Album Religi

Tanpa terasa Romadlon sudah memasuki pekan kedua. Nyaris separuh bulan sudah kita jalankan dengan catatan dan pengalaman yang beraneka ragamnya.

Selayaknya sebuah proyek atau program yang baik, maka lebih afdol jika di pertengahan proses Romadlon ini perlu ada tahapan monitoring dan evaluasi. Bersama saya, mari kita buka “tangga nada” dari “album religi” yang sudah kita rekam sejauh ini.

Sahur, pada proses pemberian asupan jasmani ini, bagaimana kita memaknainya? Sudahkah kita mensyukuri nikmat sehat dan keberfungsian organ-organ yang dengan normal dapat kita gunakan untuk menikmati makanan/minuman?

Sementara di saat yang sama, saudara sebangsa kita di Rohingya menggigil terancam ketakutan dan mati pelan-pelan akibat siksaan kelaparan. Saat kita menyuapi nasi dengan rasa aman-nyaman, di Suriah, Gaza, Irak dan Afghanistan, saudara seiman kita masih bermandikan tangisan dan pertempuran. Mereka sahur cobaan dan makan penderitaan.

Lalu setelah sahur itu, apa kebiasaan yang sering kita lakukan? Menikmati acara parodi di televisi, jalan-jalan menggenapi pagi? Iseng ikut nyumet mercon bersama generasi Moron? Cangkruk meramaikan rasan-rasan perpolitikan? Melanjutkan ibadah ngorok bersama yang tertunda?Ataukah menambah pundi-pundi gizi dan vitamin ruhani seperti ayat berikut ini:

 …Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan pada waktu sahur (sebelum fajar) pula, mereka selalu beristighfar memohon ampun kepada Allah.” (QS. Az-Zariyat : 16 – 18)

Yaitu orang-orang yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, kami benar-benar beriman. Maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka. (juga) orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali Imran : 16-17).

Tadarrus, bagaimana komitmen keseriusan dalam kita mengikuti telaah sejarah dan pesan-pesan ilahi dari 114 surat Al Quran ini? Berapa ayat yang sudah kita tamatkan? Jika sudah khatam 30 juz, berapa kali kita mau mengulanginya lagi?

Dari jumlah ribuan perintah dan larangan itu, berapa yang sudah, sedang, dan akan kita segerakan? Setelah khataman Al Quran, apakah ada perubahan sikap, perilaku dan ucapan secara signifikan?

Masihkah karakter bengal dan kuantitas budaya dosa kita tetap sama kualitasnya sebelum dan sesudah membaca ayat-ayatNYA? Cukupkah kita batasi nilai kesucian firman Tuhan sebagai bahan jualan para biduan atau musabaqoh penjuaraan indahnya suara manusia diantara masjid-musholla kita?

Ataukah kulit kita gemetar, muka-hati kita bersujud, mata kita melahirkan pertaubatan dan tangis kesalahan setelah didengarkan tadarrus Al Quran sebagaimana ciri orang berilmu dulu?

Sesungguhnya orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan sebelumnya apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas mukanya sambil bersujud dan mereka berkata: Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Isra: 107- 109).

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya…” (QS. Az-Zumar: 23).

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni`mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam : 58)

Buka puasa bersama, pada prosesi penutup puasa ini, apa saja manfaat yang sudah kita dapat? Apakah sama seperti Romadlon sebelumnya, yakni hanya diupahi lalapan kekenyangan dan sendawa kepuasan? apakah kita hanya sekadar tukeran jadwal makan?

Apakah ada perbedaan antara puasa anak-anak kita yang masih bertaraf latihan dengan puasa kita para dewasa yang bernilai kebutuhan iman? Masihkah kita memaknai bedug maghriban sebagai pembebas siksaan kelaparan dan pemutus belenggu nafsu setan? Ataukah kita sudah bisa meniru kebiasan mulia buka bersama sebagaimana cerita keluarga Sayyidah Fatimah?

Dan mereka memberikan makanan yang dicintainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang-orang yang ditawan. (sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridloan Allah, kami tidak mengharapkan balasan dan terima kasih dari kamu.” (QS. Al Insaan : 8-9).

Begitulah teladan keluarga Rasulullah meneladani kita semua. Itulah album religi yang patut kita kidungkan kembali dalam aksi-aksi membumi untuk kemaslahatan Indonesia ini. Beliau-beliau itu berani lapar demi mendahulukan kebutuhan makan para jelata yang lebih membutuhkan.

Pemberian beliau-beliau ini murni mengharapkan ridlo ilahi, bukan karena liputan televisi atau latah seperti kebiasaan sosialita negeri ini. Buka bersama kaum beriman diikhtiarkan sebagai amalan “berani kekurangan materi” asal rejeki halal ini bisa dibagi dan tidak untuk dirakusi sendiri. Buka puasa diniati sebagai karya kasihNYA melalui “usaha untuk kebersamaan”, bukan sekadar pelampiasan syahwat kepemilikan.

Pembaca Lentera, jika para selebriti hobi menelurkan “album religi” di setiap gelaran bulan suci, maka menurut saya, justru kita yang lebih berhak mencipta album religi di Romadlon ini. Sementara mereka berorientasi industri duniawi, kita bisa lebih gokil lagi, yakni berharap ridlo dan ampunan ilahi.

Pada akhirnya, bila prestasi laba jualan mereka diganjar penghargaan platinum, album religi kita pun layak dihadiahi bonus premium berupa binar Lailatul Qodar dan pertemanan para malaikatNYA.

Untuk itu, saya mengajak kepada pribadi saya sekeluarga dan pembaca semuanya, mari jalani sahur, tadarrus dan buka bersama seideal kisah-kisah para pendahulu kita. Jangan sampai sahur kita menguap kemuliaannya karena terlamun amalan sia-sia. Jangan sampai tadarrus kita hanya tembus kerongkongan saja karena kita sekadar membaca tanpa niat menyeriusi maknanya.

Jangan sampai buka bersama kita terhapus barokahnya karena kita riuh dendam menghabiskan suguhan tanpa ingat saudara-saudara kita yang berkondisi papa dan nasibnya teraniaya – kaum miskin di negeri ini, anak-anak yatim Afghanistan, Afrika, Palestina serta pengungsi dan tawanan Rohingya.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s