Bersahabat Malaikat

Siapakah hamba yang selalu taat perintah Allah tanpa banyak tanya? Malaikat. Siapakah hamba yang selalu pertama mengimani para RasulNYA? Malaikat. Siapakah yang tak bosan- bosan memintakan ampunan Tuhan bagi manusia dan orang beriman? Malaikat. Siapakah hamba yang doyan mendengarkan majelis keilmuan? Malaikat. 

Siapakah hamba yang ditugaskan Allah menghentikan siklus peradaban dunia dan memutus kehidupan manusia? Malaikat.” Demikianlah serangkaian pertanyaan dan jawaban yang sering diajarkan kepada saya sewaktu sekolah dulu.

Pada pertengahan Romadlon ini, ingatan tersebut mengemuka lagi. Dus, bila dikaitkan dengan keistimewaan Lailatul Qodar, pertanyaan dan jawaban itu cukup relevan kita renungkan.

Sebagaimana pembaca pahami, di malam seribu bulan, para malaikat akan turun merahmati
bumi dan menebarkan kalimat ampunan atas perintah Allah. Juga, bila kita ingat, bahwasanya Malaikat-lah yang pertama menyatakan sujud kepada Adam, maka sangat afdol dan niscaya bila kita jadikan mereka, para malaikat, sebagai sahabat terdekat di dunia sampai akhirat.

Bersahabat dengan malaikat maut, akan membuat kita terlatih wirai sebagai efek positif dari
pelajaran ingat mati. Sebagai petugas yang sewaktu-sewaktu diperintah Allah mencabut nyawa manusia, sesungguhnya ia selalu hadir di dekat detik dan aktifitas harian kita. Hanya saja, kesibukan urusan kita seringkali luput meliriknya.

Baru ketika maut akan menjemput, kita mendadak ingat kepadanya dengan efek kekagetan luar biasa. Alangkah baiknya mulai Romadlon ini, kita belajar mengenalinya lagi. Semoga pada jelang wafat nanti, malaikat maut turut mendoakan kita “Allaaahumma hawwin ‘alainaa fii sakarootil maut.”

Selanjutnya Roqib dan ‘Atid. Mereka berdua kita percaya sebagai petugas pencatat yang membawa mandat waskat (pengawasan melekat) setiap detik perilaku manusia. Sangat afdol bila keduanya kita jadikan sahabat dekat.

Setidaknya setiap melafadz bacaan tahiyyat, niatkan salam penghormatan kepada mereka berdua, “assalaamu’alaina wa ‘alaa ‘ibaadillaahis-shoolihiin.” Juga ketika menolehkan tanda salam ke kanan dan ke kiri, kita ikhtiarkan menyapa doa, “Selamat sholat dan wirid Yaa Roqib, Yaa ‘Atiid.” Semoga dengan salam itu, atas uluran kasihNYA, Roqib berkenan menambahkan catatan kebaikan dan Atiid menghapuskan daftar kejahatan kita semua.

Ada malaikat rahmat yang bertugas mengawal amalan-amalan positif kita agar sampai kepada Allah SWT. Afdol bila kita sering belajar menyapanya dalam doa, menanyakan apakah ada ilham amalan yang bisa kita lakukan. Atau bisa juga kita minta rahmat taubat, agar saat ia datang mengawani malaikat maut nanti, Allah menghapus dosa-dosa kita lewat jasa doa baiknya.

Lewat perantara malaikat rahmat, kita coba sapa juga Mikail yang bertugas membagi rejeki. Semoga keseharian kita bersama keluarga, selalu dibarokahi rahmat rejeki untuk kebersamaan dan manfaat keumatan.

Kepada malaikat Jibril, Sang Pembawa Pesan, mungkin bisa kita tanyakan, apakah masih ada ulama pewaris para utusan yang diturunkan Tuhan? Senyampang kondisi keIndonesiaan yang kian memprihatinkan, bolehlah kita berharap semoga Allah mau mengutus kembali Sang Jibril untuk mengirimkan pesan tentang kedatangan Ratu Adil.

Kepada Israfil, perlu juga kita tanyakan, apakah masih lama terompet kiamat itu ditiupnya? Sementara kita khawatir akan kerusakan manusia yang bisa menjerumuskan keluarga kita, jika bumi dunia masih diberi perpanjangan ijin operasionalnya.

Selain sepuluh nama malaikat yang biasa kita hafalkan, ada malaikat-malaikat lain yang jumlahnya hanya Allah yang tahu. Mereka bertugas sejak sebelum adanya kita dengan totalitas kepatuhan dan ketundukan kepadaNYA.

Menurut beberapa sumber qaul, ada malaikat yang dicipta hanya untuk sujud saja, rukuk saja, takbir, bertasbih, dan bertahiyyat sampai hari kiamat. Sedari mula dicipta, hanya bertugas sebagaiman perintahNYA dan tak kan pernah ia bergerak tanpa aba-aba dariNYA.

Pembaca, memang domain para Malaikat lebih dekat kepada para Nabi dan RasulNYA. Tapi sebagai sesama hambaNYA, tidak berlebihan kiranya jika kita turut belajar bersahabat dengan para malaikat. Beberapa hikayat pun menuturkan, banyak manusia beriman selain Nabi-Rasul yang dijumpai malaikat dan diberikan ilham rahmat.

Ada cerita 3 orang berpenyakitan, ada cerita Ibunda Mariyam, dan kisah-kisah di Sirah Nabawiyah. Semua itu membuktikan, Allah memberikan kesempatan yang sama kepada hambaNYA, untuk bisa dekat dan bersahabat dengan para malaikat.

Setiap detik, menit, jam, pekan, bulan dan tahun, mereka ada di dekat kehidupan kita. Para malaikat itu mengawasi keseharian, mencatat amalan, mengirimkan peringatan Tuhan (baik berupa kabar gembira atau berita bencana), mengawal kematian, menginterogasi di “tahanan” kuburan, hingga jadi petugas penyaksi setiap diri di akhirat nanti.

Hanya karena keberadaan mereka yang ghaib saja, indera kita luput menerawangnya. Maka dalam Romadlon ini, saya mengajak kita semua untuk belajar berkenalan dan bersahabat dengan para malaikat. Kita niati ini, sebagai silaturahmi pembuka sebelum hadiah Lailatul Qodar tiba.

Penting kita catat dan ingat, bahwa malaikat adalah hamba yang beriman. Tentu saja mereka hanya mau berteman dengan hamba-hamba mu’min yang dekat dengan Allah. Maka di seperduapuluh Romadlon ini, kita semarakkan amal shalih sekuat-kuatnya, agar malaikat mau mendekat dan berbagi rahmat kepada kita semua.

Setidaknya kita berniat balas budi sekadar menyapa dan berterima kasih atas penghormata sujud doa mereka kepada kita. Mungkin saat berbuka puasa atau sahur bersama keluarga, afdol kita permisi dan uluk salam kepada mereka.

Mari jadikan rumah sebagai festival ibadah dengan bacaan Al Quran, amalan keakhiratan, mihrab ketauhidan, dan majelis keilmuan bagi saudara-saudara seiman. Kita jadikan masjid sebagai sentra madrasah keluarga, terutama untuk membina kekerabatan sosial dan penguatan mental spiritual.

Semoga dengan ikhtiar riil dan kecil, para malaikat kian bersemangat mendoakan ampunan dan keridloan Tuhan. Pada akhirnya nanti, kita disalami malaikat Ridlwan saat menikmati surga yang penuh ridlo dan ampunan.

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala. (QS. 40 : 7)

Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam syurga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan isteri-isteri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang- orang yang Engkau pelihara dari (pembalasan) kejahatan pada hari itu maka sesungguhnya telah Engkau anugerahkan rahmat kepadanya dan itulah kemenangan yang besar”. (QS. 40 : 8 – 9).

Aamiin.

 

 

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s