Doa Panjang Usia

Di sebuah panti werdha yang menjadi sarana latihan para santri dalam praktik layanan filantropi, terdapat puluhan wanita lanjut usia dari berbagai penjuru Indonesia. Mereka berdatangan dengan beragam persoalan yang diakibatkan penelantaran dan problem sosial lainnya.

Beberapa hari lalu, panti ini menerima klien baru, seorang nenek yang berusia hampir 80 tahun. Ia diserahkan oleh serombongan tamu dari Jakarta yang menemukannya telantar di area Sunda Kelapa.

Sewaktu pertama datang, ia bercerita tentang keluh kesah hidupnya yang jarang merasakan enak. Cerita bermula dari keluarga yang satu persatu meninggalkannya hingga nasib membuatnya telantar di ibukota. Sampai kini di asrama, ia lebih banyak berdiam di pembaringan untuk mendapatkan perawatan.

Untuk jalan ke kamar mandi, ia harus didampingi dua orang santri putri plus bantuan tongkat berkaki empat (walker). Tulang dan otot raga yang sekian lama dimakan usia tak memungkinkan nenek ini bisa berjalan sendiri.

Sering tanpa disadarinya, ia beser ngompol di tempat tidur sehingga para santri pendamping harus mencuci ranjang, selimut, bantal dan juga kasurnya. Itu belum termasuk gejala pikunnya yang acapkali kumat-kumatan, terutama ketika berhadapan dengan jadwal makan.

Ngakunya belum makan padahal sudah dua kali disuapi sepiring nasi. Untunglah, para santri pendamping (care giver cadre) mampu melayani lansia ini dengan kesabaran hati, ketulusan perasaan dan penuh pengertian.

Menariknya, meski cerita dunia yang ia jalani penuh penderitaan dan kini sering merepotkan orang akibat keterbatasan fisik/mentalnya, ia masih memiliki obsesi tinggi.

Diantaranya, saat ia ditanyai apa ritual doa yang menjadi penguatan asa hidupnya ke depan, ia menjawab mantap, “Saya selalu berdoa agar umur saya dipanjangkan lebih lama.” Ia hanya tersenyum ketika ditanya alasannya menginginkan umur panjang. “Saya dulu sering diajari doa itu,” ucapnya lugu.

Mungkin terlewat di pikiran nenek ini, dengan kondisi fisiknya yang terus aus dan perawatannya yang butuh sumber daya ekstra, panjang umurnya hanya akan mendatangkan tambahan ketidakenakan bagi dirinya sendiri.

Walau mungkin doanya berangkat dari harapan suatu saat ia menemukan bahagia di sisa usianya. Tapi yang mungkin ia lupa, bahwa keadaannya saat ini yang dirawat para santri adalah “bahagia” yang mesti disyukuri, sehingga ia harus mendamba panjang usia demi obsesi bahagia lainnya di dunia.

Apa yang dialami nenek penghuni panti werdha ini bisa terjadi juga di sekitar lingkungan kita. Mereka yang terobsesi panjang umur hidupnya di dunia untuk mengejar kenikmatan yang sesungguhnya penuh ketidaknikmatan, mendamba bahagia yang sebenarnya adalah sengsara, memimpikan kebebasan yang sejatinya penuh ketidakbebasan.

Mereka yang lupa bahwa rumus dunia, segala sesuatu dibatasi fana dimensi ruang dan waktu. Sehingga jika mengharap hidup lebih lama, 120 tahun atau lebih misalnya, sama saja dengan menyiksa fisik dan mentalnya yang terbatas masa pakainya.

Mengamati fenomena ini, mari belajar kepada Rasulullah, guru hidup kita semua. Pernah pada suatu hari, beliau menggambar garis lurus horizontal dengan deretan garis-garis tegak vertikal yang memotong garis horizontal itu.

Rasulullah menjelaskan, garis lurus horizontal itu adalah obsesi mimpi dan angan-angan panjang rencana manusia dalam menjalani hidup di dunianya. Sedangkan garis tegak vertikal itu adalah kepastian Allah yang akan mencegat rencana dan mimpi-mimpi tadi. Cegatan itu bisa berupa sakit, bencana, kendala tiba-tiba, atau kematian yang tak pernah diperkirakan.

Persis gambaran Rasulullah itu, kebanyakan manusia tidak tahu, bahwa panjang angan-angan merupakan jebakan keduniawian. Seringkali kita luput, bahwasanya obsesi yang tidak dibarengi bimbingan ilahi, akan melupakan kita pada cegatan-cegatan kepastianNYA, terutama kematian. Tergiur panjang obsesi itu, kita loba mencintai dunia, lupa mempersiapkan bekal hidup di akhirat.

“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka seloba-loba manusia kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Dan Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah : 96). y

Berkaca dari ayat ini, perlu kita berhati-hati bila menginginkan panjang usia di dunia. Karena obsesi yang menginginkan panjang usia disebut Al Quran sebagai sifat “manusia terloba”. Juga, kalaupun dikabulkan obsesi panjang usia itu, tidaklah menjamin hidup bakal bernasib baik.

Sebagaimana yang dialami nenek tadi, rasa loba hidup lebih lama di dunia malah akan menyiksa jasad fisik dan kemampuan mentalnya. Percuma panjang usia jika itu malah mendekatkan kita pada cinta dunia dan lupa akhiratNYA.

Maka sebagai antitesa “doa minta panjang umurnya”, kepada para penguni panti werdha, termasuk nenek tadi, para pendamping selalu mengajarkan “hidup bermanfaat, mati beristirahat”. Biasanya doa yang dibacakan bersumber dari hadis berikut ini. Kepada para pembaca, saya berharap Anda semua mau dan mampu memaknai doa hadis ini.

Dari Abu Hurairah dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa sebagai berikut: “Allaahumma ashlih lii diiniilladzii huwa ‘ishmatu amrii, wa ashlih lii dun-yaayallatii fiihaa ma’aasyii, wa ash-lih lii aakhirotiillatii fiihaa ma’aadii, waj’alil hayaatan ziyaadatan lii fii kulli khoirin, waj’alil mauta roohatan lii min kulli syarrin”

[Ya Allah ya Tuhanku, perbaikilah bagiku agamaku sebagai benteng (ishmah) urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku! Jadikanlah ya Allah kehidupan ini mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan jadikanlah kematianku sebagai istirahat dari perilaku jahat/maksiat!] (HR. Muslim no. 2720)

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s