Surganya Siapa?

Bagi sedulur yang membiasakan ibadah Yasinan, mudah-mudahan Anda paham bahwa di ayat 20-27 terdapat hikayat tentang seorang pria yang dipersilakan memasuki surga –beberapa versi tafsir mengidentifikasi pria ini sebagai Habib An Najjar–.

Nasib baik yang membawa pria ini kepada ampunan dan ridhoNYA adalah karena dia wafat saat berjihad mencerdaskan umat. Habib An Najjar dibunuh kaumnya setelah dia gigih menganjurkan kaumnya agar mengikuti ajaran Rasul. Surat Yaasin memberitahu kita bahwa pengorbanan setara Habib An Najjar inilah yang sepantasnya diganjar surga.

Pertanyaannya sekarang, apakah kita berani menapaktilasi kisah lelaki dalam Surat Yaasiin ini untuk mendapatkan hadiah serupa? Baiklah, jika memang kita percaya bahwa jalan menuju surga bisa dicapai lewat beragam cara, sudah sebandingkah cara yang kita tempuh untuk mengklaim surga itu dengan ikhtiar Habib An Najjar?

Sebagai tambahan referensi, mari kita kaji surat gugat berikut ini: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah:214)

Ayat tersebut menggugat keterlenaan kita yang sesukanya mengklaim surga sebagai hak kaum beragama. Melalui ayat itu, Allah mempertanyakan keyakinan kita yang narsis mengira akan masuk surga berombongan dan gratisan bersama keluarga tanpa ujianNYA. Ternyata, Allah menegaskan bahwa surga harus ditebus dengan harga khusus.

Surga yang penuh ampunan dan ridhoNYA tidak bisa dimasuki cuma-cuma dan seenaknya saja. Ada syarat yang mesti dipenuhi dan ketentuan yang diikuti. Syarat dan ketentuan yang sama berlaku untuk mujahid terdahulu.

Syarat surga itu ialah harus mau dan mampu melewati ujian (diantaranya) kemiskinan, kekurangan, keterasingan (Al Ba’sa) serta kesakitan yang teramat berat hingga ancaman kematian (ad-dlorro’). Selanjutnya harus berani menghadapi berbagai goncangan fitnahan, penentangan, dan serial ujian yang menakutkan (az-zalzalah).

Sebagaimana diceritakan dalam hadis sahih, dari Khabab bin al-Arit, dia berkata: “Wahai Rasulullah s.a.w., mengapa engkau tidak memintakan tolong untuk kami, mengapa engkau tidak berdoa untuk kami?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya orang-orang sebelum kamu (ujiannya adalah) ada yang digergaji dan terbelah kepalanya hingga diantara kedua kakinya, tapi hal itu tidak memalingkan dari agamanya. Ada pula orang yang tubuhnya disisir besi hingga dagingnya terkelupas dari tulangnya, namun hal itu tidak memalingkan dari agamanya.” Beliau kemudian melanjutkan, “Demi Allah sesungguhnya Allah benar-benar akan menuntaskan perkara ini sehingga seorang penunggang yang berjalan dari Shan’a ke Hadhramaut tidak merasa takut kecuali kepada Allah, dan serigala hanya mengkhawatirkan domba mangsanya. Namun kalian adalah kaum yang terburu-buru (tidak sabaran).”

Hadis yang mengiringi surat Al Baqoroh 214 ini menambahkan pengertian bahwa saat mematuhi “syarat & ketentuan” surga, berupa ujian yang menggoncangkan iman, kita harus tetap sabar menunggu pertolongan tanpa nyolot keluhan. Sabar bermakna, tidak boleh menyegerakan harapan pertolongan Tuhan dengan nafsu ketergesaan.

Nah, faktanya bila kita sedikit atau sebentar saja diuji ketidakenakan, maka doa-doa pun kita segerakan. Seolah, Tuhan kita “paksa” untuk mengabulkan secepatnya, tak boleh sesaatpun ditunda.

Jika berkaca pada kisah Habib An Najjar, ayat gugat Al Baqarah ayat 214, dan hadis di muka, layakkah diri kita mendapatkan surgaNYA? Masih patutkah kita mengklaim surga jika membandingkan keringanan ibadah yang kita lakukan dengan perjuangan mati-matian dalam kisah Sirah Nabawiyah?

Bila para Rasul, sahabat, tabi’in, dan mujahid berjuang penuh pengorbanan sampai rela menukar nyawa untuk masuk surgaNYA, maka dengan hanya mengandalkan ritual kewajiban (syahadat, sholat, puasa, zakat, gelar haji+ahli mengaji), surganya siapa yang nanti kita masuki?

Pertanyaan gugat tentang “klaim surga”, sangat relevan kita suarakan mengingat maraknya warga atau jemaat komunitas beragama yang secara gampangan meyakinkan dirinya bakal masuk surga. Hanya dengan rajin menyanyi “lagu Islami”, surga sudah diklaimnya. Berbekal dalil “ganjaran”, surga cukup dibarter dengan amalan-amalan yang ringan dan bisa ditunaikan secara “cicilan kapan-kapan”.

Harga surga lainnya, bisa ditebus dengan lantunan lirik pujian tiap pekan, amalan wiridan, kalaupun tak punya simpanan amalan, cukup minta “syafaat” di hari pembalasan. Begitu enak dan gampang, bukan?

Pertanyaan gugat selanjutnya, jika para pendahulu itu mendapatkan surga dengan cara bersusah payah, lalu kita mau masuk surga yang sama tapi dengan ikhtiar enak-enakan saja, “apakah karena beliau-beliau itu “hamba tirinya” Allah sedangkan kita ini “hamba emasnya” Allah??

Rasulullah Ibrahim yang dibakar api dan diuji sedemikian beratnya, Nabi Musa yang keluar dari istana dan menjadi penggembala sambil dikejar-kejar Firaun, Ibu Masyitah yang direbus dalam belanga beserta keluarga, Ibu Mariyam dan Nabi Isa yang mengembara berdakwah hingga tak sempat bikin rumah, Ibu Khadijah yang berjihad sampai wafat dalam tenda pengasingan darurat, Ibu Fatimah yang tak pernah kenyang dan senantiasa bersahaja dalam hidupnya, dan Rasulullah Muhammad yang terbiasa berani hidup penuh keterbatasan karena mendahulukan prioritas perjuangan.

Beliau-beliau ini teruji mampu melewati bahaya malapetaka (Al Ba’sa), ujian kesengsaraan (ad-dlorro’) dan tes kegoncangan (az-zalzalah) di dunia untuk memperoleh ridho serta ampunan surgaNYA. Harga tiket masuk surga dibeli dengan pengorbanan harta, tenaga, fikiran dan nyawa.

Sedemikian mahal ongkos surga, sehingga beliau yang sudah berkategori Rasul-Nabi masih perlu berkurban seluruh kepemilikan. Rasulullah Muhammad yang hidupnya dijamin “otomatis” surga oleh Allah saja, sampai wafat masih tetap bertirakat kuat dan bersemangat jihad demi kesejahteraan umat.

Lalu kita yang manusia biasa, amalan ya baru begini-begini, belum sampai berkurban harta sampai habis, belum melewati bahaya sengsara, belum mengalami ketakutan dan goncangan, belum siap menghadapi ujian kemiskinan, terutama ketika berjihad membimbing umat, lha kok sudah percaya akan masuk surga?

Belum pernah diuji seberat sahabat, belum dites seperti Rasul Nabi, belum diancam kematian sebagaimana Habib An Najjar, kok sudah nekad mengklaim surga sebagai hak kita?

Hanya dengan rajin membaca atau hafal mushaf Al Quran, wiridan lisan, puja-puji sholawat Nabi, menjadi politisi “Islami”, berstatus santri, bergelar wak yai atau wak kaji, berprofesi ustadz, pegiat ma’had, pedagang syariat, lalu karena surga kita anggap warisan orang tua, sehingga kita bisa melenggang saja masuk seenaknya.

Surga berisi ampunan dan ridhoNya yang bernilai sangat mahal cukup kita tukar dengan modal status sosial dan ritual formal. Begitukah?

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s