Pertengahan Sya’ban

Kembali kita dipertemukan dengan bulan Sya’ban. Ramai broadcast bertebaran mengingatkan tentang keutamaan Sya’ban, terutama kemarin dan hari ini, yang dipercaya sebagian orang, tepat berada pada hari pertengahan bulan (nisfu sya’ban). Undangan Yasinan, sholat tasbih, melekan, rencana puasa plus doa-doa khusus nampak riuh menyinggahi situs jejaring sosial sejak kemarin hingga hari ini.

Ada baiknya juga jika saya turut berbagi pesan nisfu sya’ban buat pembaca Lentera semuanya.

Pertama, jadikan hari ini sebagai start-up peningkatan volume kebaikan beserta cakupan penerima manfaatnya, tidak terbatas pada ritual formal dan rutin saja. Perbanyak sedekah investasi ukhrowi kita dengan ragam produk tambahan dari yang sudah kita rutinkan.

Para jelata bisa sedekah doa mengirimkan Al Fatihah buat para pemimpin, para sarjana muda bisa menyumbangkan tenaganya untuk misi pencerdasan di wilayah-wilayah pedalaman, para santri bisa berlomba mengamalkan kajiannya sehingga tidak puas “pandai baca atau hapal dalil kitab saja”.

Tentu saja derivat amalan kebaikan menyesuaikan sumber daya yang pasti kita punya, sehingga tidak ada alasan lagi buat kita untuk tidak berbuat baik. Sedekah tidak harus harta, bisa berupa tenaga, sumbangan fikiran, atau kiriman doa sekuat-kuatnya bagi orang yang kita anggap berdosa.

Start-up kebaikan berlaku bagi kita yang kemarin-kemarin masih merasa kurang catatannya. Sementara buat kita yang merasa berkecukupan amalan pahalanya, maka hari ini kita niati “peningkatan lebih dan lebih lagi”.

Kedua, momen pertengahan Sya’ban dapat kita manfaatkan sebagai pemberhentian kejahatan atau setidaknya “istirahat beberapa saat dari laku maksiat”. Bagi penyuka korupsi, mari berhenti setidaknya jeda untuk hari ini.

Buat kita yang suka bergosip lewat media, baiknya hentikan sekarang juga atau berhenti sementara waktu sambil menunggu nisfu sya’ban berlalu. Kaum santri yang masih cinta syahwat dunia, segera putuskan saja cintanya.

Ingat, bahwa perbuatan jahat atau maksiat tidak hanya molimo saja. Bahkan jika kita terobsesi menimbun harta pribadi dan atau sekadar mengenyangkan rejeki keluarga sendiri, lupa berbagi kepada sesama, menurut Rasulullah Muhammad, itu sudah dikategorikan perbuatan salah/jahat (laa yahtakiru illaa khaathi’un).

Maka pada pertengahan Sya’ban ini, kita niat berganti dari kejahatan obsesi duniawi menuju kebaikan ukhrowi dan mulai memupuk cinta ilahi. Selanjutnya kita perkuat semangat taubat dan rutinitas instropeksi agar bangsa ini piawai mengarifi kesalahannya sendiri.

Ketiga, pertengahan sya’ban bisa kita ikhtiarkan sebagai “Semangat Berbagi Permaafan”. Jika tidak bisa dalam bulan ini, maka di sisa dua pekan nanti, mari belajar sedekah maaf bagi orang yang pernah khilaf. Memberikan permaafaan bagi mereka yang sering menyakiti kita.

Saya sendiri pun sadar, memberi maaf relatif lebih sulit daripada meminta maaf. Namun di situlah justru letak keutamaan dan keistimewaannya. Berangkat dari sabda bijaksana, “Afdolul-a’malu-ahmaazuhaa”, afdol keutamaan amalan adalah yang paling berat untuk dilaksanakan.

Jika mampu memberikan permaafan tanpa diminta, berarti kita bisa meneladani syariat Rasulullah Muhammad. Sebagaimana kita tahu, beliau sungguh pemaaf, bahkan kepada orang-orang yang sengaja meludahinya dan berencana membunuhnya. Amalan berat memberi permaafan ini sekaligus akan membuktikan seberapa baik kualitas iman kita kepada ajakan RasulNYA.

Pembaca tentu tahu, bahwa pertengahan Sya’ban dikenang kaum muslimin sebagai peristiwa bersejarah, saat bergantinya kiblat sholat dari Baitul Maqdis kembali ke arah Ka’bah. Mungkin saat ini kita bisa menceritakannya dengan mudah, tapi buat pengikut Rasulullah, saat itu mungkin hari syukuran sekaligus ujian keimanan.

Kita tentu sulit membayangkan, bahkan mungkin akan kasak kusuk rasan-rasan “Rasulullah itu plin-plan”. Bagaimana tidak, setelah sempat pindah kiblat, lalu tiba-tiba turun wahyu pindah orientasi kiblat lagi.

Beberapa riwayat mengisahkan, perpindahan kiblat itu terjadi pada saat rukuk sholat. Sehingga menjadikan kekikukan buat orang yang ragu-ragu dan justru menjadikan ketebalan iman bagi pengikut sejati Rasulullah. Hal ini diceritakan Al Quran:

“Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (ummat Islam) dari qiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?”. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot”.
(QS. Al Baqoroh : 142 – 143).

Maka jika kita belum sampai diuji sedemikian berat seperti peristiwa perpindahan kiblat itu, cukuplah kita praktik ujian memberi maaf dulu. Peristiwa nisfu sya’ban bisa dijadikan persamaan waktu ujian. Niat menapaktilasi hari pertengahan Sya’ban, mari kita jadikan semangat menyedekahkan permaafan dan kerelaan. Dari sini, iman kita akan terbukti, bukan cuma klaim saja.

Pembaca, semua hari diciptakan Allah sesuai kodrat baiknya. Tidak ada dikotomi “hari baik vs hari buruk”. Saya menuliskan pesan nisfu sya’ban tidaklah bermaksud mengintimewakan hari ini dan merendahkan kebaikan hari lainnya.

Akan lebih afdol jika tiga pesan tadi diamalkan setiap hari sebagai bekal persiapan mati, tidak khusus hanya pada pertengahan sya’ban saja. Kalaupun tulisan ini muncul bertepatan pesan nisfu sya’ban, anggap saja sebagai pengingat persiapan Ramadhan.

Semoga kita semua berpuasa mencegah diri dan keluarga dari perbuatan dosa pada hari ini dan seterusnya nanti. Bagi puasawan/puasawati, jika hari ini kita kuatir dianggap puasa bid’ah, niati saja puasa Kami sunnah. Buat pembaca yang tadi malam belum kebagian malam nisfu sya’ban, masih ada malam-malam lain yang afdol untuk perenungan.

Malam nanti, malam Jumat, kiranya afdol untuk kita mengamalkan sholat taubat dan atau renungan akhir pekan. Sedulur pecinta Al Quran, semoga mampu memaknai pertengahan sya’ban dengan banyak-banyak praktik amalan untuk manfaat keumatan, selain amalan baca Yaasinan.

Bismmillaah bi Ayyaamillaah, hari ini dan seterusnya nanti, kita niatkan nisfu sya’ban sebagai revolusi perubahan menuju kebaikan. Aamiin.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s