Maa Utiya Mogena

Beberapa waktu lalu, pesantren kami kerawuhan rombongan pemotor. Mereka bermaksud merayakan hari jadi komunitas pengendara yang mereka kelola. Acara ini cukup unik, karena diakui mereka, baru pertama kalinya menyelenggarakan perayaan di luar kebiasaan.

Selain tempatnya di pelosok desa, lokasinya juga berada di komplek pesantren –sesuatu yang bernilai baru bagi penggemar tour-biker dan party-goeser.

Saat rombongan tiba, hebohnya luar biasa. Puluhan motor besar dengan suara knalpot gahar plus kawalan vooreijder di barisan depan, membangunkan kesunyian desa kami, Ahad pagi itu.

Kendaraan yang terlihat jantan dan penunggang yang rata-rata berpenampilan rupawan, menjadi tontonan masyarakat. Tidak sedikit mereka datang mendekat lalu mengelus motor yang diparkir berjajar, sementara lainnya rebutan mejeng berfoto ria.

Beberapa santri yang bertugas menyambut rombongan di pelataran seolah tak ingin ketinggalan. Raut wajah mereka terlihat nyata menyunggingkan kekaguman. Hanya, mungkin karena segan dengan saya, mereka tidak berani mendekati motor-motor gede itu.

Iseng, saya hampiri seorang santri dan saya tanyai, “Gimana, sampeyan kepingin ya?” “Iya,” jawab santri itu singkat. Jujur saja, meski saya menolak saat ditawari bergabung komunitas serupa ini, sekilas kekaguman dan keinginan memiliki kendaraan milik mereka tetap ada. Walau kemudian keinginan itu lekas sirna karena pertimbangan hobi saya bukan di sana, selain tentu saja tidak punya biaya.

Masyarakat tetangga pesantren, para santri, juga saya yang sempat mengagumi dan berangan-angan ingin memiliki moge tadi, sepintas normal berlaku insting manusiawi. Siapa sih yang tidak suka tampil bergaya dan dikerubuti pujian manusia? Siapa sih yang menolak hidup berfasilitas enak?

Siapa sih yang enggan berpenampilan elegan dan berdandan kecantikan? Siapa sih yang tidak mau berkendaraan keren dan beratribut gentlemen? Rasanya kok sama dengan jawaban saya, ketika melihat pesona keenakan dunia, kita cenderung ingin menikmati pesona enak yang sama juga.

Fenomena kekaguman yang saya alami bersama para santri tadi, rupanya pernah diceritakan dalam Al Quran. Walau berbeda masa, latar cerita, dan figur tokohnya, ada sedikit kemiripan yang perlu saya dan pembaca renungkan.

“Maka keluarlah Qorun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qorun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. 28 : 78)

“Berkatalah orang-orang yang dikaruniai ilmu, “Kecelakaan yang besarlah bagimu. Pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali bagi orang-orang yang sabar.” (QS. 28 : 79).

Ternyata, meskipun berlangsung sesaat dan seperti manusiawi, Al Quran menilai “kekaguman dan keinginanan” saya beserta para santri itu sebagai “perbuatan orang bodoh”. Asumsinya, kedua ayat tersebut menceritakan dua perbedaan respon manusia ketika melihat kenikmatan dunia.

Mereka yang mengagumi dan memimpikan keenakan Qorun adalah para penggila dunia. Sementara mereka yang tidak tergoda harta Qorun adalah manusia berilmu. Apesnya, saya berada di posisi pertama, orang yang mengagumi dan mengingini moge itu. Jadinya, menurut Al Quran, saya termasuk manusia kurang berilmu.

Saya tidak sedang menyamakan komunitas pemilik motor gahar itu dengan Qorun. Karena bisa jadi kepemilikan barang itu hal biasa buat mereka, dan bukan berniat menunjukkan kemewahan. Bagi kita yang takut berkendara roda dua dan kurang suka riuh pesta, keberadaan moge tadi mungkin tidak menarik minat untuk sekadar melihat-lihat.

Saya mengasumsikan sederhana berdasarkan kesepakatan sepihak, terutama masyarakat desa sekitar pesantren dan santri tadi, bahwa moge itu fasilitas luxury. Pada tulisan ini, saya ingin merefleksikan diri sebagai “pengagum bodoh” kenikmatan profan. Perlu kiga dicatat, bahwa kenikmatan ataupun kemewahan tidak hanya dicirikan moge saja.

Apa yang saya alami bersama santri, mungkin pernah menimpa pengalaman pembaca. Berangan-angan ingin segera enak, puas, bangga, mewah, kaya, bebas, dan lepas menurutkan hawa nikmat surga dunia.

Sebagaimana ayat Al Quran tadi, di pikiran sebagian kita, mungkin terbersit “andai saya bernasib seberuntung mereka”; “andai saya seterkenal artis itu”; “andai saya dilahirkan dari keluarga istana”; “andai saya sekeren boyband”; “andai saya termasuk orang terkaya di dunia”; “andai nasib saya semujur gubernur”; “andai saya bermobil Formula”; dst, andai-andai lainnya.

Persis sama dengan angan-angan sekilas saya dan santri tadi, “andai saya mengendarai moge ini, pasti macho sekali” atau kalau diterjemahkan versi Al Quran, “maa uutiya mogena”. Keinginan dan kekaguman yang tidak berdasarkan kebutuhan. Angan-angan atau perandaian yang bersifat tersier dan tidak perlu.

Semua keinginan itu jika diteruskan dan dituruti, akan melenyapkan potensi syukur yang kita punya. Apa yang sudah diberikan Allah berupa nikmat sehat dan organ kelengkapan badan gratis ini, terasa akan kurang lagi, kurang lagi.

Pada Romadlon ini, tradisi keramaiannya kian beraneka saja. Selain riuh makanan dan mercon, sebatas yang saya tahu, ada ngabuburit dan sahur on the road (SOTR).

Entah siapa yang memulai ini semua dan dari mana rujukan teladannya, rambatan tiruannya kini ramai merambah desa. Sore-sore jelang berbuka puasa pergi ke kota bersama keluarga. Biasanya ke pusat perbelanjaan atau arena permainan. Setelah sahur, ramai-ramai menyusuri jalan raya sambil cuci mata. Asyik ya.

Seringnya, saat melakoni dua sub-kultur itu, akan hadir godaan-godaan spontan dari “nikmat-nikmat” yang lewat. Lalu melihat itu semua, mata, telinga, mulut dan hati kita akan berkata jujur sambil tergiur, “maa uutiya fashiona”; “maa uutiya bening cantiknya”; “maa uutiya motornya”; “maa uutiya lezatnya”;

“maa uutiya high-heel-nya”; “maa uutiya diskonnya”; “yaa laita lanaa mitsla maa uutiya (oh, kiranya kita bisa punya seperti apa yang diberikan kepada mereka..”) Jika sampai terjadi begini, maka Al Quran menyebut kita sebagai yuriiduunal-hayaatad-dunya alias “orang celaka”.

Maka ajakan saya kepada pembaca semuanya, mari serius memaknai Romadlon kali ini sebagai bulan suci sesungguhnya. Itu bisa kita mulai dari prosesi penyucian diri, terutama di sepuluh hari pertama yang disebut “hari berkat rahmat”. Kita maknai ngabuburit dengan wirid syukur sehat, bisa dilakukan di masjid atau di rumah.

Rejeki lebih yang kita miliki, afdolnya kita tasarufkan kepada yang membutuhkan. Atau jika pembaca ingin sahur on the road, jalani saja dengan dakwah keliling, berbagi makanan ruhani, menyambangi saudara-saudara kita di pulau terpencil Indonesia. Ikhtiar ini semoga membawa kita kepada rahmatNYA dan gelar “orang berilmu” yang tidak terlamun harta Qorun.

Selamat berpuasa !

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s