Ingkar

Dalam perjalanan sejarahnya, Bani Israil adalah contoh bangsa yang selalu mendustakan rasul-rasulNya. Di masa purbanya, mereka telah berulang kali disumpah dan sekaligus berikrar di hadapan Allah bahwa di masa-masa mendatang jika Allah menurunkan Rasul, mereka akan mendukung/membela.

Atas sumpah itu, Allah pun menyaksikannya. Namun kenyataannya, saat Rasul yang datang kepada mereka di setiap jaman, selalu mereka dustakan dan sebagian diantaranya bahkan dibunuh.

Pengkhianatan kaum Bani Israil ini terekam dalam firman Allah QS. 2:246 ; QS. 13:43; QS. 16:113; QS. 43:6-7; serta masih banyak ayat lainnya yang senada. Seolah mencontoh kebiasaan Bani Israil dan bangsa-bangsa purba sebelumnya, hampir setiap bangsa yang dikirimi Rasul oleh Allah, selalu bereaksi sama, yakni menolak dan memusuhi. Sila baca QS. 15:11; QS. 51:52-53.

Satu fenomena menarik yang bisa kita pelajari dari reaksi umat ini adalah adanya beberapa kesamaan di setiap generasi penolak Rasul itu.

Pertama, Rasul yang diutus kepada mereka berasal selalu dari kalangan kaumnya sendiri. Ini dimaksudkan Allah, agar interaksi penyampaian risalah lebih mudah. Asumsinya, Rasul sudah mengenal betul karakteristik, pola hidup, dan budaya berfikir masyarakat setempat.

Kedua, alasan penolakan yang dikemukakan umat berawal dari keyakinan bahwa mereka masih ngotot setia memegang teguh ajaran Rasul terdahulu. Padahal Rasul yang ditolak itu justru ditugaskan Allah untuk mengajak umat kembali ke ajaran Rasul sebelumnya –yang ajarannya telah banyak diselewengkan umat.

Uniknya, ucapan yang disampaikan untuk mengomentari pengutusan Rasul itu juga sama. Tuduhan gila, bodoh, tukang sihir, pendusta, sesat jalan, adalah diantara cap yang disematkan umat kepada para Rasul. Kita bisa melihat catatan sejarah itu pada QS. 51:52-54.

Ketiga, ada kesenjangan antara harapan manusia dengan kehendak Allah berkaitan dengan performa lahir seorang Rasul. Umat selalu berfikir bahwa yang pantas menjadi utusan Tuhan adalah mereka yang memiliki tempat di hati masyarakat (ilmuwan, cendekiawan, agamawan, hartawan, dan figur publik lainnya).

Namun ternyata Allah menjungkirbalikkan harapan nafsu manusia dengan selalu mengutus para Rasul dari kalangan ardzaluun, ummi (bodoh baca tulis), dan orang yang berstrata biasa dalam struktur sosial masyarakatnya.

Lalu kenapa umat sedemikian gigih menentang setiap pengutusan Rasul Allah? Bila ditelaah secara logika, maka akan ada beberapa jawaban yang memungkinkan. Pertama, Rasul diangkat oleh Allah yang ghoib.

Kapan diangkatnya, di mana prosesinya, siapa penyaksinya, semuanya samar. Sehingga ketika Rasul memproklamirkan penugasannya, mayoritas umat mencibir dan sedikit sekali yang mengimani. Hanya orang-orang terpilih dari kalangan beriman saja yang mau percaya.

Beda misalnya dengan jabatan presiden, raja, atau anggota parlemen yang diangkat oleh manusia. Mulai proses pemilihan, waktu, tempat dan tanggal pengangkatan, semuanya bisa disaksikan oleh indera. Jadi tak terlalu sulit bagi mereka untuk mendapat legitimasi masyarakat.

Kedua, jabatan Nabi-Rasul tidak memakai tanda pengenal yang bisa dilihat. Tidak ada embel-embel, pangkat, atau badge jabatan yang tertempel di pundak atau tergantung di dada.

Pangkat kerasulan itu ghoib, tersimpan di dalam perilaku, ajaran dan gerakan dakwahnya. Sementara perilaku, ajaran, dan gerakan dakwahnya lebih banyak berbenturan dengan kebiasaan umum dan kepentingan nafsu manusia. Akhirnya setiap periode kerasulan bergulir, reaksi umat selalu klasik, yakni menolak, mengingkari, bahkan berusaha membunuhnya.

Hal itu dipersulit oleh kenyataan bahwa hampir setiap Nabi-Rasul selalu diangkat Allah dari kalangan bawah. Sehingga semakin mustahil saja bagi manusia umum untuk mengimani Nabi-Rasul yang datang, walaupun mereka berada di tengah-tengah lingkungannya. Berbeda dengan tanda kepangkatan presiden, raja, aau jabatan manusia lahir lainnya yang berciri mudah dikenali.

Sejarah selalu mencatat bahwa kebenaran dan keadilan Allah di saat umat mengalami kebingungan akibat kerusakan, hanya akan muncul bersama datangnya para utusanNya.

Di saat itulah Allah lewat pengutusan Imam Mahdi yang bergelar Satrio Paningit, menyatakan dan menampakkan ajaran serta golongan yang beribadah seperti halnya Rasulullah Muhammad SAW.

Dialah yang akan memberikan hukum dan keadilan bagi perselisihan umat. Untuk itu, kita harus percaya bahwa Allah akan memenuhi janjiNYA yang tidak membiarkan umat dalam keadaan tersesat.

Pembaca, zaman yang sekarang ini ngawur dalam segala aspek kehidupan, butuh revolusi perubahan signifikan dan segera waktunya. Pelopor perubahan hanya bisa dilakukan melalui tangan para pewaris Rasul yang membawa mandat penggembalaan umat.

Siapa, di mana, kapan, dan bagaimana Allah memilih petugasNya, itulah yang sebaiknya kita istikhoroh-kan. Bisa jadi mereka sudah lama berada di tengah-tengah kita, sementara indera lahir kita luput mengenalinya. Atau mungkin akibat bertumpuknya dosa kita, sehingga masih merasa beriman, jadi tidak perlu mendambakan pembaruan iman dan perbaikan ajaran.

Tentu kita tidak ingin mengulangi sejarah Bani Israil yang dikaruniai zaman pengutusan, tetapi malah membangkang dengan berbagai alasan penolakan.

Mudah-mudahan kita tidak dicap sebagai bangsa ingkar, hanya karena kita egois merasa benar sendiri, dan enggan menemukan juru kebenaran yang telah ditugaskan Allah di tengah-tengah kita semua.

Jika melihat sebegini parah kerusakan umat, sementara perangkat duniawi buatan manusia sudah tak mampu mengendalikannya, maka kehadiran para pewaris utusan Allah patut dibutuhkan.

Tinggal kita nantinya, mau beriman terhadap ajakannya atau malah ingkar dan menganggapnya orang gila karena ajarannya tidak sesuai kebiasaan nafsu kita?I

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s