Israil, Dikutuki Sekaligus Diteladani

Semula, Israil dikaruniai keutamaan sebagai umat pilihan dengan ciri kecerdasan dan bumi yang mereka diami menjadi tempat tugas para Nabi. Tetapi karena keras kepala, kelewat pongah, dan suka membantah, nasib mereka berakhir tragis. Keberadaan Israil dikutuki sebagai bangsa hina, terusir berdiaspora dari tanahnya, hingga disabda menjadi babi dan manusia kera.

Uniknya, perangai Israil yang tercela, beberapa diantaranya justru kita sifati dan akrabi dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini sifat Israil yang diceritakan Al Quran dan tanpa sadar sering kita lakukan.

Pertama, kemaruk makanan. Peristiwa ini terjadi ketika Israil baru saja diselamatkan Rasulullah Musa dari kejaran Firaun. Sambil menunggu perintah memasuki Baitul Maqdis, Bani Israil dimanja dengan makanan gratis dari langitNYA, berupa Manna dan Salwa.

Sebetulnya menu itu sudah cukup dan mereka diperintahkan beristighar dan bersyukur. Tapi bukannya puas, mereka malah menuntut tambahan menu baru seperti sayur, timun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah. Mereka beralasan tak tahan dengan satu jenis masakan. Kisah ini bisa dibaca pada QS. Al Baqoroh : 57 – 61.

Bandingkan dengan kebiasaan kita dan keluarga dalam menikmati makanan. Cukupkah satu jenis menu dan mengucap sebanyak-banyaknya syukur nikmat sehat? Kebiasaan umum, nafsu kita menuntut lebih.

Sebenarnya nasi, lauk, sayur, plus air putih sudah mencukupi kebutuhan jasmani. Tapi akibat rengekan setan, masih pengin nambah lalapan, kerupuk, sambal, gorengan, es jus, minuman suplemen, dst. Itu belum termasuk ngemil jajanan di luar jam makan. Nyaris persis kerakusan Bani Israil, bukan?

Apalagi jelang Ramadhan begini. Belanja kebutuhan makanan tak pernah sepi. Silakan cermati data transaksi di pasar-pasar tradisional dan pusat perbelanjaan swalayan. Kita akan dapati grafik naik jual beli di tempat-tempat bisnis ini.

Iklan makanan di koran, radio, dan televisi kian massif digencarkan. Pasar kaget bermunculan seperti jamur di musim hujan. Aneh betul kan? Kesahajaan Ramadhan yang semestinya diniati latihan pengereman nafsu makan, malah beralih fungsi jadi culinary party. Bukankah anomali ini menapaktilasi tragedi Israil yang kita kutuki?

Kedua, suka membantah ajakan kebenaran berdasar logika ngeyelnya. Kisah ini bisa ditelusuri pada QS 2:67. Saat Rasulullah Musa mememerintahkan Bani Israil menyembelih sapi, mereka cerewet banyak tanya. Pada peristiwa ini, terlihat betapa jahil Bani Israil hingga mengecewakan RasulNYA.

Apa yang kita jalani sebenarnya tak jauh beda. Misalnya ada perintah agama yang kita rasakan agak berat, maka logika bantahan dan ketidaksanggupan akan kita ungkapkan. Hitung saja, berapa perintah Al Quran dan sunnah Rasulullah yang sudah kita amalkan?

Sebandingkah dengan pengakuan kita sebagai umat Muhammad atau setidaknya meneladani para sahabat? Kebiasaan kita, lagi-lagi, suka beralibi untuk menutupi kemalasan kita dalam merespon ajakan RasulNYA. Persis sikap jahil Bani Israil.

Ketiga, durhaka pada seruanNYA dan suka berkhianat terhadap amanat. Baru 40 hari Bani Israil ditinggal Rasulullah Musa ke bukit Thursina, mereka sudah berani menuhankan sapi (QS. 2:51). Perilaku ini juga sering menghinggapi kita.

Sebagai pribadi yang telah berjanji akan memurnikan ketauhidan dan totalitas penyembahan, ternyata aktifitas kita lebih banyak “menuhankan” urusan kebendaan-keduniawian. Hitung saja dari 24 jam – 7 hari jadwal rutinitas yang kita gegas, berapa lama waktu untuk mengingatNYA?

Jika Bani Israil menuhankan sapi, maka sebenarnya kita pun sama, menuhankan teknologi dan kesibukan duniawi. Sembahan kita beralih memelototi layar 7-14 inchi. Di sana, dalam rekaman data komputer/ponsel, tercatat galau doa dan kiriman pesan-pesan harapan dunia kita.

Bahkan saat sholat yang semestinya waktu khusus menyembah Allah, seringkali pikiran kita masih tersandera pesan di kotak masuk dan urusan yang super sibuk.

Jika dulu pada hari Sabtu, bani Israil pergi ke sungai mencari ikan, maka kini sangat banyak diantara kita yang pada saat sholat Jumat masih saja melanjutkan urusannya. Sekali lagi, kebengalan Bani Israil era Rasul Musa, kini kita tiru seutuhnya.

Keempat, suka mengeluh dan tidak tahu terima kasih. Sepanjang perjalanan survival yang dikawal Rasulullah Musa, Bani Israil selalu mengeluh dan tak mau bersyukur.

Laku buruk ini juga sering kita ikut, tanpa kita sadari. Betapa Indonesia dengan segenap potensi surgaNYA, masih saja kita ratapi kekurangannya. Semua itu akibat ketidakpandaian kita dalam bersyukur dan hanya gemar mengeluhkan keadaaan.

Kelima, menyombongkan kepemilikan dan mengklaim kepandaian. Pada kisah Qarun, saat diperingatkan agar tidak kelewat bangga memamerkan kekayaannya, ia protes ngeles, “Sesungguhnya semua sukses karir dan harta ini semata karena keahlianku saja,” demikian sesumbar Qarun (QS. 28:78).

Ia lupa bahwa semua itu ujianNYA dan hasil cipratan dari berkat doa Nabi Musa. Di akhir cerita, ia dibenamkan ke bumi beserta semua harta yang dibanggakannya.

Seringkali kita mengikuti tingkah Qarun Israil itu. Pada saat moncer karir, sukses bisnis, atau diuji coba dengan melimpahnya harta, kita akui sebagai hasil kecendekiaan dan keahlian kita. Terlupa, bahwa semua itu adalah sekadar “pinjaman” fasilitas Tuhan.

Kesombongan kepemilikan dan klaim kepandaian hasil tiruan sifat Israil inilah yang kini mencelakakan kita semua, bangsa Indonesia. Masing-masing saling mengadu alter ego dan bangga memamerkan kepakarannya, sehingga kita mudah terpola devide et empera. Kecerdasan tidak melahirkan kemaslahatan, tapi justru memunculkan pertikaian.

Itu belum dihitung sifat bani Israil yang tidak sabaran, maniak riba, cinta mati dunia, suka berkuasa, dan curang berniaga dengan cara menipu sesama manusia. Hampir perangai itu berlaku diantara saudara seagama kita juga.

Pembaca, saya sangat tidak berharap akhir cerita umat Rasulullah Musa yang dikutuk jadi babi dan kera, nantinya menimpa kita juga. Hanya karena kita tidak pandai memanfaatkan karunia kecerdasan, salah mengelola potensi kebersyukuran dan kurang waskita menjalani ketetapanNYA sebagai umat pilihan Indonesia.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s