Manja

Saya jadi teringat dulu, komunitas santri sering dilekati stigma olokan “tumo sarungan”. Stigma ngawur ini, turut kata para pengolok, merujuk pada pola keseharian santri yang terkesan malas-malasan.

Plus fasilitas belajar di beberapa pesantren yang kurang berbudaya lingkungan, sehingga kondisi kesehatan mereka relatif banyak penyakitnya. Olokan “tumo sarungan” –sekali lagi kata para penuduh itu– lekat dengan ciri pribadi wanprestasi seperti ngantukan, penyakitan, malas beraktifitas dan suka bermanja-manja.

Olokan itu kian bertambah seru jika dibumbui dalil-dalil naqli yang menguati tuduhan kepada santri tadi. Misalnya, pada keutamaan puasa saat Romadlon ini. Beberapa pengolok percaya, santri selalu menggunakan dalil “tidurnya orang puasa adalah bernilai ibadah”.

Dalil lain diyakini “air liur orang puasa yang sedang tidur seperti harum wangi minyak kesturi”. Terlepas dari sahih atau dloif redaksi sanad-matan-riwayat dalil ini, para santri kerap dituduh menyalahgunakan dogma taklid-nya untuk melestarikan kemalasan, kejorokan dan keterbelakangan.

Bagi yang tidak tahu atau belum pernah live in di komunitas santri, tuduhan itu mungkin dipercaya begitu saja. Tapi sebagai bagian dari lingkungan kepesantrenan, saya menolak dan menyangkal stigma “tumo sarungan” dan “santri manja” ini. Karena jika diantara pembaca mau menengok aktifitas kepesantrenan sekarang, penilaiannya akan berbeda.

Sekadar diketahui, di lingkungan pesantren kami, aktifitas pembelajaran dimulai jam 2 pagi dan berakhir jam 10 malam. Khusus malam Senin dan Jumat, ada bonus materi “Renungan Suci” hingga jam 12 malam. Tentang kebersihan, insyaAllah santri kami jadi rujukan percontohan “pesantren berbudaya lingkungan”.

Siklus berdoa-belajar-bekerja itu berlangsung tujuh hari penuh. Libur jeda Jumat pagi hingga sore saja. Disibukkan padat jadwal itu, para santri sulit untuk bermalas-malasan atau berlama-lama tiduran. Apalagi saat Romadlon begini, tugas kian bertambah dengan aktifitas ibadah sunnah, seperti ngaji kitab suci, yang digerakkan secara swadaya oleh mereka.

Itu belum termasuk jadwal pribadi seperti mencuci, kerja bakti, dan aktifitas piket kerumahtanggaan kepesantrenan. Pesantren salaf dan kholaf yang pernah saya pirsa, juga menerapkan standar jadwal padat-ketat serupa.

Kini, tuduhan yang sama sering dialamatkan kepada muslim/muslimah yang sedang berpuasa. Bedanya dengan santri tadi, tuduhan itu cenderung “dibenarkan” oleh beberapa tingkah saudara kita.

Dapat dilihat, pekan-pekan awal puasa begini, biasanya masjid di kantor-kantor kepegawaian akan dipenuhi oleh orang yang tidur lesehan. Tiba-tiba banyak alasan ketidakhadiran.

Jika pun masuk kantor, tiba agak kesiangan, dan jam pulang berubah dimajukan. Romadlon yang semula diniatkan latihan penjajakan kualitas iman, berubah menjadi pembenar kemalasan dan kemanjaan.

Pun bagi para pegiat rumah tangga atau pekerja di sektor non-kantor. Romadlon yang diingat, adalah dalil-dalil peringan kewajiban dan pemudah ujian. Seperti misalnya alasan rukshah yang diperbolehkan menunda puasa dengan cara membayar fidyah. Silakan pakai dalil itu bagi yang uzur sakit berat sehingga mustahil berpuasa.

Tapi misalnya bagi calon ibu yang hamil muda, lalu berdalih rukhshah kemudian bayar fidyah sebagai pengganti puasa Romadlon, saya rasa itu bagian dari sifat manja. Apalagi jika kehamilan itu normal dan tidak ada diagnosa mengkhawatirkan.

Menurut hemat saya, justru dengan ikut berpuasa, calon ibu sekaligus mendidik si jabang bayi agar mulai terlatih mandiri sejak dini dan semoga ruhaninya diasupi gizi iman dari ilahi.

Berdasarkan pengalaman ibu dan umi saya yang melahirkan dua puluh putera-puteri, setiap kehamilan bertepatan Romadlon, justru beliau berdua ikut berpuasa dengan niat pendidikan privat ruhiyat jelang pre-natal.

Praktik parenting skill lewat tirakat kuat itu, insyaAllah kini terbukti pada keseharian kami yang terlatih mandiri sejak dini dan mustahil bermanja-manja pada saat bekerja.

Kembali pada tuduhan manja tadi, banyak saudara kita yang tanpa sadar justru membenarkan tuduhan ini dengan aktifitas Romadlon mereka. Misalnya, musafir yang dengan mudah membatalkan puasanya hanya karena berpegang pada ijma’ jauhnya jarak.

Lha kalau dulu, jaman Rasulullah naik unta melewati padang gersang, panas terik, badai pasir, dan halangan berat lainnya, dalil itu bisa diterima. Nah, tapi sekarang perjalanan cepat berpesawat, bis berpendingin, jadwal kapal relatif normal, kondisi jalanan lancar, lalu kemudian menunda puasa, saya kok kuatir dalih musafir itu bagian dari alasan kemanjaan.

Pun dengan buruh tani di desa atau pekerja serabutan berupah harian, banyak diantara mereka yang menolak puasa. Alasannya, kerjanya terlalu berat dan butuh tenaga ekstra. Padahal diantara mereka juga masih banyak yang kuat puasa sambil bekerja bersama-sama di satu lahan garapan.

Saya tidak berwenang menilai ganjaran amalan mereka –yang tidak berpuasa dengan alasan pekerjaan– di hadapan Allah. Tetapi pastinya, dari perilaku muslim seperti ini, anggapan Romadlon sebagai “bulan kemalasan” seolah kian mendapatkan pengesahan. Mirisnya, itu diperlihatkan oleh sebagian dari kita yang tidak serius beragama dan manja menawar kewajiban berpuasa.

Pembaca Lentera, gejala umum yang banyak dirasakan puasawan/puasawati saat memasuki hari-hari Romadlon ini adalah rasa lemas dan mata mudah ngantuk. Reaksi tubuh akibat penyesuaian ritme kebiasaan makan dan pola tidur ini, terutama, dialami oleh mereka yang tidak biasa berpuasa sebelumnya.

Anak saya, Irsa, 4 tahun, yang kini memasuki tahun kedua puasanya, juga bereaksi sama. Setelah sahur tidur, pagi menjelang sekolah, dan setelah sholat dzuhur, lagi-lagi tidur. Waktu mainnya berkurang karena tersita jam bobo siang.

Jadi saya kira, tak patutlah alasan puasa kita jadikan pembenar pelanggaran terhadap perintah dan kewajiban. Kurang elok jika kita mengurangi jam kerja kantor dengan dalih Romadlon.

Malu rasanya jika diantara kita berkebiasaan tidur-tiduran di musholla pada jam kerja hanya karena percaya “tidur orang puasa adalah bernilai ibadah”.

Sudahlah jangan ditambah-tambahi korupsi waktu dengan cara datang ke kantor siang dan pulang lebih awal karena beralasan “ritual”. Ayo meniru Rasulullah dulu, yang biasa menjalani Romadlon tanpa pengurangan aktifitas kerja.

Justru Romadlon ini kita jadikan pembuktian, bahwa muslim/muslimah itu kuat lahir batin. Tanggungan puasa malah mendorong etos kerja. Ujian lapar dan haus kian memacu prestasi yang bagus-bagus. Sengatan terik yang panas, justru melecut produktifitas dan kinerja gegas.

Kepada para santri, saya pun menyemangatinya seperti itu. Mari melawan semua tuduhan dengan kerja kesantrian yang bisa dilihat masyarakat. Tirakat kuat tidak boleh menghalang-rintangi aktifitas pelayanan umat dan kegiatan pekerjaan harian. Justru dengan Romadlon, amalan kian diperhebat karena janji pahalanya berlipat dunia akhirat.

Tentu saya tidak mau menyamakan kita semua seperti anak saya yang pingin puasa bedugan, mokel puasa di tengah jalan, menawar puasa dengan alasan kemanjaan, lalu merengek minta disegerakan adzan agar boleh menyeruput makanan minuman.

Saya juga tidak mau, stigma buruk “tumo sarungan” yang dialamatkan kepada santri tadi, nanti berganti kepada kita. Hanya karena kita suka bermanja-manja saat bulan puasa, menggampangkan dalil rukhshoh, mempermudah dalil bayar fidyah, memanfaatkan reaksi normal penyesuaian badan, dan alasan lain yang memperlihatkan tingkah manja kecengengan.

Salam Shoum Sempurna !

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s