dan penulusuran ayat-ayat diatas misalnya, sudah bisa dilihat seberapa banyak dosa yang menumpuk di pundak manusia dalam setiap harinya. Saat duduk, berbaring, berjalan dan aktifitas apapun tidak ingat Allah merupakan dosa.

Tidak mempedulikan kepentingan bangsa dan agama yang membutuhkan juga termasuk dosa, dan bahkan tergolong manusia yang tidak memiliki kebenaran.

Dalam setiap keluar masuknya nafas, manusia lalai mensyukuri nikmat yang diberikan Allah baik nikmat jasmani maupun nikmat rohani, juga merupakan dosa dan kedurhakaan yang diancam siksa.

Hal itu memberi kejelasan kepada kita bahwa setiap hari, setiap saat manusia tidak bisa terhindar dari dosa. Ini sebuah kewajaran dan keniscayaan, dalam kapasitasnya yang dloif.

Harus ada proses penyadaran dan pertaubatan sebelum ajal menjemput, selama masih ada kesempatan taubat dan perbaikan. Sebab jika mau meneliti dan mengakui secara jujur, sebenarnya kewajaran tersentuh dosa itu berlaku pula atas orang-orang terpandang senior agama, cendekiawan, konglomerat sampai kaum awam.

Jangan hendaknya berpikir dan berprilaku seperti kebiasaan manusia sejak zaman Adam hingga masa sekarang yang tidak mau menyadari bila diri terlibat dosa dan sesat, karena merasa sudah baik dan benar.

Sebab para Rasul terdahulu tidak malu mengakui dosa dan kehilafan dirinya. Antara lain pertaubatan Rasul Adam as, (rasul sekaligus bibit unggul manusia) yang secara terbuka menyadari dirinya dhalim.

Seperti dikisahkan dalam Al-quran:
“ robbana dzolamnaa anfusanaa waillam taghfirlanaa watarkhamnaa lanakuunanna minal khoosiriin” artinya wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami. Bila Engkau tidak mengampuni dan memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Demikian pula Rasul Yunus as. Yang menyesali dan meminta ampun kepada Allah atas kedhaliman dirinya dikarenakan tidak sabar dan meninggalkan ummatnya dalam keadaan marah. Penyesalan dan pengakuan dhalim itu diabadikan dalam Qs. 21 : 87

Demikian pula pengakuan dhalim Rasul Musa as (ulul azmi) disebabkan pukulannya yang mengakibatkan kematian bangsa Mesir. Beliau merasa dosa dan dhalim karena memukul orang dengan nafsu marah dan membela kaumnya sendiri yang belum tentu berada di fihak yang benar.

Namun karena termasuk jiwa yang maksum (terjaga) maka segera diingatkan Allah akan kesalahannya dan menyadarinya. Nabi Musa berdo’a, “ robbi innii dzolamtu nafsii faghfirlii faghofarolahuu innahuu huwal ghofururrokhiim

Artinya Ya Tuhanku! Bahwasannya aku telah berlaku aniaya terhadap diriku sendiri, karena itu ampunilah aku. Sesungguhnya Dia maha pengampun dan penyayang. (Qs. 28:16)

Selanjutnya Rasul Muhammad saw. Yang merupakan pendekar kebenaran sedunia, dalam sebuah hadist disebutkan bahwa setiap hari tidak kurang dari tujuh puluh kali sowan kepada Allah untuk meminta ampun.

Para Rasul yang sedemikian tinggi derajatnya disisi Allah, tidak malu mengakui dirinya berdosa, dhalim dan khilaf. Meeka merupakan contoh dan teladan bagi ummatnya sampai akhir zaman nanti.

Namun anehnya umat sekarang tidak ada yang merasa berdosa dalam setiap harinya. Apalagi yang terpandang alim dan tokoh agama, lebih sukar baginya untuk menyadari adanya dosa dalam dirinya karena tidak merasa berdosa. Sehingga kehendak hati untuk meminta ampun juga tidak ada.

Padahal Allah menyeru kepada hambanya agar berlomba dan bersegera dalam mencari dan mendapatkan ampunan dari Allah (lihat Qs. Ali Imran : 133). hal ini disebabkan Allah maha mengetahui bahwa dosa manusia bertambah setiap saat, jika tidak ditaubati dengan segera dan cepat-cepat, dikhawatirkan akan tersusul (didahului) kematian yang datang dengan tiba-tiba

Kalau para Rasul saja tidak malu menyadari bila tersentuh dosa dan dhalim, lalu mengapa umat sekarang congkak dan selalu merasa baik?. Mungkinkah perilaku dan kondisi umat dan para ulama, tokoh agama, cendikiawan sekarang lebih baik dan lebih suci dari para Nabi Rasul itu?

Sebaliknya, ummat yang demikian adalah ummat yang dibiarkan allah. Sedangkan para Rasul itu selalu mendapatkan penjagaan dari allah (ma’sum) sehingga begitu tersentuh dosa langsung diperingatkan, tidak sampai berlarut-larut dalam kesalahan.

Untuk itu mari meninggalkan ego dan sikap gila hormat serta segera meneliti dosa dan kedhaliman diri, menyadari kemudian mentaubatinya, sebelum ajal menjemput. Sebab demikian itulah ciri manusia dewasa dan beriman, menyadari dosa sebelum datangnya pati.

Jangan sampai bernasib seperti orang bodoh, kaum kafir yang menyadari dosa setelah ajal menjemput, setelah berada dialam kubur. Karena tidak ada gunanya selain vonis siksa.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s