Bertepuk Cinta Sebelah Dunia

Sudah menjadi rumus dunia bahwa segala sesuatu yang ada di kehidupan muka bumi ini pasti berakhir karena dibatasi masa berlakunya. Semuanya bersifat sementara dan akan dihentikan paksa oleh jatah usia sebagai konsekwensi takdir fana dunia.

Apapun, baik itu kesenangan, cita-cita, karir, kebanggaan, mimpi, obsesi, kebebasan, kenikmatan, cinta, keluarga, jabatan kedudukan, kepemilikan materi hingga hobi berkuasa, semuanya akan sirna pada waktunya.

Romantika dunia itu banyak memunculkan kisah tragis berurai tangis di saat manusia ditinggalkan dunia, justru ketika mereka sangat bernafsu memuaskan syahwat dan cinta dunianya.

Banyak cerita mengemuka diantara keluarga atau kenalan kita, tentang ketidaksampaian harapan-harapan seseorang karena dicegat kematian yang mendadak datang. Dalam agenda obsesinya, masih terdapat ribuan pekerjaan atau jutaan rencana yang belum diselesaikannya.

Akibat kesalahan mengira bahwa ia bakal hidup selamanya, maka cinta dunianya berlipat rasa. Segala kepemilikan tenaga, fikiran, harta dan waktunya ia tumpahkan untuk fokus menghidupi dunia.

Ia berharap cintanya kepada dunia akan berbalas cinta serupa. Namun belum sampai semua hasrat yang diidamkannya tiba, takdir dunia fana mendadak meninggalkannya. Cintanya terhadap dunia bertepuk sebelah rasa. Dunia menolak cinta manusia ini karena dunia memang sengaja dicipta untuk “hanya menggoda”.

Tragedi “bertepuk cinta sebelah dunia” ini kembali menghadirkan cerita ketika kemarin seorang tetangga wafat tiba-tiba. Sebutlah namanya si Fulan.

Sebagai buruh tani di desa, hidupnya luar biasa bertenaga dalam mengejar cita-cita bahagia di dunia bersama keluarganya. Berbekal obsesi tinggi, ia bekerja full time sepanjang 50 tahunan usianya. Kulitnya legam dan tapak kakinya menebal karena dari atas terpanggang panas, dari bawah tersaruk bumi setiap hari.

Keringat kerjanya terbayar dengan hasil semua anak-anaknya telah berkeluarga dan hidup berstandar cukup. Walau untuk mencapai itu, resiko kesehatan ia pertaruhkan dan asupan ruhaninya terabaikan. Ritual agamanya, ia akui, sering absen karena habis tersita untuk kerja.

Dari apa yang ia cita-citakan, satu hal yang membuatnya lumayan bahagia. Adalah anak keduanya yang bekerja di kota sebagai pengasuh panti asuhan anak-anak. Dalam waktu singkat, anaknya ini mampu membeli sawah, petak pekarangan, dan membangun rumah mewah di tepi jalan arteri.

Setiap pulang kampung, kendaraan yang dibawa berganti-ganti. Walau tetangga kanan kirinya mencibir dan bergosip tentang pameran “kecepatan hasil kerja” anaknya, si Fulan ini acuh saja menjalani hidupnya. Setiap hari ia mengunjungi petak-petak sawah sekaligus merawati rumah mewah yang belum ditempati anaknya hingga kini.

Kisah indah itu berakhir antiklimaks ketika si Fulan ini meninggal dunia setelah beberapa hari mengalami koma. Ia harus masuk ruang ICU rumah sakit akibat ditabrak sepeda motor. Tragisnya, ia mendadak tertabrak persis di tepi jalan, beberapa meter dari rumah mewah anaknya.

Ia baru saja membersihkan halaman rumah sebagaimana biasa rutinitas paginya sebelum berangkat ke sawah. Beberapa saat sebelum wafat, diantara sadar dan komanya, si Fulan terpantau menitikkan air mata. Ketika keluarga berebutan mendekatinya, ia sempat berkata , “Aku njaluk sangu.”

Saya, tetangga dan kerabat dekat menerjemahkan pesan ini sebagai permintaan si Fulan agar ia disangoni dengan cara disedekahi sebelum mati. Namun keluarganya punya tafsiran lain sehingga dengan rasa eman, mereka pun beriuran “recehan” untuk sedekah ke tetangga duafa seadanya saja.

Dibanding besaran penghasilan anak-anaknya, jumlah sangu sedekah yang diatasnamakan si Fulan memang terasa kurang. Tapi karena –mungkin– dibelit cinta dunia dan berat berderma, anak-anaknya rela bila si Fulan, bapaknya, nekat berangkat ke akhirat dengan bekal sangu darurat.
Apa yang dialami si Fulan sungguh memprihatinkan. Ia perjuangkan anak-anaknya dengan cinta dunia agar bahagia bersama keluarga. Ia tempuh resiko meninggalkan agenda ibadah ritualnya demi obsesi yang diidamkannya. Tetapi ketika bahagia dunia itu diraih anak-anaknya, justru mereka yang kemudian mengabaikan permintaan terakhirnya.

Ketika ia sadar butuh disangoni untuk bekal hidup di akhirat nanti, dan ia berharap anak-anaknya mau menalangi, ternyata ‘rasa sayang dunia’ menghalangi nurani anak-anaknya.

Wallaahu ‘alam dengan nasib si Fulan. Tapi jika berhitung amalan standar kaum beriman dan melihat rekaman pola hidup beragamanya, cerita si Fulan cukup memprihatinkan. Ia tercatat sempat sholat di hari Jumat dan beberapa kali edisi Idul Fitri plus sholat jenazah untuk tetangga yang mati.

Entah upah pahala apa yang bakal si Fulan dapat di kehidupan akhirat. Tapi yang pasti, upah dunianya sudah ia bawa: yakni dunia dan keluarga yang dicintainya dengan segenap jiwa, raga, harta, pikiran dan waktunya, ternyata “tidak balas budi mencintainya”.

Dunia dan keluarga yang dicintainya telah “mengusirnya”. Si Fulan pergi membawa penasaran akibat tumpukan mimpi dan obsesi yang belum terpenuhi plus pesan-pesan yang tidak kesampaian. Apa yang dialami si Fulan, saya yakin, banyak terjadi di level kehidupan berbeda di sekitar lingkungan kita.

Misalnya, nasib seorang calon pejabat yang kini koma akibat kalah lomba pilkada. Dunia yang ia idealkan ternyata tidak menghendaki nasib baiknya. Ia pun terjatuh stroke hingga koma akibat ngeslong meratapi kegagalannya. Ia begitu mencintai dan terobsesi “menikahi” karir dunia sampai berkorban segala kepemilikannya, namun dunia membalas begitu kejamnya.

Seorang artis yang hidupnya hampir sempurna: muda, kaya, altletis, politisi, dan digandrungi para penggemarnya. Namun cerita hidupnya berurai kontroversi: keluarganya tersangkut korupsi dan perkara asusila.

Cinta dunia berlebihan seringkali berujung drama elegi dan roman tragedi. Akibat tidak ingat nasib akhirat, syahwat dunia diperturutkan saja sepuasnya. Lalu dengan segala kefanaannya, dunia meninggalkannya, dan di akhirat tidak memperoleh apa-apa selain sesal kurang sangunya.

Cerita “obsesi cinta dunia” dan “ingin enak segera” ini terus saja berulang hingga sekarang. Sehingga sampai terjadi kasus dugaan korupsi pengadaan kitab suci dan penilepan uang jamaah di rumah-rumah ibadah. Malangnya, modus anomali ini dilakukan para cendekia yang mengaku ahli agama.

Maka betullah sabda bijak, bahwa jika kita terlalu loba mencintai dunia, ia akan meninggalkan kita dalam celaka dan sengsara. Sudahlah di dunia bernasib pilu dan terkadang mendapat malu, vonis hukuman akhirat bakal menunggu.

Akhir kisah manusia ini seringkali merana nasibnya, karena obsesi cinta yang terenggut paksa. Lalu karena dunia tidak membalas cintanya, sementara di akhirat ia terancam kehilangan jatah bahagia akibat lebih memilih cinta dunia.

Semoga saja saya dan kita semua tidak mengulangi cerita yang sama. Jangan sampai kisah si Fulan dan tragedi cendekia agama “tersangka korupsi” terjadi lagi.

Sangat disayangkan jika kita terobsesi mencintai 1 % enak dunia hingga mengabaikan syariatNYA dan gagal meraih kesempatan berderajat 99 % untung akhirat. Nasib dunia diupahi lelah saja, nasib akhirat berujung siksa.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s