Muslimah, Dakwah, & Muru’ah

Ibu muda ini asli warga kelahiran Surabaya. Saya mengenalnya sejak masih sama-sama bersekolah dasar di desa. Ia adik kelas dua tingkat di bawah leting saya. Ciri khas yang mudah dikenali dari ibu ini adalah gaya bicaranya lugas, spontan, energik, dan medok total khas dialek Suroboyoan. Selama sekolah dan nyantri bersama, saya melihat prestasi akademiknya tergolong biasa dan bahkan di beberapa mata pelajaran, capaiannya di bawah rata-rata.

Setelah lulus Madrasah Aliyah, ia ditugaskan selama beberapa tahun, berpindah-pindah antar daerah sebagai bagian dari proses pembelajaran keterampilan sekaligus pengabdian kepesantrenan.

Kami para santri mengenal tugas ini sebagai BBM atau Belajar Bersama Masyarakat. Tugas ini wajib diambil sebagai awal tahapan menuju jenjang karir Taruna TPU (Tenaga Penyayang Umat) yang berenumerasi PGA (Pegawai Gaji Akhirat).

Kini, ibu yang lahir di kawasan sub-urban Pesapen ini, sudah bersuami dan memiliki satu puteri. Masih dalam rangka penugasan lanjutan, sekarang ia menetap di sebuah komplek rumah susun di area Surabaya Timur. Di rumah susun inilah, romantika jalan dakwahnya berproses penuh drama.

Ia pernah terlibat dalam tim pendirian pendidikan anak usia dini (PAUD) gratis di komplek rusun itu. Namun karena provokasi hasud, iri dan dengki beberapa oknum penghuni rusun, PAUD-nya dibubarkan paksa oleh warga rusun dan ia dilarang mengajar, tanpa alasan jelas.

Motif pembubaran PAUD rintisannya itu baru muncul ketika tak lama kemudian, PAUD itu ternyata dikelola oleh provokator tadi. Rupaya ada motif ekonomi di kasus ini. Selama proses “penghakiman sesat” itu, ia sering disidang ramai-ramai dan diteror.

Namun dengan tawakkal kepada Allah dan gaya medok kendel Suroboyoannya, ia hadapi semua pemanggilan tanpa gemetar. Beberapa kali bahkan ia bisa membalikkan tuduhan dengan argumentasi tak terbantahkan. Para penyidangnya pun diam, keki, dan tak mampu mendebat lagi.

Tak jera intimidasi warga, ia tetap melanjutkan aktifitas pembelajaran anak-anak rusun di petak kamar sewaannya. Alhamdulillaah, kini perkembangan kegiatan pembelajaran kian pesat. Tak cuma PAUD, ia pun membuka layanan home schooling, baca tulis Al Quran, dan les tambahan bagi anak-anak sekolahan.

Semua layanan pembelajaran itu ia gratiskan. Sepeserpun ia tidak menerima bayaran. Ketika saya tanya motivasi penyelenggaraan “sekolah gratisnya”, ia menjawab, “Ya cuma ini Gus, modal kehidupan ukhrowi yang mampu kami ikhtiari.

Pembaca, ibu muda ini mendapat rejeki dari berjualan pracangan di lapak kamarnya. Sejumput sayuran, bumbu-bumbu, ikan, dan kebutuhan dapur ia jual untuk warga penghuni rusun. Jika diukur margin keuntungannya, maka ia tergolong tak berpunya. Tapi menariknya, ia sering dijadikan sambatan hutang bagi tetangga kanan kirinya.

Kondisi keterbatasan ekonominya tidak membuatnya tergoda “menarik iuran” dari pembelajaran yang ia jalankan bersama keluarganya. Pun kepada tetangga yang berhutang, ia selalu berusaha memenuhinya meski sering tidak dikembalikan lunas.

Beberapa ibu-ibu yang dulu turut menandatangani mosi pengusirannya, kini malah akrab dengannya. Sebabnya, anak-anak mereka lebih suka belajar di tempat teman saya ini daripada bersekolah di PAUD hasil “akuisisi paksa” tadi.

Di sinilah saya bisa belajar tentang muru’ah dan manhaj dakwah. Betapa teman saya, ibu ini, tetap memperlakukan baik warga rusun yang telah menyakitinya. Ibu-ibu yang sering meludahi saat ia lewat, tetap ia sapa dan senyumi. Anak-anak mereka yang balik kucing minta diajari olehnya –setelah pengusiran PAUD dulu–, ia terima dengan lapang dada, tanpa dendam.

Istimewanya, ia menolak ketika ibu-ibu di rusun memintanya agar ia mau menerima bayaran. Alasannyan menolak adalah ia ingin tetap bekerja nirlaba dalam pelayanan pendidikan. Ia masih ingat selama di pesantren, gurunya, Bapak Guru Muhammad Abdullah Muchtar, mengajarkan bahwa layanan pendidikan selayaknya menjadi hak bagi semua manusia. Bagi para pegiatnya, ia didoktrin untuk tidak gampangan menerima upahan. Ini juga menjadi ciri muru’ah profesi kaum santri yang ia jalani.

Dalam berdakwah, ia berprinsip, selagi jiwa raganya sehat, itulah hadiah dan bayaran Allah yang berhak ia terima. Selebihnya, ia ikhlaskan sebagai pengabdian kemanusiaan. Ia tidak mau pengabdiannya tercoreng jelaga materi dunia, jika kesakralan kesantrian dan keterampilan pengajaran ia komersialkan.

Ia kuatir, jika menerima bayaran, rapor keikhlasannya dalam berjihad menjadi cacat dan tidak lagi mendapat upah di akhirat. Inilah nilai muru’ah dalam berdakwah. Sesuatu yang perlu ditiru bagi dai muda, muslimah, mujahidah, dan komunitas santriwati Indonesia.

Jika Anda pernah melintasi kawasan Ngagel Sungai, sepanjang bantaran sungai itu, tanyalah peran ibu ini. Persis di seberang CCCL, di loteng atas sebuah gudang pinjaman, tengoklah setiap sore hari, dan tanyakan kepada puluhan anak-anak di sana, betapa teman SD saya ini layak menjadi inspirasi.

Di bawah bawah jembatan BAT Ngagel, di petak darurat, di mana beberapa keluarga bertempat, tanyalah nama Ibu Yayuk. Silakan menggali prosesi dakwah Islami dari sini. Sambangi juga ibu-ibu yang berhimpitan tinggal di situ, tanyakan peran Ibu Yayuk bagi pendidikan keluarga mereka.

Ia lakukan padat jadwal mengajar itu setiap hari, diantara penat tugasnya sebagai isteri. Bila di komplek rusun, ia mengajar setiap pagi dan malam. Sementara di kawasan Ngagel Sungai, ia datangi “siswa-siswi” nya setiap sore hari. Pembiayaan operasional semua kegiatan itu, ia ambilkan dari sisihan keuntungan dari jualannya yang tak seberapa.

Hebatnya lagi, ia yang formalnya hanya lulusan madrasah aliyah, kini memanajeri beberapa mahasiswa fakultas dakwah sebuah perguruan tinggi islami, mengelola PUSAKA (Pusat Partisipasi, Aktifitas & Kreatifitas Anak) di beberapa titik lokasi di Surabaya.

Terilhami dari sini, saya hendak berbagi praktik-praktik terbaik bersama para pembaca, bahwa “sedekah, berbagi dan peduli filantropi tidak perlu menunggu kaya dulu.” Dari ibu Yayuk juga, kita bisa berbagi informasi, bahwa pendidikan adalah tanggungjawab semua warga, terutama kaum ibu.

Melayani umat tidak perlu menunggu diwisuda sebagai sarjana agama, menanti jadi ulama selebriti, atau ahli penghapal kitab suci. Membangun generasi Indonesia tidak mesti harus jadi politisi, pegawai negeri, ustadz atau pejabat birokrat. Asalkan sudah punya Bismillaah, semua amal sosial bisa dijalankan dengan semangat keswadayaan dan niat investasi akhirat.

Drama di rusun yang ibu Yayuk alami, mengilhami kita tentang praktik nilai kasih tanpa batas, bahkan kepada orang-orang yang pernah membenci dan menyakiti. Dalam manhaj dakwah, kita juga bisa belajar tentang strategi negosiasi kepada Ibu Yayuk.

Hemat saya, semestinya begini tradisi “Ning Suroboyo” dilakoni. Terpenting, bagi para mujahidah dan muslimah, muru’ah dalam berdakwah adalah tradisi yang kudu diseriusi agar lakon jihad kita senantiasa menjejak pada jalan kasih, ridlo dan ampunanNYA.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Muslimah, Dakwah, & Muru’ah

  1. hanif bali berkata:

    luar biaasa ini bsa di jadi kan contoh untuk para pendakwah /atau ustad .yg penting keikhlasan mengajar kan ilmu ALLAH tanpa meminta imbalan …krna imbalan didunia sngat lah kecil di banding imbalan yg diberikan di akhirat nanti …aminnn

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s