Sehari Disandera Tivi

Kolom Lentera – Surabaya Post, Kamis (17/5/2012)

Hari ini, seorang rekan mengawali pagi dengan berbagi kabar gembira via status jejaring sosialnya. Ia menuliskan kebersyukuran setelah dalam kurun enam tahun bersama keluarga kecilnya mampu melewati hari-hari tanpa menyalakan tivi.

Menurut saya, ini capaian luar biasa. Mereka bisa bertahan selama itu, memalingkan mata dari “ngeri-ngeri sedap”nya godaan pesona layar kaca, di tengah arus kuat masyarakat yang justru sedang terobsesi dan menggandrungi tivi.

Saya pernah berhitung sederhana mengenai perbandingan sisi manfaat dan aspek mudharat dari media elektronik ini. Sampai saat ini, hasilnya masih relatif unggul mudharatnya daripada manfaatnya.

Sehari saja, mari kita coba rinci bersama. Biasanya pagi-pagi tivi memulai penampilan dengan acara berita, sebagiannya berinisiatif menayangkan ceramah agama.

Berita –setidaknya saat ini– masih memposisikan pemirsa lemah di haknya, misalnya untuk sekadar berfikir faktual, netral dan imparsial. Apalagi di komunitas desa yang miskin literasi seperti lingkungan saya ini, karakter masyarakatnya nyaris rubuh-rubuh gedang saja.

Kemana agenda setting yang disetir opini berita tivi, ya itu yang sekarang dibicarakan di kursi warung kopi dan ruang-ruang keluarga rumah tangga. Mudharat? Semua sudah tahu. Manfaat? Belum tentu.

Belum lagi bila ada sindikasi tivi yang terindikasi membawa kepentingan induk pemodalnya. Pemirsa seolah disandera, cuma bisa melongo diajak menyalahkan-membenarkan tanpa tahu fakta persoalan.

Padahal jika bicara tuntutan tanggungjawab sosial dan moral, sudah jelas Allah memberi peringatan tegas, “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya”. (QS. Al Isra’ : 36).

Saat memirsa berita, telinga-mata-hati pemirsa sudah pasti dipengaruhi emosi dan sugesti. Filter perasaan dan standar kebenaran-kesalahan, dimainkan media dengan egonya. Boro-boro pemirsa mikir tuntuntan pertanyaan di akhiratnya atau kuatir terkena dosa, lha menghitung resiko dunia saja kadang mereka lupa.

Enak saja lisan kita ngember ikut berita, menyumpah-serapahi sana-sini tanpa menimbang resiko disomasi obyek berita yang merasa tidak terima pencemaran “nama baiknya”.

Akibat sihir sugesti “cahaya & lensa” redaksi tivi, kita disirep ikut manggut-manggut, menggeleng, merengut, bergumam, menangis, marah, dan tertawa, entah untuk dukungan permainan apa.

Mau mengandalkan ceramah agama sebagai piranti pengontrol pemirsa? Pasti, jauh panggang dari api. Selain kalah posititioning, kalah strategi prime-timing, juga kalah durasinya. Jujur saja, ceramah agama belum menempati rating tinggi dan agak kurang disuka pebisnis pariwara.

Ditambah materi ngaji yang condong menghibur, kurang berani mendakwahkan hal-hal jujur –karena kuatir membawa konsekwensi kehilangan pendapatan?? Kloplah sudah. Ceramah agama gelagapan mengimbangi subyektifitas acara berita, –alih-alih supaya pemirsa tak terkena dosa.

Itu baru hitungan dua jam-an, dimulai dari sajian menu acara tivi pagi hari. Sudah begitu banyak hitungan kemudharatan tivi yang perlu kita kuatiri. Berlanjut ke rating tinggi, musik dan sinetron misalnya.

Remaja-remaja yang mestinya usia produktif, tetapi setiap pagi disuruh mengitari penyanyi sambil melambai-lambai 4l4y. Kaum ibu seperti dicekoki sindrom kaum Moron dari jualan sinetron. Keluarga Indonesia diperkuda informasi selebriti yang rentan fitnah, rawan ghibah, dan berpotensi dosa namimah. Entah ke mana generasi ini nanti jika semuanya terobsesi jadi selebriti.

Di setiap acara hari itu, sudah mengintip iklan yang menawarkan cara enak instan dan konsumerisme profan. Anak-anak kita terkena dampaknya.

Sekadar perbandingan saja, dulu saat anak-anak, saya biasa ikhtiar mencari rejeki dan masak sendiri –seringnya di sawah–, sebagai bekal survival sekaligus pembelajaran tanggung jawab sosial. Anak-anak sekarang ini? Cukup lihat iklan makanan-minuman di tivi, lalu segera merengek manja, “Buk, belikan seperti yang di tivi ya?”

Anak-anak dipasung di depan tivi, celakanya kadang dipangku ibunya. Sehari itu, nyaris niraktifitas selain duduk malas di depan layar gelas.

Lalu tanpa filter yang memadai, anak-anak itu diperlihatkan erotisme ketelanjangan, dibiasakan konsumerisme berlebihan, dimanjakan berita kekerasan, diajari makian dalam kemasan “diskusi & perdebatan”, dihibur humor horor, dan sinema-sinema yang kurang sesuai batas logika usianya.

Akibat buruk bagi hubungan sosial, mereka kurang kenal lingkungannya, enggan menjamah sawah, lupa permainan tradisionalnya, karena waktunya habis tersandera tivi kesukaannya.

Tradisi membaca dan menulis di kalangan anak-anak kita pun memprihatinkan akibat hobi tivi ini. Belajar ke perpustakaan atau mendatangi pengajian merupakan fenomena langka dalam tradisi kebiasaan anak-anak kita –jika tak bisa dibilang sangat jarang.

Keprihatinan melihat tivi, rasanya seperti membuka kotak Pandora. Dari dalam kotak ajaib bernama tivi ini, berkelindan ancaman keburukan, penyakit sosial, wabah kekurangsyukuran dan keputusasaan.

Cenderung banyak suguhan yang membawa mudharat keburukan daripada manfaat harapan yang bisa dikeluarkan. Baru hitungan jam/harian, sedemikian banyak potensi kerawanan tivi yang bisa menyandera harmoni dan dinamika keluarga kita. Bagaimana kalau mingguan, bulanan, tahunan?

Sampai di sini saya jadi mengerti, kenapa keluarga rekan saya itu berani mematikan tivi sejak enam tahun lalu. Saya pun mulai memahami alasan KH. Misbach Bangilan, Tuban, dalam tafsirnya Al Iklil, begitu keras mengkritisi keberadaan tivi.

Setidaknya sampai suatu hari nanti, ketika tivi tidak lagi menjadi industri media yang berorientasi laba semata, menurut saya anjuran “hari-hari tanpa tivi” masih relevan kita amalkan demi rekatan kekeluargaan dan ikatan kebangsaan.

Apakah tivi seburuk itu dan sama sekali tiada manfaatnya? Tentu saja ada. Tetapi karena kurang waktu kita untuk mendampingi keluarga, kurang cakap memilah dan menyaring sajian acaranya, maka tivi dianggap lebih banyak mendatangkan kekhawatiran.

Mau berita bermutu? Mari mencari pemberitaan Hari Buku Nasional hari ini di tivi. Kalau tidak ada, berarti tivi kita kurang peka menyiarkan misi edukasi bangsa Indonesia.

Menurut saya peringatan Hari Buku itu lebih bernilai berita daripada ribut Lady Gaga, tetapi apakah itu sepadan dengan strategi industri tivi yang menganut rumus “bad news is good news”?

Jadi, apakah Anda bersama keluarga masih suka disandera dunia tivi setiap hari? Ataukah ingin menempuh ikhtiar “hari-hari tanpa tivi” seperti status syukur rekan saya pagi ini? Mau jadi apa anak-anak kita, diantara pilihan generasi bermental tivi atau generasi bertauhid ilahi, semuanya kembali ke ikhtiar kita sendiri.

Andalah yang berhak menentukan, pilih jadi korban persaingan pertivian, ikut latah ngerumpi urusan biduan, ataukah cerdas bersama keluarga menuliskan buku, mengunggah berita swadaya berisikan catatan prestasi harian tentang keakhiratan dan kabar kebersyukuran?

Tentang Gus Adhim

| gembala desa | santri pembelajar selamanya di SPMAA | hobi fotografi untuk aksi filantropi | enthusiast of ICT & military | gadget collector | pengguna & penganjur F/OSS | IkhwaanuLinux | writerpreneur | backpacker | guru bahasa & TIK | pekerja sosial profesional |
Pos ini dipublikasikan di AdhiMind. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s