Samara, Bercinta Dua Dunia

Apa yang diharapkan sepasang istri dan suami ketika mulai membina rumah tangga? Jawaban mayoritas tentu saja, bahagia. Biasanya, standar ukuran bahagia tidak jauh-jauh dari seputar kecukupan materi dan pemenuhan kebutuhan jasmani.

Sebagai asupan energi ruhani, diagendakanlah dalam setahun sesekali rekreasi. Syukur lagi jika bisa melebihkan pendapatan, sehingga kebutuhan di masa depan bisa disiapkan dan keberlanjutan kekeluargaan terjamin aman.

Diantara mempelai muslim kini menggejala kata “Samara”, kependekan dari istilah “sakinah mawaddah wa rahmah”. Ucapan selamat berisi asa dan doa tersebut biasanya diberikan pada pasangan yang akan berduaan di pelaminan.

Harapan yang terkandung dalam ucapan itu adalah bahagia karena berseparuh agama, berkumpulnya dua cinta, dan keberkahan kasih Ar-Rahman. Ideal doa selamat “Samara” semestinya berkaca pada keluarga agama sebagaimana telah diteladankan para RasulNYA.

Mari menengok beberapa potret keluarga Samara lewat kisah-kisah teladan dalam Al Quran. Ada contoh keluarga Khalilullah Ibrahim a.s yang beristrikan Ibunda Sarah dan Ibunda Hajar (versi Qishashul Anbiya karya Ibnu Katsir, ada istri ketiga Qanthura dan keempat Hajun).

Lihatlah betapa proses liku ikhtiar Samara yang mereka tempuh sangat berat. Bagi keluarga mulia ini, pernikahan adalah misi ilahi, bukan sekadar pemenuhan libido ragawi. Membina rumah tangga adalah pekerjaan agama yang butuh pengorbanan rasa dan daya tahan ujian sepanjang sisa usia. Kualitas iman seperti ini yang menjadikan Sarah berani berbagi cinta dengan tiga istri lainnya.

Sakinah diterjemahkan sebagai tindakan ikhlas, tenang, nriman, nyaman, dan mantap menghadapi pilihan ujian kehidupan yang telah ditetapkan. Walaupun Ibrahim diperintah Allah meninggalkan cinta istri dan putera yang masih bayi di gurun asing tanpa penghuni, beliau tenang menerima perintah itu. Meski sempat bertanya kepada suaminya apakah ini perintah Allah, Ibunda Hajar akhirnya tegar melepas suaminya tercinta, menjalani misi ilahi selanjutnya.

Sikap sakinah Hajar melahirkan kehormatan mawaddah yang berdimensi duniawi-ukhrowi. Beliau percaya bahwa keputusan Ibrahim a.s adalah demi cinta mereka berdua yang akan abadi hingga di akhirat nanti. Begitupun, sikap sakinah Ibrahim yang meninggalkan anak istri di antara Shafa-Marwa, adalah karena beliau berharap, kalaupun mereka tidak lagi bertemu di dunia ini, cinta ilahiah-lah yang akan menyatukan mereka dalam ridho dan ampunan di akhiratNYA.

Terbukti kemudian, hikmah sikap mawaddah mereka mengucurkan hadiah rahmah berupa sumur zam-zam yang bisa kita nikmati hingga hari ini.

Pada kisah penyembelihan Ismail, cinta Ibrahim dan Hajar pada putera satu-satunya, kembali terbukti berkualitas “Samara” sesungguhnya. Beliau beserta sekeluarganya adalah figur sakinah, maka ujian pengorbanan itu diterima tanpa ragu. Diyakini semangat menggebu mawaddah, Ibrahim beserta istri dan puteranya percaya, bahwa cinta mereka yang berlebih kepada Allah (asyaddu hubba lillaah) dengan bukti kepatuhan, akan bisa mengikat cinta keluarga mereka hingga ke akhirat selamanya. Hadiah rahmah pun kembali hadir dengan tradisi kurban domba sebagai gantinya.

Pilihannya jelas, memilih menolak perintah Allah yang berarti cinta mereka hanya akan berhenti di dunia, atau mantap menjalankan perintahNYA dengan kompensasi cinta mereka abadi. Keluarga samara Ibrahim mengajarkan bahwa semangat cinta idealnya berdimensi ilahi, sehingga akan terus terbawa sehidup sekembali (di akhirat nanti), bukan cuma sehidup semati (hanya sampai di dunia ini).

Keluarga samara ini tak kenal tetek bengek pre-wedding. Konsultan pernikahan mereka adalah Allah semata. Tidak ada prosesi pora atau rekaman lensa yang mengabadikan akad jihad mereka. Tidak ada ritus tepuk tangan atau tradisi penyematan cincin pernikahan. Cukup doa restuNYA dan disaksikan semesta, keluarga samara Ibrahim selalu berikrar iman Haqqul Yaqin, “Aslamtu li robbil ‘aalaamiin”.

Lalu ada cerita keluarga samara Ibu Masyitah pada jaman Fir’aun di Mesir. Kisah ini menunjukkan keperkasaan seorang perempuan sekaligus bukti keberanian “beriman tanpa ragu” kaum ibu. Masyitah mampu meyakinkan keluarganya untuk bersama memasuki rebusan panas air belanga demi keteguhan ideologi yang mereka imani. Sakinah Masyitah mewujud dalam sikap mantap, tenang dan tidak takut menghadapi ancaman maut.

Beliau sekeluarga merasa terhormat dengan pilihannya, lebih baik wafat dalam jihad daripada hidup tanpa ridho ampunanNYA. Mawaddah rindu menggebu ingin segera bertemu Allah, menaikkan nyali keluarga Samara ini. Sehingga saat Masyitah hendak bimbang memasuki belanga ketika melihat bayinya, sang bayi pun segera bersuara, “Teruskan langkahmu Ibu, jangan kasihani aku, kita sudah benar berada di jalan keselamatanNYA.”

Allaahu Akbar, rahmah pun hadir, manakala dalam Isra’ Mi’raj, Rasulullah Muhammad mencium bau harum yang bersumber dari makam keluarga pemberani ini.

Pada kisah Rasulullah Muhammad SAW beserta keluarga, banyak berserak cerita Samara yang bisa kita baca. Bahwa pencapaian menuju kualitas keluarga Samara tidaklah mudah. Ia harus dijalani dengan tes uji dan serangkaian pembuktian. Berkaca dari keluarga samara para Rasul ini, rata-rata kisah mereka diwarnai keprihatinan dan pengorbanan. Ibu Khadijah yang wafat di tenda darurat, keluarga Rasulullah yang terbiasa hidup sederhana, bahkan sering kekurangan makanan karena lebih mengedepankan prioritas perjuangan keumatan.

Beliau-beliau ini sadar bahwa di dunia memang tempatnya ujian, maka semua itu dijalani dengan kemantapan. Inilah esensi fid dunya hasanah, menaati perintah Allah seberat apapun, mengikuti tes sengeri apapun, tetap dengan hasanah kenikmatan. Diuji sabar sampai mati, beliau-beliau ini sanggup menghadapi.

Beliau-beliau ini meyakini, cinta keluarga tidak boleh hanya sampai dunia saja, harus dibawa hingga ke akhiratnya. Keluarga mesti berani berpahe-pahe di dunia, berkorban kepemilikan untuk ditasarufkan, agar di akhirat cinta mereka dipertemukan kembali.

Saya tidak bisa membayangkan betapa perkasa hati Ibu Hajar yang merelakan puteranya hendak dikurbankan. Saya hanya bisa menangis jika mengingat betapa sulit perang batin manusiawi Rasulullah Ibrahim ketika diuji Allah seberat itu. Saya tertegun diam ketika melihat potret samara sebagaimana diteladankan Ibu Masyitah sekeluarga.

Juga figur teladan keluarga samara Rasulullah Muhammad, sebuah ideal kehidupan yang kita percaya kualitas kebaikannya. Beratnya bercinta samara ala beliau ini, untungnya dibimbing penuh oleh Allah masa duniawi-ukhrowi.

Maka bila merenungi itu semua, saya selalu berharap semoga saja para mempelai tetap berani dan masih bernyali menapaki ideal cerita keluarga Samara.

Pastinya, gaya keluarga Samara para RasulNYA jauh dari ideal impian banyak manusia: prosesi bertemu pasangan sudah menyalahi aturan keislaman, jadi keluarga muda foya-foya (entah hasil kerja halal atau illegal), masa tua pensiun menikmati hasil kerja dan kaya, lalu ketika mati membawa tiket cuma-cuma masuk surga.

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s